KabarBaik.co, Jember – Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto meminta Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jember segera menjalin komunikasi intensif dengan Kepala Bulog Subdivre Jember. Langkah ini mendesak dilakukan agar harga gabah di tingkat petani tidak anjlok di tengah musim penghujan.
Tingginya intensitas hujan di wilayah Jember saat ini berdampak langsung pada kualitas hasil panen. Gabah petani cenderung memiliki kadar air yang tinggi, perubahan warna, hingga butiran pecah. Kondisi ini membuat Bulog kesulitan menyerap hasil panen raya secara maksimal.
“Sesuai ketentuan, kadar air gabah tidak boleh lebih dari 30%. Namun karena cuaca ekstrem, kadar air melampaui batas tersebut. Jika dipaksakan masuk ke mesin produksi, selain berisiko merusak mesin maklon, harga jual berasnya pun akan jatuh,” ujar Candra, Kamis (5/3).
Candra menekankan perlunya intervensi pemerintah. Tanpa campur tangan Sekda, gabah petani terancam tidak terserap oleh Bulog, sehingga target harga pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram sulit tercapai di lapangan.
“Sekda harus cepat berkoordinasi agar petani dan Bulog sama-sama tidak dirugikan. Sosialisasi mengenai standar gabah yang dapat diterima Bulog juga perlu segera masif dilakukan,” tegas Politisi PDIP itu.
Di sisi lain Hendrik Wibowo seorang petani asal Kecamatan Kalisat, menyambut baik upaya DPRD Jember. Menurutnya, kondisi lapangan saat ini memang sangat menyulitkan petani.
“Bukan hanya hujan, banjir di wilayah Jember bagian timur dan utara membuat lahan tergenang air, sehingga padi menyerap air secara berlebihan. Kami tidak bisa menghalangi cuaca, satu-satunya harapan kami adalah bantuan dan kebijakan pemerintah,” ungkap Hendrik.
Sebagai informasi, Bulog Cabang Jember mencatatkan prestasi gemilang pada tahun 2025 dengan realisasi penyerapan gabah mencapai 118 ribu ton. Angka ini merupakan capaian tertinggi di Jawa Timur dan melampaui target yang ditetapkan.
Namun, untuk tahun 2026, Bulog belum merilis angka penyerapan resmi mengingat adanya kendala cuaca dan kualitas gabah yang sedang terjadi saat ini. (*)







