Dari Gagal Panen ke Ribuan Ayam KUB, Kisah Petani Sudu Bojonegoro Bangkit dari Krisis

oleh -106 Dilihat
Ketua Kelompok Jengkar Mandiri Suwito menunjukkan ternak ayam kampung unggulan.
Ketua Kelompok Jengkar Mandiri Suwito menunjukkan ternak ayam kampung unggulan. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Bojonegoro – Kesejahteraan petani masih menjadi tantangan besar di tengah persoalan harga panen yang kerap dikendalikan tengkulak, keterbatasan pupuk, serangan hama, hingga perubahan iklim yang tidak menentu. Kondisi tersebut pernah dirasakan para petani di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.

Pada 2023, hujan turun hampir sepanjang tahun sehingga hasil panen menurun drastis. Setahun berikutnya, kemarau berkepanjangan kembali membuat petani merugi. Namun di tengah kondisi sulit itu, para petani Desa Sudu memilih untuk bangkit dan mencari jalan keluar bersama.

Melalui Sekolah Lapangan Pertanian, para petani membentuk kelompok “Jengkar Mandiri” sebagai wadah untuk saling membantu dan memperkuat ketahanan pangan keluarga. Mereka aktif melakukan pengamatan lapangan, berkoordinasi dengan pemerintah desa, hingga menyusun rencana aksi menghadapi ancaman gagal panen.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun konsep “Lumbung Pangan Hidup” di pekarangan rumah masing-masing. Melalui program ini, petani memanfaatkan lahan rumah untuk menanam sayuran dan buah-buahan seperti sawi, kangkung, cabai, tomat, labu, terong, jambu, hingga kelengkeng.

Tak hanya itu, mereka juga mulai memelihara ikan lele dan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) sebagai sumber protein sekaligus tambahan penghasilan.

“Awalnya kelompok hanya punya 15 ekor ayam KUB, sekarang sudah lebih dari seribu ekor,” ujar Ketua Kelompok Jengkar Mandiri Suwito, Senin (25/5).

Ketua Kelompok Jengkar Mandiri Suwito menunjukkan ternak ayam kampung unggulan.
Ketua Kelompok Jengkar Mandiri Suwito menunjukkan ternak ayam kampung unggulan. (Foto: Ist)

Menurut Suwito, pengembangan ayam KUB dilakukan agar petani memiliki sumber pendapatan selain dari hasil panen musiman. Dari usaha tersebut, anggota kelompok kini bisa memperoleh pemasukan harian dari penjualan telur sebanyak 100 hingga 300 butir per hari dengan harga Rp 2.000-Rp 2.500 per butir.

Selain itu, mereka juga memperoleh penghasilan bulanan dari penjualan anak ayam atau Day One Chick (DOC) dengan harga sekitar Rp7 ribu per ekor. Sementara setiap tiga bulan sekali, ayam dewasa juga dapat dijual untuk kebutuhan konsumsi.

“Jadi kami tidak terlalu tergantung hasil panen di sawah,” katanya.

Keberhasilan serupa juga dirasakan Siti Linarsih, anggota kelompok Jengkar Mandiri. Perempuan yang akrab disapa Lina itu kini memasarkan DOC ayam KUB secara daring melalui Facebook dan WhatsApp.

Dalam sepekan, Lina mampu menjual 10 hingga 15 ekor anak ayam. Usaha tersebut membantu menopang ekonomi keluarga di sela aktivitasnya bertani, membuka jasa jahit, dan mengikuti kegiatan desa.

“Dulu saya mendapat bantuan lima ayam, alhamdulillah sekarang sudah berkembang lebih dari 100,” ungkap Lina.

Untuk menekan biaya pakan, para petani memanfaatkan sampah organik sisa program Makan Bergizi Gratis. Mereka bekerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terdekat dan setiap hari mengambil sekitar 80 kilogram sampah organik dari dapur umum untuk diolah menjadi pakan ternak.

Suwito mengatakan, pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki saat ini diperoleh melalui Program Pengembangan Sekolah Lapangan Pertanian yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sejak 2019. Kini, Suwito bahkan telah menjadi petani pemandu yang membagikan ilmunya kepada petani lain.

“Semangat belajar kami cukup tinggi, kami juga terus berinovasi,” ujarnya.

Siti Linarsih, anggota Kelompok Jengkar Mandiri menunjukkan telur ayam kampung hasil produksinya.
Siti Linarsih, anggota Kelompok Jengkar Mandiri menunjukkan telur ayam kampung hasil produksinya. (Foto: Ist)

Sebagai operator wilayah kerja Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas terus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani, melalui program pertanian berkelanjutan.

Program Sekolah Lapangan Pertanian yang berjalan sejak 2018 tersebut telah mendampingi lebih dari 600 petani di sekitar Lapangan Minyak Banyu Urip dan Kedung Keris. Bersama mitra Yayasan Daun Bendera (Field Indonesia), para petani didorong menerapkan pertanian berbasis ekologi ramah lingkungan, melakukan pemuliaan benih, hingga mengikuti pembelajaran pertanian ke Vietnam.

External Engagement and Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong pertanian mandiri dan berkelanjutan demi meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurutnya, pendekatan itu tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil panen, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan, kelembapan tanah, serta keberlanjutan ekonomi, sosial, dan ekologi masyarakat.

“Program ini merupakan bentuk apresiasi atas dukungan masyarakat terhadap industri hulu migas. Keberhasilan operasi Blok Cepu tidak akan terwujud tanpa dukungan masyarakat sekitar,” ujar Tezhart.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang terus mendukung pencapaian target produksi nasional dari Blok Cepu.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.