Belajar Takraw dari YouTube, Pemuda Disabilitas Bawean Gresik Dipanggil Timnas

oleh -94 Dilihat
M. Ridwan, atlet disabilitas dari Pulau Bawean, Gresik.
M. Ridwan, atlet disabilitas dari Pulau Bawean, Gresik. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Gresik – Pagi bagi Muhammad Ridwan bukan hanya tentang membuka pintu bengkel dan bergelut dengan mesin kendaraan. Sebelum memulai pekerjaannya sebagai montir, pemuda 23 tahun asal Desa Balikterus, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, itu menyempatkan diri berlari menjaga kebugaran.

Sore hari, rutinitasnya berganti. Ia mengejar bola rotan di lapangan, mengasah kemampuan sepak takraw yang telah ditekuninya sejak duduk di kelas V sekolah dasar. Tidak ada pelatih khusus. Tidak pula ada fasilitas latihan yang memadai.

Ridwan belajar secara otodidak, salah satunya dengan menonton video teknik bermain takraw di YouTube. Dari layar ponsel, ia mempelajari gerakan, teknik servis, hingga cara mengolah bola.

Bertahun-tahun menjalani latihan dengan cara tersebut akhirnya membawanya melangkah jauh dari lapangan di kampung halamannya.

Ridwan kini mendapat kesempatan bergabung dengan Tim Nasional (Timnas) Takraw Adaptive Indonesia. Ia dipersiapkan tampil dalam kompetisi di Kota Phra Nakhon Si Ayutthaya, Thailand, pada awal September 2026.

Kesempatan itu menjadi pengalaman besar bagi anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut. Apalagi, sebelumnya ia belum pernah sekalipun membela Gresik dalam pertandingan sepak takraw.

“Awalnya saya dapat tawaran dari teman atlet takraw di desa. Lalu ada panggilan. Sempat kaget juga saat ada informasi dipanggil mewakili Timnas,” kata Ridwan kepada awak media, Jumat (28/8).

Ridwan tiba di daratan Gresik sekitar sepekan sebelum keberangkatan. Untuk mengisi waktu, ia tinggal bersama saudara sesama warga Bawean yang bekerja di salah satu bengkel di kawasan Gresik Kota Baru (GKB).

Daripada menganggur sembari menunggu keberangkatan, Ridwan kembali membantu pekerjaan di bengkel.

“Daripada menganggur, sambil menunggu keberangkatan saya membantu bengkel milik saudara saya. Sembari juga melatih timang, karena tidak ada lapangan takraw di Gresik,” ujarnya.

Berawal dari hobi sejak SD
Kecintaan Ridwan terhadap sepak takraw tumbuh sejak ia duduk di kelas V SD. Keterbatasan fisik yang dialaminya sejak lahir tidak membuatnya meninggalkan olahraga tersebut. Justru dari hobinya itu, ia mulai mencatatkan prestasi.

Saat duduk di bangku SMP, Ridwan pernah menjadi juara sepak takraw tingkat Bawean. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMK di Desa Daun dan lulus sekitar 2020.

Tiga tahun setelah lulus sekolah, Ridwan mulai bekerja di bidang otomotif. Hingga kini, kehidupan sehari-harinya diisi dengan pekerjaan sebagai montir. Namun, sepak takraw tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Kini, untuk pertama kalinya, ia akan membawa nama Indonesia ke ajang internasional. “Belum pernah mewakili Gresik, langsung mewakili Timnas. Rencana tanggal 5 September berangkat,” katanya.

Ridwan menjadi salah satu dari tiga atlet yang mewakili Jawa Timur dalam Timnas Takraw Adaptive. Dua atlet lainnya berasal dari Sampang dan Lumajang.

Belajar dari YouTube, Mengidolakan Atlet Malaysia
Ketiadaan pelatih tidak membuat Ridwan berhenti berlatih. Ia memanfaatkan teknologi untuk belajar. Video-video latihan sepak takraw di YouTube menjadi salah satu sumbernya mempelajari teknik permainan.

