KabarBaik, Banyumas– Saat bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 pada 2 Mei hari ini, sosok Umi Salamah menjadi salah satu inspirasi. Perempuan 66 tahun asal Desa Banjarsari, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas ini membuktikan bahwa dedikasi seorang guru bisa melampaui batas-batas formalitas.
Dengan mengubah rumah pribadinya menjadi pusat belajar, ia telah memberdayakan ribuan anak dan masyarakat selama lebih dari dua puluh tahun di bidang pendidikan nonformal.
Umi Salamah menjabat sebagai Kepala PKBM Tunas, sebuah lembaga yang ia dirikan dan kembangkan dari nol. Pengabdiannya mendapat pengakuan tertinggi ketika Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Anugerah Guru Indonesia 2025 kepadanya pada puncak peringatan Hari Guru Nasional November lalu. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen, inovasi, dan dedikasinya sebagai pejuang pendidikan nonformal dan pendidikan inklusif.
Kisah perjuangan Umi dimulai pada awal tahun 2000. Saat itu, ia melihat realita pahit di lingkungan sekitar: banyak warga yang masih buta huruf, anak-anak putus sekolah, serta kelompok rentan yang kesulitan mengakses pendidikan formal.
Dengan modal niat tulus, ia membuka pintu rumahnya untuk program Kejar Paket B. Langkah awal yang sederhana tersebut perlahan berkembang menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas yang kini telah terakreditasi. Seiring waktu, PKBM Tunas tumbuh menjadi ekosistem pendidikan yang lengkap.
Lembaga ini menyediakan berbagai layanan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kelas Paket A, B, dan C, hingga taman bacaan masyarakat. Tak berhenti di situ, Umi juga merintis layanan pendidikan inklusif berupa SLB untuk anak berkebutuhan khusus serta turut mendorong pembangunan Pondok Pesantren ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) di Banyumas.
Rumah sederhananyak ini bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan ruang aman dan nyaman bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.
Bagi Umi, peran guru jauh melampaui sekadar mengajar mata pelajaran. Ia kerap menekankan pentingnya keteladanan dan pembentukan karakter. “Pendidikan itu kunci, tapi pendidikan itu tidak sekadar mengajar, tapi mendidik. Guru itu harus mendidik mulai dari diri sendiri dulu,” tegasnya kepada awak media. Filosofi ini ia terapkan secara konsisten dalam setiap kegiatan di PKBM Tunas.
Pada saat menerima penghargaan dari Presiden Prabowo, Umi mengaku sangat tersentuh dengan pidato yang disampaikan. Ia melihat komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo semakin memperkuat upaya pengembangan pendidikan, termasuk jalur nonformal yang selama ini menjadi fokus pengabdiannya. Momentum tersebut semakin memotivasi Umi untuk terus melanjutkan perjuangan.
Di tengah peringatan Hardiknas 2026 yang mengenang jasa Ki Hajar Dewantara dengan semangat Tut Wuri Handayani, kisah Umi Salamah menjadi pengingat penting. Ia menunjukkan bahwa pendidikan merata tidak hanya tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan juga bisa lahir dari inisiatif masyarakat di tingkat desa.
Dedikasinya membuktikan bahwa guru hebat tidak selalu berada di sekolah elit dengan fasilitas modern, tetapi juga di pelosok desa dengan hati yang tulus dan kerja keras yang konsisten.
Julukan “Kartini Banyumas” atau “Emak Hebat” yang disematkan kepadanya bukan tanpa alasan. Melalui PKBM Tunas, Umi tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberdayakan perempuan, anak-anak rentan, dan masyarakat untuk bangkit melalui pendidikan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Terima kasih atas teladan nyata yang telah diberikan, Ibu Umi Salamah. Semoga semakin banyak pendidik inspiratif seperti Anda lahir di seluruh penjuru negeri untuk mewujudkan Indonesia yang lebih berilmu dan berkeadilan. (*)








