KabarBaik.co – Talenta muda asal Madura, Achmad Valen Akbar alias Valen Pamekasan, memang tidak juara 1 dalam Konser Kemenangan Dangdut Academy (DA) 7 di Indosiar, Jumat (26/12) malam. Namun, penampilan pelajar MAN 1 Pamekasan itu telah sukses meninggalkan kesan mendalam.
Menurut Cak Nawardi, senator asal Jawa Timur dan salah seorang pendukung Valen Pamekasan, perjuangan sang ‘’pangeran dangdut’’ itu patut mendapat apresiasi.
“Menurut saya dan penonton yang lain, Valen bukan sekadar peserta. Suaranya matang, emosinya tulus, dan mampu bercerita lewat setiap bait lagu yang dibawakan,” ujarnya, Minggu (27/12).
Drama puncak terjadi saat Konser Kemenangan. Valen harus merelakan mahkota juara akibat perolehan virtual gift yang menempatkan Tasya, kontestan asal Tangerang Selatan, di puncak.
“Ya, banyak yang menilai kok begini? Terasa ada keanehan bagi para pendukung Valen. Normal saja itu bagian dari suara publik. Yang pasti, saya melihat Valen tetap tampil maksimal dan profesional,” kata Cak Nawardi.
Di industri hiburan yang sering menekankan rating, Cak Nawardi meyakini bahwa bakat dan dedikasi Valen Pamakesan ke depan tetap bersinar. Asal terus konsisten, rendah hati dan menjaga integritas.
Sebagai pendukung, wajar ada nada kecewa. Namun, kekecewaan itu tidak mengurangi nilai dukungan terhadap Valen Pamekasan. Dukungan untuknya terlihat lebih organik dan nyata. Bukan gaib. Gift datang dari para tokoh masyarakat, pejabat, pengusaha, komunitas UMKM, hingga individu perorangan, tersebar lintas wilayah. Termasuk luar negeri seperti dari Malaysia dan Arab Saudi.
“Valen mungkin runner-up secara angka, tetapi di mata publik menurut saya dia tetap juara. Yang terpenting kan bukan sebatas juara atau tidak. Akuntabilitas sistem, tentu juga tidak kalah penting agar kontestasi berikutnya tidak kehilangan legitimasi,” tegas Cak Nawardi, yang juga turut mengirim gift kategori premium untuk Valen.
Polemik ini menyoroti tantangan baru industri hiburan digital, di mana penonton menjadi “penentu hasil” dan akuntabilitas sistem menjadi kunci.
Untuk menjawab tuntutan akuntabilitas tersebut, lanjut dia, pihak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bisa berperan sebagai wasit yang memverifikasi keabsahan mekanismenya dan identitas pemberi gift. Dengan demikian, kepercayaan publik terhadap kompetisi industry hiburan berbasis ekonomi digital dapat dipulihkan, sambil tetap menghargai bakat dan loyalitas para peserta. (*)






