KabarBaik.co, Jakarta- Persaingan gelar juara BRI Super League 2025/2026 memang masih membara di papan atas. Namun, drama juga terjadi di dasar klasemen. Dengan hanya menyisakan dua pertandingan, Persis Solo dan Madura United kini berada dalam pusaran tekanan yang terasa seperti hidup dan mati. Satu akan bertahan, satu lainnya berpotensi menyusul Semen Padang dan PSBS Biak turun kasta.
Situasi klasemen membuat Persis Solo berada di posisi paling rawan. Laskar Sambernyawa tertahan di peringkat ke-16 dengan hanya koleksi 28 poin, terpaut empat angka dari Madura United yang berada tepat di atas zona degradasi dengan 32 poin. Artinya, ruang kesalahan Persis nyaris sudah habis. Mereka bukan hanya wajib menang, tetapi juga harus berharap Madura United terpeleset di dua laga tersisa.
Atmosfer “neraka dua pekan terakhir” itu akan dimulai pada 16 Mei mendatang saat Persis Solo menjamu Dewa United di Stadion Manahan. Di atas kertas, laga ini menjadi ujian yang sangat berat. Dewa United masih memburu posisi terbaik di papan atas dan memiliki lini serang yang agresif serta cepat dalam melakukan transisi permainan. Sepanjang musim ini, Persis kerap kesulitan menghadapi tim dengan pola bermain seperti itu.
Namun, Persis masih memiliki satu senjata besar: Stadion Manahan. Dukungan suporter diprediksi akan mengubah pertandingan menjadi laga penuh tekanan emosional. Persis sadar, hasil selain kemenangan bisa menjadi awal akhir perjalanan mereka di kasta tertinggi.
Setelah itu, Persis harus melakoni partai tandang menghadapi Persita Tangerang pada 23 Mei. Meski terlihat lebih ringan dibanding melawan Dewa United, laga ini justru berpotensi menjadi jebakan. Persita dikenal cukup nyaman bermain tanpa tekanan dan memiliki rekor kandang yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sementara itu, performa tandang Persis sepanjang musim tergolong buruk dan inkonsisten.
Di sisi lain, Madura United datang dengan situasi yang sedikit lebih menguntungkan. Tim berjuluk Laskar Sape Kerrab itu akan lebih dulu bertandang menghadapi PSIM Yogyakarta pada 17 Mei sebelum menutup musim dengan menjamu PSM Makassar pada 23 Mei.
Secara psikologis, Madura berada di posisi yang lebih nyaman. Mereka tidak dibebani kewajiban menang mutlak di dua laga akhir. Bahkan tambahan satu kemenangan saja bisa membuat peluang bertahan mereka sangat besar. Apalagi, laga terakhir melawan PSM Makassar berpotensi menjadi keuntungan tersendiri. PSM praktis sudah aman dari ancaman degradasi sehingga tensi pertandingan diperkirakan tidak setinggi laga hidup-mati yang dihadapi Madura.
Keunggulan lain Madura United terletak pada pengalaman dan kematangan skuad. Dalam beberapa pekan terakhir, mereka mulai menunjukkan karakter tim yang siap bertarung di situasi survival. Permainan mereka memang tidak terlalu atraktif, tetapi lebih pragmatis dan efektif. Tipe permainan seperti ini sering kali menjadi pembeda dalam perebutan selamat dari degradasi.
Dalam laga ke-32 pada Senin (11/5) malam, sebetulnya Madura United hampir saja memastikan aman dari jurang degradasi saat melawan Bhayangkara FC. Di babak pertama, Madura unggul 1-0. Namun, drama berjalan di babak kedua. Ternyata, Bhayangkara membalik keunggulan menjadi 3-1.
Baca Juga: Hujan 5 Gol di Bali: Poin Borneo FC dan Persib Identik, Perburuan Juara Kini di Titik Nol
Sebaliknya, Persis Solo masih dibayangi masalah klasik yang terus muncul sepanjang musim: pertahanan rapuh dan inkonsistensi performa. Persis kerap tampil meledak-ledak saat bermain di kandang, tetapi mudah kehilangan momentum ketika berada dalam tekanan. Situasi itu terlihat dari beberapa laga terakhir ketika mereka kesulitan menjaga stabilitas permainan selama 90 menit.
Tekanan mental juga menjadi faktor besar. Persis tidak hanya dituntut menang, tetapi juga harus terus memantau hasil Madura United. Kondisi semacam ini bisa menjadi beban berat bagi pemain, terutama ketika pertandingan mulai memasuki momen-momen krusial.
Jika melihat keseluruhan situasi, Madura United memang masih lebih difavoritkan untuk bertahan di BRI Super League musim depan. Jadwal yang sedikit lebih bersahabat, kondisi psikologis yang lebih stabil, serta pengalaman skuad membuat peluang mereka lebih besar dibanding Persis Solo.
Meski demikian, sepak bola selalu menyimpan ruang untuk kejutan. Persis Solo masih memiliki kesempatan selama peluit akhir musim belum benar-benar dibunyikan. Dua pekan tersisa kini menjadi pertaruhan terakhir: bertahan hidup atau jatuh ke jurang degradasi.
Di tengah panasnya perebutan bertahan hidup di kasta tertinggi, tiga tim juga sudah bersiap menyambut musim depan di Liga 1. Garudayaksa FC, PSS Sleman, dan Adhyaksa FC dipastikan promosi dan akan menggantikan tiga tim yang terdegradasi dari BRI Super League musim ini. Kehadiran ketiga tim tersebut diprediksi akan menambah warna dan persaingan baru pada kompetisi musim depan.
Dan, Garudayaksa dikenal sebagai patron Prabowo Subianto dan Adhyaksa adalah patron dari Kejaksaan RI, yang juga diketahui milik dari Eko Setiyawan, salah seorang anggota Exco PSSI. (*)
Klasemen BRI Super League 2025/2026 (Per 11 Mei)
- Persib — 32 MP, 75 pts, GD +36
- Borneo — 32 MP, 75 pts, GD +37
- Persija Jakarta — 32 MP, 65 pts, GD +31
- Dewa United — 32 MP, 53 pts, GD +9
- Persebaya — 32 MP, 52 pts, GD +14
- Malut United — 32 MP, 52 pts, GD +21
- Bhayangkara — 32 MP, 50 pts, GD +4
- Bali United — 32 MP, 45 pts, GD +5
- Persita — 32 MP, 44 pts, GD +3
- Arema — 32 MP, 42 pts, GD +1
- PSIM — 32 MP, 42 pts, GD 0
- Persik — 32 MP, 39 pts, GD -12
- Persijap — 32 MP, 34 pts, GD -14
- PSM — 32 MP, 34 pts, GD -7
- Madura United — 32 MP, 32 pts, GD -18
- Persis — 32 MP, 28 pts, GD -23
- Semen Padang — 32 MP, 20 pts, GD -33
- PSBS Biak — 32 MP, 18 pts, GD -5
Keterangan:
MP: Jumlah laga yang dijalani, Pts: Poin yang didapat, GD: Selisih gol. Di puncak klasemen tetap ditempai Persib karena tidak hanya mengacu selisih gol tetapi head to head.







