Atalia dan Lelaki ke-42, Rahasia di Balik Angka

oleh -549 Dilihat
BUKU ATALIA

DALAM dunia yang acap kali memuja kisah cinta sempurna seperti dongeng, buku Laki-Laki ke-42 karya Atalia Praratya hadir sebagai angin segar. Diterbitkan pada 2022, novel ringan bergenre teenlit ini menceritakan perjalanan seorang gadis bernama Chiara dalam mencari belahan jiwa di tengah puluhan pria yang mendekatinya.

Terinspirasi dari kisah nyata Atalia sendiri, buku ini menggambarkan bagaimana “lelaki ke-42”, yang tak lain adalah Ridwan Kamil berhasil memenangkan hati dengan pendekatan tulus, kesabaran, dan dukungan keluarga. Kisah ini bukan hanya romansa sederhana era 90-an, tapi juga pelajaran tentang jodoh yang datang pada waktu tepat, di luar ekspektasi manusia.

Bagi banyak pembaca, Laki-Laki ke-42 menjadi simbol harapan. Atalia, yang sering disapa Bu Cinta, menceritakan bagaimana Ridwan Kamil mendekati ibunya terlebih dahulu, berjuang mencari modal nikah dari proyek desain, dan bersaing dengan 41 pria lain yang tercatat dalam buku harian Atalia.

Pernikahan mereka pada 1999 tampak seperti bukti bahwa cinta sejati bisa bertahan melawan segala rintangan. Selama lebih dari dua dekade, pasangan ini menjadi panutan. Ridwan Kamil sebagai arsitek sukses yang menjadi gubernur Jawa Barat, sementara Atalia aktif sebagai aktivis sosial, penulis, dan belakangan menjadi anggota DPR RI.

Keduanya menghadapi cobaan berat bersama. Termasuk kehilangan putra sulungnya, Emmeril Kahn Mumtadz, pada 2022 dalam sebuah tragedi di Swiss. Di tengah duka, mereka tetap saling menguatkan, seperti yang Atalia tuangkan dalam buku lain berjudul Cuma Rindu.

Namun, kehidupan nyata sering kali lebih kompleks daripada halaman novel atau bab-bab dalam buku. Pada Desember 2025, berita mengejutkan datang. Atalia Praratya mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama (PA) Bandung. Setelah proses mediasi, keduanya sepakat berpisah secara baik-baik, tanpa drama publik yang berlarut-larut.

Kuasa hukum mereka menegaskan bahwa keputusan ini diambil dengan kesadaran penuh, fokus pada kesejahteraan anak, dan komitmen untuk tetap mengasuh bersama. Tidak ada tuduhan saling menjatuhkan. Tentu, ini bisa menjadi contoh bagaimana perpisahan bisa dilakukan dengan dewasa dan dengan tetap rasa hormat.

Catatan ini bukan untuk menilai atau merendahkan pihak manapun dan siapa pun. Sebab, tak seorang pun tahu sepenuhnya apa yang terjadi di balik pintu rumah tangga orang lain. Sebaliknya, mari jadikan setiap cerita sebagai cermin diri.

Pernikahan, seperti yang digambarkan dalam Laki-Laki ke-42, memang dimulai dengan euforia dan perjuangan romantis. Tapi, keberlanjutan hubungan memerlukan lebih dari itu. Komunikasi yang jujur, adaptasi terhadap perubahan, dan keberanian untuk mengakui saat jalan bersama tak lagi selaras.

Di era di mana media sosial sering menampilkan potret sempurna, kisah Atalia dan Ridwan Kamil mengingatkan bahwa bahkan pasangan yang tampak ideal pun bisa menghadapi badai yang tak terduga. Entah karena tekanan karier, duka pribadi, atau dinamika internal yang tak terlihat.

Yang pasti, pertama, cinta bukan akhir, melainkan perjalanan berkelanjutan. Dari buku Atalia juga mengabarkan bahwa jodoh adalah urusan Tuhan, tapi mempertahankannya adalah tanggung jawab manusia. Perceraian menunjukkan bahwa melepaskan bukan berarti kegagalan, melainkan bagian dari langkah lain. Berikhtiar mencari kedamaian baru. Bagi pasangan muda, ada pelajaran untuk membangun fondasi kuat sejak awal. Bicara terbuka tentang harapan, batasan, dan mimpi bersama.

Kedua, keluarga tetap prioritas, walaupun mungkin bentuknya berubah. Perpisahan bukanlah sebagai akhir dari ikatan keluarga, tapi boleh jadi rangkaian evolusi bentuknya. Di tengah statistik perceraian yang kian meningkat di Indonesia, kisah ini mengajak semua untuk fokus pada masa depan dan kesejahteran anak, bukan ego pribadi.

Ketiga, kehidupan penuh misteri, dan itu sejatinya membuat kita lebih kuat. Rasanya tidak ada yang tidak takut akan kehilangan. Tapi, bukankah dari kehilangan, kita belajar tentang ketangguhan? Ini menjadi pengingat bahwa hidup tak selalu linier. Setiap bab, bahkan yang menyakitkan sekalipun, bisa menjadi sumber inspirasi jika dihadapi dengan grace.

Akhirnya, kisah dari Laki-Laki ke-42 hingga perpisahan ini bukan akhir dongeng, tapi undangan untuk merefleksikan sebuah hubungan. Mari terus belajar. Hargai pasangan saat masih bersama, komunikasikan perasaan dengan tulus, dan jikapun sangat terpaksa harus berpisah, laksanakan dengan hormat. Karena pada akhirnya, cinta sejati adalah yang membawa kedamaian, dalam bentuk apa pun.

Dan di ujung perjalanan, bayangkanlah pernikahan sebagai sebuah taman yang kita rawat bersama. Ada saatnya bunga-bunga mekar indah, ada saatnya daun-daun berguguran, dan terkadang angin membawa ke arah yang tak pernah kita duga.

Talak atau cerai, meski menjadi jalan yang halal seperti pintu darurat di sebuah rumah, adalah pintu yang paling berat dibuka. Sebab, di baliknya, langit seolah menahan napas, dan hati yang paling lembut pun terluka.

Maka, sebelum tangan menyentuh gagang pintu itu, biarlah kita berhenti sejenak, mendengar bisik angin yang membawa pesan lama. Perjuangan mempertahankan taman itu lebih indah daripada meninggalkannya dalam keheningan. Semoga, kita diberi kekuatan untuk terus merawat, menyirami, dan menjaga sehingga taman itu tetap menjadi tempat pulang yang hangat, bukan kenangan yang hanya tersisa dalam buku harian. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad S.
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.