KabarBaik.co, Surabaya – Aksi demo ratusan orang yang tergabung dalam gerakan ‘Warga Surabaya Turun ke Jalan #IndonesiaSekarat’ di Gedung Grahadi berakhir ricuh pada. Situasi memanas setelah massa melakukan tindakan anarkis dengan membakar sampah dan melemparkan berbagai benda ke arah petugas keamanan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, suasana yang awalnya berjalan dengan orasi kritis berubah menjadi tegang. Massa terlihat mendorong tumpukan sampah ke tengah jalan lalu membakarnya. Asap hitam mengepul memenuhi area Jalan Gubernur Suryo.
Tak hanya itu, massa juga diketahui melemparkan berbagai benda ke arah barikade petugas yang berjaga di halaman Gedung Grahadi.
Melihat situasi yang semakin brutal dan tidak terkendali, petugas kepolisian segera bertindak tegas untuk menghalau massa guna mencegah kerusakan lebih lanjut dan menjaga keamanan fasilitas negara.
Awal Mula Aksi
Sebelum kericuhan terjadi, massa yang terdiri dari gabungan elemen mahasiswa, buruh, masyarakat umum, hingga kelompok pengangguran mulai tiba di lokasi, Jumat (26/6) sekitar pukul 16.20 WIB. Mereka memadati area tersebut hingga menutup separuh badan jalan.
Suasana sempat dipenuhi berbagai spanduk dan banner kritis yang dipasang di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Salah satu banner bergambar kartun Presiden Prabowo Subianto bertuliskan kata-kata khas Surabaya seperti ‘Prabowo Kowarso-kowarso’, ‘gendarseng’, ‘lemes’, dan ‘longor’. Ada juga tulisan ‘klakson kalau capek jadi WNI’ yang sempat disambut riuh oleh para pengendara yang melintas.

Kritik Kebijakan dan Tuntutan Ekonomi
Jubir Front Anti Kapitalisme, Septia Rahma, sebelumnya menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kelanjutan perlawanan warga Surabaya terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan negara yang dinilai semakin mencekik rakyat kecil.
“Hari ini adalah perpanjangan atau nafas dari perlawanan Kota Surabaya. Seperti yang kita lihat, apa-apa mahal, bahan pokok juga naik. Itu juga dikeluhkan oleh saya selaku pengusaha UMKM,” ujar Septia sebelum situasi memanas.
Massa membawa 11 tuntutan krusial yang ditujukan langsung kepada pemerintah pusat. Tuntutan utama meliputi penurunan harga BBM dan kebutuhan pokok, serta realisasi janji kampanye Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait penyediaan lapangan kerja.
Mengenai istilah ‘lemes’ dan ‘longor’, Septia menjelaskan bahwa kata tersebut dipilih karena pemerintah dinilai lemas dalam membuat kebijakan yang tidak menyentuh akar rumput, namun aparat justru terlihat represif terhadap masyarakat sipil.
“Kita pakai bahasa ini karena lebih melokal, lebih dekat dengan warga Surabaya dan lebih bisa terus diingat bahwa pemerintah kita per hari ini cuma bisa lemes dan longor,” jelasnya.
Massa juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai tidak menyelesaikan masalah fundamental, dan menilai anggaran seharusnya lebih diprioritaskan untuk pendidikan, kesehatan, serta fasilitas umum.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di depan Gedung Grahadi masih dalam kondisi terkendali oleh aparat keamanan setelah sempat terjadi gesekan dan kericuhan.
Daftar 11 Tuntutan Massa:
1. Turunkan Harga Kebutuhan Pokok dan BBM
2. Hentikan Program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih
3. Cabut UU Polri dan UU TNI
4. Ciptakan Lapangan Kerja yang Layak
5. Bubarkan Komando Teritorial dan Hentikan Keterlibatan TNI dalam Ranah Sipil
6. Hentikan Reklamasi Surabaya Waterfront Land
7. Bebaskan Seluruh Tahanan Politik dan Pulihkan Nama Baik Mereka
8. Prioritaskan Anggaran Pendidikan dan Kesehatan
9. Ciptakan dan Perbanyak Transportasi Umum yang Layak, Inklusif, dan Gratis
10. Bubarkan Parlemen dan Bangun Kuasa Rakyat
11. Akhiri Kepemilikan Pribadi Atas Alat-alat Produksi (*)






