KabarBaik.co, Surabaya – Arus peti kemas melalui PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menunjukkan penguatan pada Juli 2026. Volume peti kemas tercatat mencapai sekitar 130 ribu TEUs, meningkat 11,79 persen dibandingkan Juni 2026 yang berada di level 116 ribu TEUs.
Kenaikan tersebut terutama ditopang arus peti kemas internasional. Pertumbuhan juga terlihat dari aktivitas perdagangan luar negeri, khususnya arus ekspor yang meningkat cukup signifikan sepanjang Juli.
Dari sisi ekspor, arus peti kemas tercatat naik 20,54 persen secara bulanan, dari sekitar 57 ribu TEUs pada Juni menjadi 68 ribu TEUs pada Juli 2026. Sementara itu, arus peti kemas impor juga tumbuh 3,39 persen, dari 59 ribu TEUs menjadi 61 ribu TEUs pada periode yang sama.
Secara kumulatif Januari-Juli 2026, arus peti kemas internasional di TPS mencapai 807 ribu TEUs. Namun, angka tersebut masih terkoreksi 6,94 persen dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 867 ribu TEUs. Jika digabungkan dengan arus peti kemas domestik, total throughput TPS pada Januari-Juli 2026 tercatat 830 ribu TEUs, turun 8,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 908 ribu TEUs.
TPS menjelaskan penurunan secara tahunan tersebut antara lain dipengaruhi proses transisi dan integrasi peralatan baru di terminal. Perusahaan kini mengoperasikan empat unit Electric Quay Container Crane (E-QCC) dan 14 unit Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG).
Proses instalasi, pengujian hingga adaptasi operasional peralatan tersebut membutuhkan waktu sebelum produktivitasnya mencapai tingkat optimal. Pengoperasian peralatan baru secara bertahap diharapkan dapat berjalan beriringan dengan optimalisasi peralatan eksisting sehingga kapasitas dan kinerja terminal semakin meningkat.
Dari komposisi perdagangan luar negeri, arus peti kemas ekspor dan impor sepanjang Januari-Juli 2026 relatif berimbang. Ekspor menyumbang 49 persen atau sekitar 400 ribu TEUs, sedangkan impor mencapai 51 persen atau sekitar 407 ribu TEUs.
Komposisi tersebut tidak berubah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pada tahun lalu, arus ekspor tercatat 428 ribu TEUs atau 49 persen, sedangkan impor mencapai 439 ribu TEUs atau 51 persen.
Dari sisi operasional, TPS mencatat rata-rata produktivitas bongkar muat sebesar 51 box per ship per hour (B/S/H) dalam dua bulan pertama 2026. Angka tersebut berada di atas standar minimum 48 B/S/H yang ditetapkan Kementerian Perhubungan melalui KSOP Utama Tanjung Perak.
TPS juga mempertahankan posisi dominan pada layanan peti kemas internasional di Pelabuhan Tanjung Perak dengan pangsa pasar sekitar 83 persen.
Sekretaris Perusahaan TPS Erika A. Palupi mengatakan peningkatan arus peti kemas pada Juli menunjukkan aktivitas perdagangan melalui terminal tersebut mulai kembali bergerak positif.
“Kenaikan ini terutama ditopang oleh peti kemas internasional, baik ekspor maupun impor, yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan pelaku usaha terhadap layanan dan kapasitas operasional TPS,” ujarnya dikutip dalam pernyataan tertulisnya, Minggu (9/8).
Menurut dia, TPS akan terus menjaga keandalan dan keamanan operasional sekaligus melakukan penguatan kapasitas terminal untuk mendukung kelancaran rantai logistik nasional.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Boy G. Rahman menilai kenaikan arus peti kemas ekspor pada Juli menjadi sinyal positif bagi aktivitas perdagangan luar negeri.
“Kenaikan arus peti kemas ekspor pada Juli merupakan sinyal positif bagi sektor ekspor nasional, khususnya dari Jawa Timur dan kawasan Indonesia Timur,” katanya.
Boy menilai peningkatan tersebut menunjukkan permintaan pasar internasional terhadap sejumlah produk Indonesia masih cukup terjaga di tengah tantangan ekonomi global.
Ia juga mengapresiasi modernisasi peralatan di terminal karena dinilai dapat mendukung efisiensi dan memberikan kepastian layanan bagi pelaku usaha.
“Ke depan, sinergi antara operator pelabuhan, pelaku usaha dan pemerintah perlu terus diperkuat agar momentum pertumbuhan ekspor dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional,” ujarnya. (*)