Dari berbagai atlet yang ia saksikan, Ridwan memiliki seorang idola, yakni Mohamad Azlan bin Alias, atlet sepak takraw Malaysia.

“Saya sering lihat di YouTube. Kebetulan saya juga punya idola atlet takraw, Mohamad Azlan bin Alias. Dari sana saya ingin mengejar mimpi menjadi pemain takraw tingkat internasional,” ujarnya.

Tekad tersebut tumbuh dari kondisi yang serba terbatas. Ridwan berasal dari keluarga buruh tani. Ia juga memiliki keterbatasan fisik sejak lahir. Namun, semua itu tidak ingin dijadikannya alasan untuk merasa rendah diri.

“Saya punya keterbatasan sejak lahir. Saya hanya ingin membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghalangi untuk melangkah. Tidak ada yang tidak mungkin di tengah keterbatasan,” katanya.

Posisinya sebagai pemain servis di cabang olahraga takraw disabilitas juga tidak membuat perjalanan Ridwan selalu mudah.

Ia mengaku pernah mendengar gunjingan dari orang lain. Namun, komentar tersebut memilihnya jadikan bahan bakar untuk terus berlatih. “Itu semua tidak saya hiraukan. Yang penting terus fokus, maju, dan berusaha untuk tujuan,” ucapnya.

Persembahan untuk Ibu
Di balik perjalanan Ridwan menuju tim nasional, ada sosok ibu yang menjadi sumber semangatnya. Ayahnya, Abdur Rahman, telah meninggal dunia. Kakak pertamanya juga telah tiada, sedangkan kakak keduanya merantau. Kini, di Bawean, Ridwan hanya tinggal bersama ibunya, Misna.

Karena itu, kesempatan membela Indonesia ingin dipersembahkannya untuk keluarga, terutama sang ibu. “Saya persembahkan untuk ibu dan kakak saya,” tuturnya.

Ridwan menyadari perjalanan menuju level internasional masih panjang. Tetapi kesempatan yang kini ada di depan mata membuatnya semakin yakin untuk terus bermimpi.

“Jangan pernah insecure dan menyerah. Tunjukkan kepada mereka bahwa kami yang punya keterbatasan juga bisa melampaui mereka,” pesan Ridwan.

Berangkat dengan Biaya Mandiri
Pengurus Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Gresik Moh Hanafi, mengatakan keberangkatan tim tersebut telah mendapatkan surat tugas dari PSTI Jawa Timur.

Menurut Hanafi, sepak takraw adaptive belum berada di bawah pembinaan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

Tim dijadwalkan berangkat ke Thailand pada 5 September dan kembali pada 12 September 2026. Biaya keberangkatan masih ditanggung secara mandiri dan berasal dari para donatur.

“Semua biaya mandiri dan dari donatur. Belum ada dukungan dari instansi maupun perusahaan Danantara di Gresik,” kata Hanafi.

Hanafi mengaku baru mengenal Ridwan ketika berkunjung ke Bawean beberapa waktu lalu. Ia berharap kehadiran atlet asal Gresik tersebut dapat memperkuat Timnas Takraw Adaptive Indonesia dalam ajang Thailand Para Sports Championship 2026.

Menurut dia, Timnas Takraw Adaptive Indonesia sebelumnya telah menorehkan prestasi internasional. Pada 2025, Indonesia meraih medali emas atau juara pertama dalam ajang World Abilitysport di Turki.

“Waktu itu belum ada delegasi dari Gresik. Semoga nanti pada pelaksanaan tanggal 7 sampai 11 September, Indonesia kembali menjadi juara,” ujar Hanafi.

Bagi Ridwan, perjalanan menuju Thailand bukan sekadar tentang mengejar medali. Dari sebuah desa di Pulau Bawean, seorang pemuda yang belajar takraw tanpa pelatih kini mendapat kesempatan mengenakan seragam tim nasional.

Ia membuktikan bahwa mimpi kadang tidak membutuhkan fasilitas yang sempurna untuk tumbuh. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk terus mencoba, bahkan ketika banyak hal terasa terbatas.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.