Urai Benang Kusut Administrasi, GINSI Jatim dan Bea Cukai Tanjung Perak Gelar Coaching Clinic

oleh -137 Dilihat
Bea cukai perak
Fokus Coaching Clinic adalah mengupas tuntas panduan administratif mengenai keberatan dan banding.

KabarBaik.co, Surabaya – Menembus usia tujuh dekade, Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) terus berbenah demi memperkuat profesionalisme anggotanya.

Merayakan momentum HUT Ke-70 tersebut, BPD GINSI Jawa Timur menggandeng Bea Cukai Tanjung Perak menggelar coaching clinic bertajuk Panduan Administrasi dan Pengisian Banding atas Penetapan Nilai Pabean atau Tarif.

Agenda yang berlangsung di Kantor Bea Cukai Tanjung Perak Surabaya pada Jumat (22/5) ini memikat antusiasme tinggi. Sekitar 100 pelaku usaha impor dari berbagai daerah di Jawa Timur hadir memadati ruangan, sebelum nantinya mereka bertolak untuk meninjau langsung aktivitas di Terminal Petikemas Surabaya (TPS).

Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Perak, Agus Cahyono, menyambut hangat inisiatif ini.

Menurutnya, kolaborasi tersebut mengukuhkan peran Bea Cukai yang tidak hanya bertugas mengawasi dan memungut penerimaan negara, tetapi juga bertindak sebagai pelindung masyarakat (community protector) serta pendamping industri (industrial assistance).

“Teman-teman dari GINSI yang dipimpin Ibu Bella menginisiasi coaching clinic ini untuk menampung berbagai persoalan di lapangan. Fokus kita hari ini adalah mengupas tuntas panduan administratif mengenai keberatan dan banding,” ujar Agus.

Agus menguraikan, pemahaman prosedur ini sangat krusial. Jika dalam proses importasi muncul perbedaan penetapan tarif atau nilai pabean oleh petugas, importir wajib tahu hak-hak mereka. Selama prosesnya dirasa sudah sesuai koridor aturan, importir sah secara hukum untuk mengajukan keberatan.

“Jika keberatan tersebut belum dikabulkan atau ditolak, ruang konstitusi masih terbuka lebar melalui pengajuan banding ke Pengadilan Pajak,” imbuhnya.

Lebih dalam ia menjelaskan, riak-riak keberatan biasanya dipicu oleh perbedaan persepsi dokumen transaksi impor. Namun Agus menenangkan para pelaku usaha; selama bukti transaksi lengkap dan valid, importir memiliki pijakan hukum yang kuat.

“Impor itu dasarnya adalah bukti transaksi. Terkadang dokumennya ada, tapi saat proses submit ada yang terlewat, sehingga memicu beda pendapat dan berujung tambah bayar. Jika importir yakin dokumennya komplet, hak mereka dilindungi undang-undang untuk mengajukan keberatan,” beber Agus, seraya menambahkan bahwa kasus sengketa di Tanjung Perak sejauh ini relatif minim karena mayoritas penetapan sudah berjalan presisi.

Menjawab keluhan klasik soal lamanya proses bongkar muat, Agus menegaskan bahwa Bea Cukai bergerak lurus dengan kesiapan dokumen yang diajukan. Begitu dokumen dinyatakan lengkap dan jalur pemeriksaan keluar—baik hijau maupun merah—petugas akan langsung tancap gas.

“Untuk jalur hijau, barang bisa langsung keluar begitu SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang) terbit. Sementara jalur merah memang butuh pemeriksaan fisik dan cek harga, tapi kami pastikan prosesnya tidak bertele-tele,” tegasnya.

Idealnya, pemeriksaan barang sudah harus berjalan maksimal pukul 12.00 WIB pada keesokan hari setelah pengajuan, dengan target rampung total di bawah 24 jam. Sayangnya, kendala di lapangan sering kali tersendat pada kesiapan administrasi internal importir atau lambatnya penarikan kontainer ke lokasi pemeriksaan pelabuhan.

Tantangan ini kian nyata mengingat volume kerja Bea Cukai Tanjung Perak yang super sibuk. Saban hari, mereka harus melayani sekitar 200 aktivitas impor dengan puluhan kontainer yang wajib diperiksa fisiknya.

“Guna mengurai kepadatan ini, kami terus bersinergisitas dengan pengelola pelabuhan dan TPS agar alat dukung seperti forklift dan armada pengangkut kontainer selalu siap siaga, sehingga pemeriksaan bisa dipangkas lebih cepat,” urai Agus.

Ia menaruh harapan besar agar aktivitas impor barang produktif—seperti bahan baku industri—tetap melaju kencang demi menopang urat nadi ekonomi nasional. Di sisi lain, tumpuan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara dan sawit diharapkan tetap perkasa menjaga surplus neraca perdagangan di tengah bayang-bayang keperkasaan dolar AS.

Senada dengan itu, Ketua BPD GINSI Jawa Timur, Hana Belladina, berharap forum ini tidak sekadar menjadi ajang diskusi searah. Lebih dari itu, ia ingin kegiatan ini melahirkan solusi konkret, mempererat kemitraan, sekaligus mendongkrak kelas profesionalisme dunia impor di Jawa Timur.

“Melalui momentum HUT ke-70 ini, kami ingin membawa GINSI bermutasi menjadi organisasi yang solid, adaptif, dan benar-benar mampu menjadi rumah yang nyaman bagi para importir Indonesia,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bella ini.

Tak lupa, Bella menyampaikan apresiasi mendalam kepada jajaran Bea Cukai Tanjung Perak atas keterbukaan komunikasi dan sinergi yang terjalin apik selama ini.

“Kami berterima kasih atas dukungan dan komunikasi yang sangat baik dari Bea Cukai. Semoga keharmonisan ini terus terjaga demi terciptanya iklim usaha yang sehat, profesional, dan memiliki daya saing tinggi,” pungkas Bella.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.