Pacu Nilai Tambah Nasional, Presiden Prabowo Resmikan Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Tahap II

oleh -69 Dilihat
Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II
Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II

KabarBaik.co  Cilacap – Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II yang dipusatkan di Cilacap pada Rabu (29/4).

Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dan terhubung dengan sejumlah lokasi strategis di berbagai daerah, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang mengikuti prosesi secara daring.

Langkah ini menandai percepatan nyata agenda hilirisasi nasional, khususnya di sektor perkebunan sebagai fondasi penting ekonomi Indonesia.

Program hilirisasi ini diarahkan untuk memperkuat industri berbasis sumber daya alam, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, serta memperkokoh ketahanan energi, pangan, dan ekonomi nasional.

Sektor perkebunan menjadi salah satu fokus utama karena selama ini masih didominasi ekspor bahan mentah, seperti crude palm oil (CPO), kelapa, dan komoditas rempah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi perkebunan merupakan strategi kunci untuk mentransformasi struktur ekonomi nasional.

“Kita tidak boleh lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah. Hilirisasi adalah jalan untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat kesejahteraan petani,” ujarnya.

Menurut Mentan Amran, integrasi hulu-hilir akan menciptakan sistem produksi yang efisien sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.

Rosan Roeslani juga menyampaikan bahwa pembangunan 13 proyek tahap kedua ini merupakan kelanjutan dari fase awal hilirisasi nasional yang telah berjalan sebelumnya. Fase ini menjadi pijakan penting untuk memperluas ekosistem industri berbasis sumber daya domestik.

“Pemerintah memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia tidak lagi diekspor mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan daya saing global,” ujarnya.

Salah satu proyek strategis dalam fase ini adalah pengembangan fasilitas pengolahan kelapa sawit di KEK Sei Mangkei. Proyek ini menjadi simbol transformasi hilirisasi perkebunan, khususnya sawit, menuju industri yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Sementara itu, pengembangan industri hilir sawit di KEK Sei Mangkei difokuskan pada pengolahan CPO menjadi produk oleofood, bahan baku industri pangan, serta biodiesel.

Proyek ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas sawit, tetapi juga memperkuat implementasi program mandatori bioenergi nasional.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kuntoro Boga menegaskan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat ekosistem hilirisasi perkebunan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Sei Mangkei memiliki posisi strategis sebagai pusat pertumbuhan industri berbasis sawit di wilayah barat Indonesia. Hilirisasi ini akan meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Di atas lahan sekitar 10 hektare, akan dibangun sejumlah fasilitas industri hilir secara bertahap. Salah satunya adalah pabrik oleofood yang memproduksi margarin dan shortening menggunakan teknologi kristalisasi tanpa hidrogenasi, sehingga menghasilkan produk pangan yang lebih sehat.

Pabrik ini direncanakan berkapasitas 35.000 ton per tahun dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2027.

Selain itu, akan dikembangkan pabrik Cocoa Butter Substitute (CBS) dan Cocoa Butter Equivalent (CBE) dengan kapasitas 25.000 ton per tahun yang ditargetkan beroperasi pada 2028. Produk ini memiliki nilai strategis dalam industri makanan dan cokelat, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

Penguatan hilirisasi juga diarahkan pada pembangunan pabrik biodiesel berkapasitas sekitar 450.000 ton per tahun yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Produksi fatty acid methyl ester (FAME) ini menjadi sangat penting dalam konteks global yang diwarnai ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga energi fosil.

Keberadaan pabrik ini diharapkan mampu menutup kesenjangan produksi biodiesel nasional serta mendukung implementasi program B50 bahkan lebih tinggi.

Lebih luas, pemerintah juga mendorong hilirisasi komoditas perkebunan lainnya di berbagai daerah. Di Maluku Tengah, misalnya, dikembangkan industri pengolahan pala menjadi oleoresin. Sementara itu, industri kelapa terpadu diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai tinggi seperti minyak MCT, tepung kelapa, dan karbon aktif. Di Morowali, pembangunan ekosistem agroindustri terintegrasi menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi berbasis wilayah.

Dari keseluruhan proyek yang dijalankan, diperkirakan akan tercipta lapangan kerja hingga sekitar 600.000 orang. Nilai investasi yang telah berjalan, termasuk di luar fase pertama dan kedua, mencapai sekitar 26 miliar dolar AS, menunjukkan besarnya potensi hilirisasi sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Melalui sinergisitas antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan, hilirisasi perkebunan diharapkan menjadi pengungkit utama pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan ekspor, serta penguatan industri nasional berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.