KabarBaik.co, Mataram — Dinas Kebudayaan Nusa Tenggara Barat mulai memperkuat langkah membangun ekosistem kebudayaan yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, komunitas budaya, media, dunia usaha, hingga lembaga nasional dan internasional.
Sinergi tersebut diharapkan menjadi fondasi penguatan identitas budaya NTB di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan penguatan kebudayaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui festival atau kegiatan seremonial semata.
Menurutnya, kebudayaan harus hadir dan hidup dalam perilaku sehari-hari masyarakat.
Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, Ihwan tetap optimis dan menegaskan tidak ingin kebudayaan hanya ramai dibicarakan di media sosial, tetapi kehilangan makna dalam kehidupan nyata.
Katanya, ukuran keberhasilan pembangunan kebudayaan bukan terletak pada megahnya panggung acara atau banyaknya agenda yang digelar, melainkan pada perubahan sikap masyarakat, terutama generasi muda.
“Kalau anak-anak muda NTB tetap santun dalam bertutur, bangga menggunakan bahasa dan budayanya, menghormati orang tua, serta percaya diri membawa identitas daerahnya di tengah pergaulan global, maka di situlah kebudayaan bekerja,” ujarnya, Jumat (8/5).
Menurutnya identitas NTB sebagai daerah religius dengan julukan Pulau Seribu Masjid merupakan modal sosial yang besar. Nilai-nilai adat dan agama yang hidup di tengah masyarakat dinilai dapat menjadi perekat sosial sekaligus kekuatan pembangunan daerah.
Karena itu, arah kebijakan Dinas Kebudayaan NTB tidak hanya berbicara tentang pelestarian budaya, tetapi juga bagaimana kebudayaan hadir dalam pembangunan manusia, penguatan ekonomi kreatif, pendidikan, mitigasi konflik sosial, hingga pengembangan sektor pariwisata.
Dalam kerangka tersebut, Dinas Kebudayaan NTB mulai menyusun 12 program unggulan kebudayaan secara bertahap. Program itu meliputi penguatan data 12 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) NTB, budaya masuk sekolah, pengembangan desa dan kampung budaya, revitalisasi permainan rakyat dan olahraga tradisional, penguatan literasi budaya ASN, pengembangan festival budaya terpadu NTB, digitalisasi warisan budaya, revitalisasi museum dan taman budaya, fasilitasi komunitas seni dan budaya, penguatan diplomasi budaya NTB, pengembangan ekonomi budaya berbasis masyarakat, hingga penguatan kebudayaan sebagai instrumen ketahanan sosial.
Dikatakan Ihwan, program-program tersebut bukan proyek instan yang dapat selesai dalam waktu singkat. Sebagian besar masih berada pada tahap penguatan fondasi dan membutuhkan dukungan lintas sektor agar bisa berjalan berkelanjutan.
Ia menilai kebudayaan tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang tertinggal oleh modernitas. Sebaliknya, nilai-nilai warisan leluhur harus menjadi kompas moral agar masyarakat NTB tetap memiliki arah di tengah derasnya perkembangan zaman.
Baginya, menjaga budaya bukan berarti menolak kemajuan, tetapi memastikan masyarakat tetap memiliki identitas dan pijakan nilai di tengah dunia yang terus berubah.(*)







