Di Bawah Kepemimpinan Prabowo-Gibran, Peringkat Kebahagiaan Indonesia Terus Merosot

oleh -755 Dilihat
Prabowo Gibran
Presiden dan Wapres RI terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka akan dilantik pada 20 Oktober 2024.

KabarBaik.co, Jakarta-Bulan madu pemerintahan baru sudah berakhir. Hari-hari Presiden Prabowo Subianto-Wapres Gibran Rakabuming Raka beserta jajaran kabinet tampaknya harus segera diisi dengan kerja ekstrakeras.

Hasil rilis laporan World Happiness Report 2026 membawa pesan peringatan yang tajam bagi pemerintahan Prabowo. Peringkat kebahagiaan Indonesia terpuruk di urutan ke-87 global, melanjutkan tren penurunan beruntun yang terbilang mengkhawatirkan.

Secara peringkat, posisi Indonesia di mata global terus mengalami kemerosotan. Pada edisi 2024, Indonesia masih menempati posisi 80, kemudian turun ke posisi 83 pada 2025, dan kini harus puas terlempar ke urutan 87 dari 147 negara.  Tren penurunan ini otomatis menjadi “rapor merah” yang kini jatuh tepat di meja kerja dan menjadi tanggung jawab Prabowo-Gibran.

Ironisnya, merosotnya peringkat tersebut terjadi bukan karena skor Indonesia anjlok secara absolut. Skor Indonesia justru terbilang mandek atau sedikit naik ke angka 5,617 dari 5,568 pada 2024.

Penurunan peringkat tersebut justru menjadi bukti tak terbantahkan bahwa langkah Indonesia menuju kesejahteraan berjalan terlalu lambat. Tertinggal jauh dari lari kencang negara-negara tetangga di kawasan ASEAN, seperti Vietnam yang melesat ke peringkat 45, Thailand (52), hingga Filipina (56).

Siapa di Balik Laporan Ini dan Bagaimana Mengukurnya?

Publik mungkin bertanya-tanya, siapa yang berhak mengukur kebahagiaan sebuah negara? World Happiness Report bukanlah laporan sembarangan. Publikasi tahunan ini merupakan hasil kerja sama bergengsi antara lembaga riset kesejahteraan Universitas Oxford, Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDSN), dan komite redaksi independen.

Data utamanya bersumber langsung dari Gallup World Poll, lembaga jajak pendapat global yang melakukan survei komprehensif ke ratusan ribu responden di seluruh dunia. Metode yang digunakan adalah skala Cantril Ladder, di mana responden diminta membayangkan sebuah tangga dengan anak tangga bernomor 0 (kehidupan terburuk) hingga 10 (kehidupan terbaik), dan menilai di anak tangga mana mereka merasa berada saat ini.

Baca Juga: Di Bawah Kepemimpinan MBS, Arab Saudi Melompat ke Peringkat 22 Negara Paling Bahagia di Dunia

Untuk membedah mengapa skor suatu negara bisa tinggi atau rendah, para peneliti menggunakan enam indikator utama. Berikut adalah potret performa Indonesia berdasarkan indikator tersebut:

  • Dukungan Sosial: Poin terkuat Indonesia. Warga bertahan dan merasa bahagia karena memiliki ikatan kekeluargaan dan budaya gotong royong yang kuat di saat krisis.
  • PDB Per Kapita: Mengukur kekuatan ekonomi dan daya beli rata-rata penduduk, yang menyumbang poin cukup stabil seiring pertumbuhan makroekonomi.
  • Kebebasan Menentukan Pilihan: Seberapa puas warga dengan kebebasan mengatur hidupnya sendiri tanpa tekanan eksternal.
  • Angka Harapan Hidup Sehat (Titik Kritis): Tidak hanya soal umur panjang, tapi kualitas kesehatan fisik dan mental di usia tua. Ini menjadi alarm bahaya karena skor Indonesia masih sangat rendah.
  • Kedermawanan: Tingkat kesukarelaan warga dalam berdonasi atau membantu sesama.
  • Persepsi Korupsi (Rapor Terburuk): Tingkat kepercayaan publik terhadap kebersihan pemerintah dan dunia bisnis. Skor Indonesia sangat hancur di sektor ini, menunjukkan bahwa korupsi adalah “pencuri” utama kebahagiaan rakyat.

Ujian Nyata Pemerintahan Prabowo

Bagi pemerintahan Prabowo-Gibran, enam indikator di atas adalah kisi-kisi ujian yang sangat jelas. Ambisi pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dan rentetan program unggulan yang dijanjikan saat kampanye harus segera dibuktikan efektivitasnya dalam mendongkrak ketenangan batin warga secara nyata, bukan sekadar angka statistik makro. Atau malah membuat jurang ketidakpercayaan makin melebar.

Jika pemerintah saat ini lamban merespons, bukan tidak mungkin di tahun-tahun mendatang, peringkat kebahagiaan Indonesia akan semakin terperosok ke jurang klasemen dunia. Pertumbuhan ekonomi memang penting, namun pada akhirnya, negara hadir untuk membuat rakyatnya hidup bahagia dan sejahtera. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.