Di Balik Napas Terakhir Tiga Dokter Muda saat Jalani Masa Internship

oleh -255 Dilihat
IMG 20260406 171913

KabarBaik, Jakarta– Di balik image jas putih bersih dan tampak berwibawa, terbentang perjalanan panjang penuh pengorbanan, paparan risiko tinggi, serta tanggung jawab atas keselamatan bahkan nyawa orang lain.

Tiga kasus duka yang menimpa dokter muda pada awal 2026 menjadi pengingat penting bahwa menjadi dokter jauh dari sekadar profesi “nyaman” atau v“enak” seperti terbayang di benak banyak calon mahasiswa atau orang tua.

Pada Februari-Maret 2026 lalu, Indonesia kehilangan tiga dokter yang sedang menjalani Program Internship Dokter Indonesia (PIDI). Yakni, dr Kartika Ayu Permatasari, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) angkatan 2019, berpulang pada 25 Februari 2026 saat bertugas di RS Bina Bhakti Husada Rembang. Ia dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi infeksi campak yang menyerang sistem pernapasan.

Beberapa waktu kemudian, 17 Maret 2026, dr Edgar Bezaliel Hartanto, alumni FK Ciputra Surabaya tahun 2017, wafat di Denpasar. Penyebabnya disebut Demam Berdarah Dengue (DBD) yang berkembang cepat menjadi Dengue Shock Syndrome. Tak lama berselang, pada 26 Maret 2026, dr Andito Mohammad Wibisono, juga lulusan FKUI angkatan 2019 dan berusia 26 tahun, meninggal di RSUD Cimacan, Cianjur, Jawa Barat. Kabarnya, ia terpapar campak saat menangani pasien di RSUD Pagelaran atau Puskesmas Sukanagara. Gejala demam muncul sekitar 18 Maret, diikuti ruam, sesak napas, pneumonia, gangguan jantung, dan radang otak (ensefalitis). Meski sempat dirawat di ICU dan diintubasi, kondisinya tak tertolong.

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa ketiga kasus tersebut tidak disebabkan oleh kelebihan beban kerja. Jam kerja mereka berada di bawah 40–48 jam per minggu sesuai ketentuan, dan izin sakit telah diberikan. Namun, beberapa dokter muda cenderung mencoba merawat diri sendiri terlebih dahulu, sehingga kondisi sudah memburuk saat dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap.

Kasus ini menyoroti risiko nyata di garis depan pelayanan kesehatan bahwa paparan penyakit menular yang tinggi, seperti campak yang mudah menular melalui udara, dan penyakit tropis seperti DBD yang bisa berubah menjadi syok dalam waktu singkat.

Lantas, apa sebenarnya dokter internship itu? Banyak orang mungkin membayangkan setelah lulus pendidikan, ujian kompetensi dan mengucapkan sumpah dokter, mereka langsung bisa praktik mandiri dengan gaji besar dan jadwal fleksibel. Padahal, ada tahap-tahap krusial yang wajib dilewati. Yaknu, Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) selama satu tahun penuh. Enam bulan dihabiskan di Puskesmas, biasanya di daerah terpencil atau pelosok, dan enam bulan lagi di Rumah Sakit.

Tujuannya adalah memantapkan ilmu, meningkatkan keterampilan klinis, serta membangun kemandirian sebagai dokter umum dengan pendekatan kedokteran keluarga. Saat menjalani internship, mereka sudah menyandang gelar “dr.” dan memiliki Surat Tanda Registrasi sementara, tetapi masih bekerja di bawah supervisi dokter pendamping.

Tugas mereka ini sangat nyata, menangani pasien sehari-hari, melakukan prosedur dasar, menghadapi kasus darurat, dan melayani masyarakat di fasilitas dengan sumber daya yang kerap terbatas. Tanpa menyelesaikan internship, seorang dokter sulit memperoleh Surat Izin Praktik penuh sebagai dokter umum. Program ini sekaligus menjadi upaya pemerintah untuk pemerataan tenaga kesehatan ke seluruh pelosok negeri.

