KabarBaik.co, Blitar – Pola penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Blitar mulai bergeser pada tahun ini. Jika selama ini penyakit tersebut identik menyerang anak-anak, kini kelompok usia produktif justru menjadi penyumbang kasus terbanyak.
Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar memastikan seluruh pasien berhasil ditangani tanpa adanya korban jiwa. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto mengatakan, kelompok usia 15–44 tahun menyumbang 34 persen dari total kasus DBD tahun ini.
Persentase yang sama juga ditemukan pada kelompok usia di atas 44 tahun. “Data tahun 2026 menunjukkan dominasi kasus DBD berada pada kelompok usia produktif 15–44 tahun dan kelompok usia di atas 44 tahun, yang masing-masing menyumbang 34 persen. Ini menegaskan bahwa DBD bukan hanya penyakit anak-anak,” ujarnya.
Menurut Anggit, tingginya kasus pada kelompok usia produktif diduga dipengaruhi mobilitas masyarakat yang lebih tinggi. Aktivitas di luar rumah saat siang hari membuat risiko tergigit nyamuk Aedes aegypti semakin besar.
“Orang dewasa yang aktif beraktivitas di lingkungan kerja maupun permukiman juga sangat rentan terpapar. Risiko penularan bisa terjadi di berbagai lokasi, mulai kawasan permukiman, perkantoran, pasar hingga fasilitas umum yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” jelasnya.
Meski kelompok usia dewasa kini mendominasi kasus, Anggit menyebut penanganan pasien berjalan optimal. Hingga saat ini tidak ada laporan kematian akibat DBD di Kabupaten Blitar sepanjang 2026. “Seluruh pasien DBD yang menjalani perawatan berhasil ditangani tanpa adanya kasus kematian,” katanya.
Dinkes tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. Pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus diminta terus dilakukan, tidak hanya di lingkungan rumah tetapi juga di tempat kerja dan fasilitas umum.
“Kami mengimbau masyarakat rutin menerapkan 3M Plus agar risiko penularan DBD dapat ditekan. Upaya pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif untuk memutus rantai penyebaran,” pungkas Anggit. (*)






