KabarBaik.co, Jember – Komisi D DPRD Jember menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama manajemen RSUD dr. Soebandi pada awal Maret 2026.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan pekan sebelumnya guna mengevaluasi kinerja keuangan dan mutu pelayanan rumah sakit milik daerah tersebut.
RDP yang dihadiri jajaran direksi, wakil direktur, hingga Dewan Pengawas ini membedah laporan kinerja tahun 2025 serta Rencana Bisnis Anggaran (RBA) 2026.
Berdasarkan data yang dipaparkan, RSUD dr. Soebandi mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat impresif. Rata-rata pemasukan bulanan kini mencapai Rp31 miliar, melonjak drastis dibandingkan periode sebelumnya yang berada di kisaran Rp15–17 miliar per bulan.
Anggota Komisi D DPRD Jember Wahyu Prayudi Nugroho menyebut peningkatan ini dipicu oleh tingginya volume pasien, terutama melalui program Universal Health Coverage (UHC). Kunjungan Pasien: Rata-rata 1.300 orang per hari, untuk tindakan medis mencapai lebih dari 1.000 prosedur operasi.
“Peningkatan pendapatan ini luar biasa. Namun, kami menekankan bahwa transparansi pengelolaan dan tren peningkatan ini harus berbanding lurus dengan kualitas layanan kepada masyarakat,” ujar Wahyu, Rabu (4/3).
Meski secara finansial menguat, DPRD memberikan perhatian khusus pada dua poin krusial kesejahteraan tenaga kesehatan (nakes) dan kecukupan alat medis.
“Komisi D meminta rincian distribusi jasa pelayanan agar proporsional dan transparan. Manajemen menjelaskan bahwa alokasi jaspel nakes saat ini berkisar antara 28 hingga 30 persen dari total pendapatan layanan,” tegasnya.
“Dan layanan gagal ginjal. Jember saat ini kekurangan alat hemodialisis (cuci darah). Dari kebutuhan ideal 270 unit, baru tersedia sekitar 70 unit,” imbuh Nuki.
Menanggapi tingginya permintaan, Plt. Direktur RSUD dr. Soebandi Dr. dr I Nyoman Semita memaparkan rencana pengembangan infrastruktur. Sebagai rumah sakit rujukan regional, kapasitas saat ini dinilai masih jauh dari ideal.
“Kapasitas saat ini 388 tempat tidur sedangnkan target kebutuhan 700 tempat tidur,” ungkapnya.
Pihaknya berencana membangun gedung layanan baru dengan menjajaki konsultasi pendanaan dari lembaga pembiayaan pusat.
“Potensi pasar layanan masih sangat besar. Secara bisnis harus berjalan sehat, namun tugas kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama kami dalam melayani masyarakat,” pungkasnya. (*)






