KabarBaik.co, Blitar – Candi Sawentar di Desa Sawentar, Kanigoro, Kabupaten Blitar, menjadi salah satu jejak penting peninggalan masa Majapahit. Bangunan candi yang berada di kawasan kaki Gunung Kelud tersebut tidak hanya menyimpan peninggalan arkeologis saja, tetapi juga menyisakan pesan moral yang masih relevan hingga kini.
Pegiat sejarah dari Mataram Heritage, Aunur Rofiq, mengatakan Candi Sawentar menarik untuk ditelusuri karena memiliki keterkaitan dengan perjalanan Raja Hayam Wuruk yang tercatat dalam Kitab Negarakertagama.
“Candi Sawentar ini menarik karena bukan hanya menyimpan tinggalan fisik dari masa Majapahit, tetapi juga punya cerita dan pesan yang masih relevan sampai sekarang,” ujar Aunur, Sabtu (15/8).
Dalam Negarakertagama, kawasan tersebut disebut dengan nama Lwa Wentar. Tempat itu menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi Hayam Wuruk dalam perjalanan ziarah pada 1283 Saka atau sekitar 1361 Masehi.
Secara fisik, bangunan utama Candi Sawentar menggunakan batu andesit. Candi memiliki panjang sekitar 9,53 meter, lebar 6,86 meter dan tinggi mencapai 10,65 meter. Pintu masuk berada di sisi barat dengan sejumlah ornamen, termasuk makara pada bagian pipi tangga.
Jejak keagamaan Hindu juga terlihat dari temuan arca burung Garuda di dalam ruang bilik candi. Garuda diketahui merupakan wahana Dewa Wisnu.
Menurut Aunur, keberadaan Candi Sawentar juga tidak bisa dilepaskan dari sejumlah temuan arkeologis di kawasan sekitarnya. Salah satunya berada di kompleks Makam Kanigoro yang berjarak sekitar dua kilometer dari candi.
Di lokasi tersebut ditemukan pahatan angka tahun 1274 Saka atau 1352 Masehi serta batu beraksara Jawa Kuno. Salah satu bagian yang menarik adalah tulisan yang kemudian dibaca sebagai “Ita cangkaha ya hala”, yang memiliki makna kurang lebih kesombongan itu buruk.
“Pesan ‘Ita cangkaha ya hala’ mengandung pesan bahwa kesombongan itu buruk. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa peninggalan sejarah tidak hanya penting untuk dilihat, tetapi juga bisa menjadi bahan pembelajaran bagi generasi sekarang,” jelasnya.
Selain angka tahun dan batu beraksara, kawasan tersebut juga menyimpan fragmen bangunan serta sejumlah temuan batu yang masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Aunur menilai penelitian terhadap kawasan Sawentar masih penting dilakukan untuk mengetahui lebih jauh hubungan antara Candi Sawentar dengan peninggalan arkeologis di sekitarnya.
“Temuan di sekitar Sawentar, termasuk di kompleks Makam Kanigoro, masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Justru di situlah menariknya, karena masih ada bagian dari sejarah kawasan ini yang belum sepenuhnya terungkap,” katanya.
Ia berharap keberadaan situs tersebut tidak hanya dijaga secara fisik, tetapi juga terus dikaji agar masyarakat dapat memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
“Jangan sampai kita hanya melihat candinya sebagai bangunan tua, tetapi tidak memahami cerita dan nilai yang ada di baliknya,” pungkas Aunur. (*)






