KabarBaik.co, Blitar – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar tetap mewaspadai lima wilayah dengan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi meski kasus tersebut turun signifikan sepanjang 2026. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dinilai menjadi kunci agar tren penurunan kasus tidak berbalik meningkat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto mengatakan, hingga pertengahan 2026 tercatat 44 kasus DBD. Dari jumlah tersebut, wilayah kerja Puskesmas Boro menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan delapan kasus, disusul Puskesmas Wates tujuh kasus, Puskesmas Kademangan enam kasus, Puskesmas Kanigoro lima kasus, dan Puskesmas Wlingi empat kasus.
“Walaupun secara umum kasus DBD mengalami penurunan cukup signifikan, pemetaan kasus per wilayah tetap kami lakukan. Puskesmas Boro dan Wates saat ini menjadi perhatian kami untuk memperkuat gerakan PSN dan edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Anggit menegaskan, tingginya kasus di beberapa wilayah tersebut tidak diikuti dengan meningkatnya angka kematian. Seluruh pasien yang terkonfirmasi DBD pada tahun ini berhasil mendapatkan penanganan hingga sembuh. “Case Fatality Rate (CFR) DBD di Kabupaten Blitar sampai saat ini masih nol persen. Artinya, tidak ada pasien yang meninggal akibat DBD karena seluruhnya dapat ditangani dengan baik,” katanya.
Untuk menekan penyebaran penyakit, Dinkes bersama puskesmas terus menggencarkan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), program Satu Rumah Satu Jumantik, hingga pembagian larvasida di wilayah yang dinilai berisiko.
Menurut Anggit, keberhasilan menekan kasus DBD tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. “Kami mengimbau masyarakat tetap rutin menerapkan 3M Plus. Jangan sampai karena kasus menurun masyarakat menjadi lengah, sebab potensi penularan DBD masih tetap ada,” pungkasnya. (*)






