KabarBaik.co, Jombang – Suasana kebersamaan terasa di Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, saat warga menggelar tradisi Wiwit Kopi.
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi bagian dari rangkaian Adat Bumi sekaligus penanda dimulainya musim panen kopi di kawasan lereng Gunung Anjasmoro tersebut.
Ketua Kampung Adat Segunung, Supi’i, mengatakan Wiwit Kopi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diperoleh.
“Dalam bahasa Jawa, wiwit berarti memulai. Jadi, Wiwit Kopi dimaknai sebagai awal dimulainya panen kopi oleh masyarakat,” kata Supi’i. Minggu (9/8).
Menurut dia, tradisi tersebut telah menjadi bagian dari identitas Kampung Adat Segunung. Sebab, kehidupan masyarakat setempat tidak lepas dari lingkungan perkebunan dan hasil bumi.
Rangkaian Wiwit Kopi diawali dengan doa bersama yang dipimpin pemangku adat di tengah perkebunan kopi milik warga.
Setelah doa, warga melakukan pemetikan buah kopi yang telah berwarna merah dan siap dipanen. Prosesi ini menjadi simbol dimulainya musim panen kopi.
Hasil panen kemudian dibawa dalam arak-arakan menuju Balai Ageng Giri Kedaton. Warga juga membawa gunungan berisi hasil pertanian, jajanan pasar, dan berbagai hasil bumi lainnya.
“Arak-arakan ini diikuti masyarakat dan menjadi salah satu momen yang menunjukkan kekompakan warga Kampung Adat Segunung dalam menjaga tradisi,” ujarnya.
Sesampainya di Balai Ageng Giri Kedaton, warga kembali mengikuti doa dan selamatan bersama. Mereka memanjatkan rasa syukur sekaligus memohon keberkahan atas hasil pertanian dan perkebunan.
Pelaksanaan Wiwit Kopi tahun ini juga melibatkan mahasiswa KKN Kelompok 37 UPN “Veteran” Jawa Timur.
Kehadiran mahasiswa turut mewarnai rangkaian kegiatan dengan sejumlah acara, di antaranya tumpengan dan lomba goreng kopi.
“Tumpengan menjadi bagian dari kegiatan kebersamaan antara warga dan mahasiswa KKN. Tumpeng dinikmati bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus mempererat hubungan,” kata Supi’i.
Sementara lomba goreng kopi digelar untuk mengenalkan kopi lokal Segunung sekaligus menambah kemeriahan acara.
“Selain itu, lomba goreng kopi menjadi salah satu cara mengenalkan kopi lokal Segunung sekaligus menciptakan suasana kebersamaan dan hiburan bagi masyarakat,” ujarnya.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian atau perebutan hasil bumi yang telah disiapkan.
Bagi warga, kegiatan tersebut bukan sekadar memperebutkan makanan. Tradisi itu menjadi simbol berbagi rezeki dan mempererat hubungan antarwarga.
Keterlibatan mahasiswa KKN juga menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan sosial dan budaya masyarakat Kampung Adat Segunung.
“Melalui keterlibatan secara langsung, mahasiswa dapat memahami nilai kebersamaan, rasa syukur, serta hubungan masyarakat dengan alam yang terkandung dalam tradisi Wiwit Kopi,” jelasnya.
Bagi masyarakat Segunung, Wiwit Kopi bukan sekadar tradisi menyambut musim panen. Di dalamnya terdapat nilai syukur, kebersamaan, penghormatan terhadap alam, sekaligus upaya menjaga warisan leluhur.
Kolaborasi antara masyarakat dan generasi muda melalui kegiatan KKN diharapkan dapat membuat tradisi Wiwit Kopi tetap dikenal dan lestari tanpa kehilangan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.(*)







