APBN 2026 di Ujung Tanduk: Pangkas MBG, Injak Rem Darurat Dampak Perang Iran vs Israel-AS

oleh -446 Dilihat
1001052829
Menu Makan pada Program MBG (ANTARA)

KabarBaik.co, Jakarta– Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini bukan sekadar berita mancanegara bagi Indonesia. Tapi, ancaman nyata bagi kantong negara. Pemerintah pun mulai menyusun skenario injak pedal penyelamatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang terancam jebol akibat eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

​Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa stabilitas fiskal nasional kini berada dalam “sandera” harga minyak mentah dunia. Berdasarkan hasil uji stres (stress test) Kementerian Keuangan, jika konflik tersebut mendorong harga minyak rata-rata ke level USD 92 per barel sepanjang tahun, defisit anggaran Indonesia diprediksi akan melejit hingga 3,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melewati batas aman konstitusi sebesar 3%.

​”Kita sudah exercise, kalau harga minyak US$ 92 selama setahun rata-rata, maka defisitnya jadi 3,6% lebih,” ujar Purbaya dalam agenda Buka Puasa Bersama di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/.

​Untuk menghindari kebangkrutan fiskal, pemerintah menyiapkan langkah efisiensi drastis pada dua pos raksasa. Pertama, Operasional Makan Bergizi Gratis (MBG): Program senilai Rp 335 triliun ini akan disisir ulang. Fokus pemangkasan bukan pada menu makanan anak sekolah atau ibu hamil, melainkan pada belanja pendukung seperti pengadaan motor operasional untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pembelian komputer, dan sejenisnya.

​Kedua, Penundaan Proyek Fisik: Proyek infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang bersifat tahun jamak (multiyears) akan dijadwalkan ulang. Pembangunan jembatan hingga fasilitas pendidikan kemungkinan besar akan digeser ke tahun anggaran berikutnya demi mengamankan likuiditas.

Baca Juga: Maling Berkedok Gizi di Negara Katering

​Sebagai catatan, anggaran MBG tahun 2026 melonjak hampir lima kali lipat menjadi Rp 335 triliun untuk 82,9 juta penerima, dibandingkan tahun 2025 yang “hanya” Rp 71 triliun. Ambisi besar ini kini harus berbenturan dengan realita kenaikan harga energi global yang dipicu oleh mesiu di Timur Tengah.

Baca Juga: Ketika Board Of Peace Berubah Medan Perang: Surat Terbuka Konglomerat Arab Mengguncang Dunia

​Langkah Menkeu Purbaya untuk menambah likuiditas sebesar Rp 100 triliun ke sektor perbankan juga menjadi sinyal bahwa pemerintah sedang berupaya menjaga daya tahan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global yang makin pekat. (“)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.