KabarBaik.co, Surabaya – United States Trade and Development Agency (USTDA) menawarkan peluang kerja sama investasi kepada pelaku usaha di Jawa Timur guna mendukung pembangunan infrastruktur di berbagai sektor prioritas.
Tawaran tersebut mencakup sektor energi dan sumber daya mineral, transportasi darat, laut, dan udara, hingga infrastruktur digital dan pengembangan kota cerdas.
Peluang ini disampaikan dalam forum dialog investasi bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur di Hotel JW Marriot Surabaya, Kamis (30/4).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto beserta jajaran, perwakilan asosiasi seperti Apindo, ALFI, dan INSA, serta puluhan perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur, energi, transportasi, dan digital.
Perwakilan U.S. International Development Finance Corporation (DFC) Kedutaan Besar Amerika Serikat Adrian Bastien, menjelaskan bahwa forum ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi Indonesia dan Amerika Serikat dalam pengembangan infrastruktur berkualitas.
Menurutnya, USTDA memiliki peran strategis sebagai “first mover” pemerintah Amerika Serikat dalam mendorong pengembangan infrastruktur di negara berkembang, terutama melalui dukungan sejak tahap awal proyek.
Dukungan tersebut meliputi identifikasi peluang, studi kelayakan, hingga persiapan proyek agar siap secara komersial dan layak mendapatkan pendanaan.
“USTDA berperan penting dalam memastikan proyek infrastruktur dirancang dengan baik sejak awal sehingga dapat menarik investasi dan berjalan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, secara global USTDA telah mendukung lebih dari US$127 miliar nilai ekspor serta bekerja sama dengan ratusan komunitas dan pelaku usaha kecil. Capaian tersebut menunjukkan dampak nyata dari pendekatan kolaboratif yang terstruktur.
Selain USTDA, pemerintah Amerika Serikat juga menghadirkan DFC sebagai lembaga pembiayaan pembangunan yang melengkapi dukungan teknis dengan akses pendanaan. DFC berperan dalam memobilisasi investasi swasta pada sektor strategis, termasuk infrastruktur, mineral kritis, dan teknologi maju.
Adrian menegaskan, pendekatan yang dilakukan pemerintah AS bersifat terintegrasi dengan melibatkan berbagai lembaga, seperti Konsulat Jenderal, USTDA, DFC, Export-Import Bank, hingga U.S. Foreign Commercial Service. Sinergisitas ini diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek dengan mengatasi berbagai kendala, baik dari sisi regulasi maupun implementasi.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang mengedepankan kualitas, transparansi, keberlanjutan lingkungan, serta kelayakan finansial. Infrastruktur, kata dia, menjadi fondasi utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, konektivitas, serta daya saing jangka panjang.
Dalam konteks Indonesia, Jawa Timur dinilai memiliki posisi strategis dengan basis industri yang kuat, tenaga kerja kompeten, serta konektivitas yang terus berkembang. Namun, pembangunan infrastruktur berskala besar tetap membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, swasta, dan mitra internasional.
“Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mengidentifikasi peluang konkret, serta membangun kerja sama yang produktif,” katanya.
Sementara itu, perwakilan USTDA Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Anna Pitzer, menjelaskan bahwa lembaganya merupakan badan independen pemerintah AS yang berfokus mendorong perdagangan dan investasi di sektor infrastruktur global.
Ia menyebut, USTDA memiliki dua misi utama, yakni mendukung pengembangan infrastruktur berkualitas di negara berkembang serta membantu perusahaan Amerika Serikat menghadirkan teknologi dan layanan di pasar internasional.
“Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kemitraan strategis, termasuk dalam aspek teknologi dan keamanan,” ujarnya.
Anna menambahkan, sektor prioritas kerja sama USTDA meliputi energi, infrastruktur digital termasuk keamanan siber, transportasi dan penerbangan, mineral kritis, hingga sektor kesehatan. Secara global, USTDA telah mendukung lebih dari seribu proyek di lebih dari 30 negara, termasuk lebih dari 35 proyek di Indonesia.
Menanggapi peluang tersebut, Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyatakan pihaknya menyambut positif tawaran kerja sama tersebut. Ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya soal proyek fisik, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukung, khususnya sumber daya manusia.
“Kadin Jawa Timur mengambil peran strategis dalam memperkuat kualitas SDM agar mampu mengikuti perkembangan industri yang sangat dinamis,” tegasnya.
Menurut Adik, penguatan SDM menjadi kunci agar investasi yang masuk dapat memberikan manfaat maksimal, tidak hanya dalam bentuk pembangunan fisik, tetapi juga transfer pengetahuan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal.
Ke depan, sinergisitas antara pembangunan infrastruktur dan kesiapan SDM diharapkan mampu meningkatkan daya saing Jawa Timur dalam menarik investasi global, sekaligus memperkuat kerja sama internasional yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.






