Akhirnya Kita… Innalillahi! Sastrawan dan Wartawan Senior Yudhistira Berpulang

Editor: Hardy
oleh -1665 Dilihat
SEMASA HIDUP: Penyair Yudhistira ANM Massardi saat safari literasi sastra di SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah, Rabu (15/2/2023). (ANTARA/HO)

KabarBaik.co- Dunia sastra nusantara kehilangan salah seorang sosok terbaiknya. Selasa (2/4/) malam, pukul 21.12 WIB, Yudhistira Ardi Noegraha Moelyana (ANM) Massardi telah berpulang. Sastrawan yang juga wartawan senior itu meninggal di usia 70 tahun ketika menjalani perawatan di RSUD Bekasi, Jawa Barat.

Kabar meninggalnya Yudhistira tersebut juga disampaikan Marah Sakti Siregar, rekan almarhum yang juga wartawan senior, melalui WA salah satu grup Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

’’Innanillahi wainna ilaihi rajiun. Berpulang ke Rahmatullah wartawan dan sastrawan Yudhistira ANM, pada Selasa (2/4/2024), pukul 21.12 WIB di RSUD Bekasi. Mohon dimaafkan segala kesalahannya. Semoga almarhum kembali kepada Allah dengan husnul khotimah. Aamiin ya Rabbal alamiin,’’ tulisnya.

Yudhistira lahir di Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954. Perjalanan hidupnya sebagai seorang wartawan dan sastrawan begitu panjang. Sarat pengalaman. Baik di kancah nasional maupun internasional. Pada 1981, ia pernah mengikuti konferensi Pengarang Asia di Manila, Filipina. Lalu, 1983, mendapat beasiswa dan menjadi tamu di Universitas Kyoto, Jepang.

Baca juga:  Pemilu 2024 dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

Yudhistira kemudian diundang mengikuti International Creative Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (AS). Di dunia sastra, sejumlah  penghargaan telah diraih melalui karya-karyanya. Baik novel, sandiwara, maupun kumpulan puisi.

Beberapa novelnya antara lain berjudul Arjuna Mencari Cinta (1977) dan Mencoba Tidak Menyerah (1978). Lalu, naskah Sandiwara: Wot atawa Jembatan (1977) dan Ke (1978). Karya-karya puisinya juga banyak. Di antaranya berjudul: Sajak Sikat Gigi (1976), 99 Sajak (2015), Jangan Lupa Bercinta! (2020), Alamatmu Menemukanku (2021), Akhirnya Kita (2022) dan banyak lagi.

Ia juga menulis sejumlah buku. Beberapa karyanya juga dinyanyikan penyanyi legendaris dua bersaudara Franky and Jane. Belakangan, ia aktif di sebuah lembaga sosial. Pengelola Sekolah Gratis untuk para duafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi.

Baca juga:  Lanjutkan Program UKW Gratis, Ada Kompetisi Jurnalistik Berhadiah Rp 50 Juta

Yudhistira tidak lain merupakan kakak kandung dari Adhie M. Massardi, juru bicara KH Abdurrahmad Wahid (Gus Dur) ketika menjadi Presiden RI keempat. Ia memiliki saudara kembar yang juga sastrawan Noorca Massardi.

Dalam sebuah wawancaranya, Yudhistira pernah bercerita tentang masa kecilnya. “Terlalu lama saya hidup kurang makan,” katanya ketika itu. Sewaktu masih kanak-kanak, untuk menyambung hidup ia pernah berjualan koran. Menjajakan rokok. Bahkan, menjadi jongos. Ia merupakan anak nomor enam dari sebelas bersaudara.

Ayahnya, Massardi, terakhir mengusahakan bengkel sepeda, meninggal ketika Yudhistira masih di kelas VI SD. Setelah menghabiskan masa SD di Subang, ia bersama saudara-saudaranya hijrah ke Jogjakarta.

Di Kota Gudeg tersebut, pada 1969, untuk memperoleh uang bantuan dari kakaknya sejumlah 150, setiap minggu ia harus pergi ke Wates, menempuh jarak 30 kilometer.

Sebagai penulis, Yudhistira sangat produktif. Pada kurun 1977 dan 1984, menulis 12 judul buku. Yang paling terkenal dan sudah difilmkan adalah novel Arjuna Mencari Cinta (Cypress, 1977).

Baca juga:  PWI Jatim Gelar OKK di Banyuwangi, Banyak Pejabat Publik Belum Paham Media Pers dan Media Non-Pers

Di dunia jurnalistik, Yudhistira pernah menjadi wakil pemimpin redaksi majalah Le Laki (1976-1978), menjadi wartawan majalah Tempo (1979-1981), dan beberapa media lain. Ia menikahi Aprisca Hendriany yang telah memberinya tiga orang anak. Salah seorang di antaranya Iga Massardi, vokalis Basuara.

Dua tahun lalu, ia pun pernah menuliskan sebuah karya puisi tentang kematian. Dirilis bersama puisi-puisi lain pada Februari 2024. Berjudul: Akhirnya kita…

Akhirnya kita

Seperti dedaun

Runduk pada musim

Di kering Waktu

Kuning-rontok

Terjala ajal

Terjal

Seperti jatuh hujan

Pada aspal

Bersama bunyi langit

Guruh-gaduh

Di gunduk kubur

Sunyi-dengkur.

(Bekasi, Maret 2022).

 

Seperti sebuah pesan, kematian itu sekarang telah datang menjemputnya  Selamat jalan Bang. Senoga husnul khatimah. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.