KabarBaik.co, Malang – Di tengah gempuran permainan digital dan semakin padatnya kawasan permukiman, tradisi bermain layangan di Malang ternyata masih bertahan kuat. Bahkan, layangan khas Malang jenis Sukhoi kini telah menembus pasar internasional hingga Prancis dan Malaysia.
Pemilik Ahoed DC Malang, Lucky Maulana mengatakan, Malang sejak lama dikenal sebagai salah satu pelopor layangan Sukhoi di Indonesia. Reputasi tersebut membuat produk layangan asal Malang tetap diminati hingga mancanegara.
“Malang ini dari dulu terkenal dengan layangan Sukhoi. Sampai sekarang masih dikenal ke mancanegara. Kami pernah kirim ke Prancis dan Malaysia,” ujar Lucky, Minggu (14/6).
Permintaan dari luar negeri pun terbilang besar. Dalam satu kali pengiriman ke Prancis, jumlah layangan yang diekspor bisa mencapai 3.000 hingga 5.000 unit dengan harga berkisar Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per buah.
“Kalau ke Prancis sekali kirim bisa 3.000 sampai 5.000 layangan,” ungkapnya.
Menurut Lucky, kualitas pengerjaan menjadi salah satu faktor utama yang membuat layangan Malang mampu bersaing di pasar global. Meski daerah lain seperti Bandung dan Pasuruan juga dikenal sebagai sentra pengrajin layangan, Malang tetap memiliki tempat tersendiri di kalangan pehobi.
Usaha pembuatan layangan yang dirintis keluarganya sejak tahun 1960 itu masih bertahan hingga kini. Perkembangan teknologi dan pemasaran melalui platform daring turut membuka pasar baru hingga luar Pulau Jawa bahkan mancanegara.
Menariknya, pembeli layangan kelas turnamen justru lebih banyak berasal dari luar Jawa dengan nilai transaksi yang cukup besar.
“Kalau untuk kelas turnamen, pembeli justru lebih banyak dari luar Jawa. Pernah ada pemesanan online sampai Rp 30 juta hingga Rp 50 juta,” ujarnya.
Meski memiliki pasar yang luas, bisnis layangan tetap bersifat musiman. Saat ini penjualan masih relatif landai dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Lucky optimistis permintaan akan kembali meningkat memasuki musim libur sekolah dan puncak musim layangan yang biasanya berlangsung mulai Juni hingga menjelang musim hujan.
“Layangan memang musiman. Biasanya mulai ramai bulan Juni sampai menjelang musim hujan. Kalau sudah musim, turnamen ada terus hampir setiap minggu,” tuturnya.
Kuatnya budaya layangan di Malang juga tercermin dari besarnya komunitas yang masih aktif hingga saat ini. Ribuan pemain layangan tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sawojajar, Gadang, Kepuh hingga kawasan Malang Selatan.
Aktivitas kompetisi pun nyaris tidak pernah berhenti. Setiap pekan, sedikitnya lima hingga enam turnamen layangan digelar secara bergantian di berbagai lokasi dengan jumlah peserta yang selalu membludak.
“Kalau pemain layangan di Kota Malang jumlahnya ribuan. Lomba satu hari saja pasti penuh peserta. Tiap minggu selalu ada turnamen,” jelas Lucky.
Namun di balik geliat tersebut, para pegiat layangan menghadapi tantangan berupa semakin berkurangnya lahan terbuka akibat pembangunan perumahan dan alih fungsi lahan. Kondisi ini dinilai dapat mengancam keberlangsungan tradisi yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Malang selama puluhan tahun.
Karena itu, Lucky berharap pemerintah dapat menyediakan ruang khusus bagi para pegiat layangan, terutama anak-anak, agar tradisi yang telah mengharumkan nama Malang hingga pasar internasional itu tetap terjaga.
“Harapannya ada lahan khusus untuk bermain layangan, terutama bagi anak-anak. Sekarang lahan semakin berkurang karena pembangunan terus berjalan,” tandasnya. (*)