Perjalanan menjadi dokter di Indonesia jauh lebih panjang dan berat daripada yang terlihat. Dimulai dari kuliah Sarjana Kedokteran selama 3,5 – 4 tahun dengan materi yang sangat padat, dilanjutkan demmasa Koas atau program profesi selama 1,5 – 2 tahun sebagai dokter muda di rumah sakit pendidikan. Di tahap ini, mereka belum digaji, sering kurang tidur, dan langsung berhadapan dengan pasien dalam jumlah besar.

Baru setelah lulus Uji Kompetensi Dokter Indonesia dan sumpah dokter, mereka resmi menyandang gelar dr. Kemudian datanglah masa internship satu tahun tersebut. Setelah itu barulah seorang dokter bisa memilih: praktik sebagai dokter umum atau melanjutkan ke pendidikan spesialis (PPDS) yang memakan waktu 4-6 tahun lagi. Totalnya, sering mencapai tujuh hingga sepuluh tahun atau lebih. Biaya pendidikan yang tinggi, ditambah pengorbanan waktu dan tenaga, membuat banyak yang bertanya-tanya apakah bayangan “enaknya” menjadi dokter memang sesuai realita.

Di lapangan, dokter muda sering menghadapi paparan penyakit infeksi tanpa APD yang sempurna, fasilitas yang terbatas, tekanan emosional ketika pasien tak tertolong, serta stigma bahwa dokter harus selalu kuat dan tak boleh sakit. Bantuan biaya hidup selama internship biasanya total berkisar Rp 3 hingga Rp 6,4 juta per bulan, bergantung daerah penempatan, belum sebanding dengan risiko yang dihadapi. Banyak calon mahasiswa hanya melihat sisi prestisius dan penghasilan jangka panjang.

Padahal profesi ini menuntut pengorbanan fisik, mental, dan waktu keluarga yang luar biasa. Kelelahan kronis, risiko burnout, serta ancaman keselamatan jiwa adalah bagian dari kenyataan yang jarang ditampilkan di media atau media sosial.

Kasus ketiga dokter muda tersebut bukanlah untuk menakut-nakuti generasi muda yang bercita-cita menjadi dokter, melainkan untuk membuka mata lebar-lebar. Menjadi dokter adalah panggilan jiwa nan mulia yang penuh kemanusiaan, tetapi juga penuh tantangan.

Sebelum memutuskan masuk fakultas kedokteran, kiranya penting bagi calon mahasiswa dan orang tua untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah siap menghadapi kematian pasien di depan mata, paparan penyakit setiap hari, serta pengorbanan waktu bersama keluarga? Apakah motivasi murni passion untuk menyembuhkan orang, atau hanya terpikat oleh image “keren” dan “kaya”? Apakah saya paham bahwa ilmu kedokteran terus berkembang dan menuntut belajar seumur hidup?

Sejatinya, Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia telah menekankan pentingnya vaksinasi lengkap, termasuk campak, penggunaan alat pelindung diri yang disiplin, deteksi dini gejala, serta larangan keras bagi tenaga kesehatan untuk mengobati diri sendiri. Bagi calon dokter, saatnya mempersiapkan mental dan fisik sejak dini, bukan hanya mengejar nilai UTBK yang tinggi.

Ketiga dokter tersebut menjadi contoh sebuah pengabdian dengan tulus di awal karier mereka. Kepergian dr Kartika, dr Edgar, dan dr Andito tentu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan dunia kedokteran Indonesia. Namun, tragedi ini juga membawa pelajaran berharga. jas putih bukan jubah superhero yang kebal segala penyakit, melainkan simbol tanggung jawab besar terhadap nyawa sesama manusia.

Bagi siapa pun yang masih bermimpi menjadi dokter, hormatilah panggilan itu dengan memahami seluruh risikonya. Karena di balik setiap kesembuhan yang dirayakan, ada pengorbanan yang tak selalu terlihat.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga pengabdian mereka dan dokter lain yang telah berpulang menjadi amal jariyah, dan kasus seperti ini mendorong sistem kesehatan yang lebih melindungi para pahlawan garis depan di masa depan.

Bagi para calon mahasiswa kedokteran, cerita ini sebagai bahan renungan mendalam vsebelum melangkah. Mimpi indah itu penting, tapi realita profesi dokter jauh lebih kompleks dan membutuhkan kesiapan yang matang. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.