KabarBaik.co, Pasuruan – Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo menghadiri Pameran Seni dan Manuskrip Nderes: Risalah Salafiyah Pasuruan dan Riwayat Peradaban yang digelar Ma’had Aly Salafiyah Pasuruan dalam rangka Haul ke-45 Almaghfurlah KH. Abdul Hamid di Gedung Tourism Information Center (TIC) Kota Pasuruan.
Pameran yang berlangsung pada 19–25 Agustus 2026 tersebut menampilkan 22 manuskrip karya masyayikh salafiyah, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengenalkan seni, manuskrip, sejarah, serta khazanah keilmuan yang berkembang di Pasuruan.
Dalam sambutannya, Wali Kota yang akrab disapa Mas Adi menyampaikan bahwa pameran tersebut menjadi momentum untuk mengenal lebih jauh warisan keilmuan dan sejarah para ulama, termasuk perjalanan KH. Abdul Hamid.
“Begitu kayanya ternyata para ulama-ulama kita, begitu kayanya sejarah Romo Kiai Hamid yang juga salah satunya nanti ditampilkan. Bukan soal undangan pernikahannya, tentu ada sejarah di dalamnya. Ini yang ingin kita sama-sama ketahui,” ujar Mas Adi.
Menurutnya, khazanah seni memiliki keterkaitan erat dengan khazanah keilmuan. Kontribusi para ulama terhadap perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan juga perlu terus dikenalkan kepada masyarakat.
“Khazanah seni sebenarnya sangat bertirisan erat dengan khazanah keilmuan kita. Kalau kita lihat khazanah keilmuan kita, ternyata banyak ilmu, mulai dari matematika, ilmu-ilmu alam, itu justru banyak dari para ulama kita,” jelasnya.
Mas Adi menegaskan, sejarah tidak hanya berbicara mengenai masa lalu, tetapi juga menjadi fondasi untuk merajut masa depan. Hal tersebut menjadi penting bagi Kota Pasuruan yang memiliki akar sejarah panjang dan dikenal sebagai Kota Santri sekaligus Kota Pusaka.
“Mulai dari khazanah keilmuan, khazanah keislaman, khazanah sejarah, yang semuanya ini kalau kita rangkai menjadi kekayaan kita yang cukup luar biasa,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga peninggalan sejarah di Kota Pasuruan, termasuk bekas kantor PBNU, agar tetap dapat dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Kalau hilang itu, generasi yang akan datang tidak punya cerita lagi. Ini menjadi PR kita semua, bagaimana kita bisa sama-sama menjaga dan uri-uri sejarah yang ada,” katanya.
Mas Adi menambahkan, Pemerintah Kota Pasuruan terus berupaya memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan seni, keilmuan, dan kemasyarakatan. Salah satunya melalui pemanfaatan fasilitas TIC dan mini teater bagi para seniman, santri, maupun masyarakat.
“TIC ini juga ada mini teater, memang disediakan bagi kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, para seniman, para santri. Monggo, ini memang disediakan untuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan,” tuturnya.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan sosial yang memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa.
Menutup sambutannya, Mas Adi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyelenggarakan pameran tersebut. Ia berharap kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga dan meneruskan warisan para ulama, khususnya KH. Abdul Hamid.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Pasuruan Mokhamad Nawawi, Syaikhina KH. M. Idris Hamid, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan, serta Lora Usman Al-Alkhyari, Ketua Nahdlatut Turats.






