Dinas Pertanian Tulungagung Manfaatkan Dana Cukai untuk Peningkatan SDM Petani Tembakau di Empat Kecamatan

oleh -7 Dilihat
tulungagung4
Pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2025 kembali memberi manfaat nyata bagi masyarakat

KabarBaik.co – Pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2025 kembali memberi manfaat nyata bagi masyarakat Tulungagung, khususnya para petani tembakau. Melalui Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, alokasi dana tersebut difokuskan pada peningkatan kualitas bahan baku tembakau sekaligus penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani di tingkat produksi.

Program ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah daerah untuk menjaga kualitas tembakau lokal sekaligus mengamankan keberlanjutan sektor pertembakauan sesuai amanat pemerintah pusat. Dinas Pertanian menegaskan bahwa, DBHCHT fokus pada program pengembangan manusia sebagai pelaku utama pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Drs. Suyanto, M.M melalui Penyuluh Lapangan Dinas Pertanian, Ahmad Junaidi, menjelaskan bahwa program di tahun 2025 diprioritaskan untuk peningkatan kualitas bahan baku tembakau.

“Jadi di kami memang fokus pada program peningkatan kualitas bahan baku, khusus untuk pengamanan di tingkat produksi kepada masyarakat petani tembakau,” ungkap Ahmad Junaidi saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, DBHCHT memberi ruang besar bagi pemerintah daerah untuk memberdayakan petani agar tidak hanya mengandalkan pola lama, tetapi mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi budidaya modern. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan mutu hasil tembakau sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai produksi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tahun ini kegiatan dimulai dengan pelatihan kelembagaan bagi kelompok tani tembakau. Fokusnya meningkatkan kapasitas SDM, mengembangkan pola pikir, dan memperbaiki manajemen usaha tani.

“Kami di bidang penyuluhan fokus pada peningkatan SDM. Outputnya menghasilkan perubahan perilaku dari pelaku usaha dan petani itu sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perubahan pola pikir menjadi salah satu kunci utama. Melalui penyuluhan, petani diharapkan lebih terbuka terhadap inovasi dan mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih efisien.

“Peningkatan SDM berfokus pada bagaimana merubah pola perilaku petani konvensional menjadi petani yang lebih maju,” tambahnya.

Untuk mencapai sasaran, Dinas Pertanian menerapkan dua metode penyuluhan, yakni penyuluhan langsung dan tidak langsung. Penyuluhan langsung dilakukan melalui tatap muka, pendampingan lapangan, serta konsultasi teknis. Sedangkan penyuluhan tidak langsung dilakukan melalui media massa dan elektronik, seperti koran, televisi, serta media sosial.

“Dengan kedua metode itu, dari yang belum tahu menjadi tahu, jadi yang belum bisa menjadi bisa, dan yang tidak mau menjadi mau,” jelasnya.

Pada tahun 2025, program peningkatan SDM petani tembakau menyasar empat kecamatan dengan pendampingan intensif dari tiga penyuluh lapangan. Kelompok tani yang menerima program yaitu kelompok Tani Rukun Santoso di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu Kelompok Tani Ngudi Luhur di Desa Pojok Kecamatan Campurdarat, Kelompok Tani Gesikan Kedung Mulyo di Kecamatan Pakel serta Kelompok Tani Sumber Makmur di Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang.

Setiap kelompok beranggotakan sekitar 25 orang yang akan mengikuti rangkaian pelatihan dan sekolah lapangan.

“Tahun ini peningkatan SDM bakal menyasar empat kecamatan. Tiga pengurus akan terjun ke lapangan untuk melakukan peningkatan kapasitas manajerial di lapangan,” terangnya.

Salah satu kegiatan yang sudah berjalan ialah penanaman demo percontohan yang dimulai sejak Juli 2025. Program ini berfungsi sebagai media belajar langsung bagi petani terkait teknologi budidaya tembakau, mulai dari penyemaian hingga masa panen. Sementara beberapa kelompok lain dijadwalkan memulai penanaman kembali pada November, menyesuaikan kondisi iklim.

Demo percontohan tersebut dikombinasikan melalui metode sekolah lapangan, yaitu kelas belajar non-formal yang memungkinkan petani memperoleh pengetahuan melalui praktik langsung.

“Saat sekolah lapangan, penyuluh memberikan fasilitas dan petani ditransfer teknologi mulai dari penyemaian sampai tahapan akhir masa panen,” jelas Ahmad Junaidi.

Tidak hanya berhenti pada tahap pendidikan, penyuluh juga akan melakukan evaluasi berkala terhadap perkembangan budidaya di masing-masing kelompok tani.

“Penyuluh nanti akan memantau dan mengamati secara periodik perkembangan dari awal, masa perawatan daun hingga panen, dan hasil pengamatan akan dijadikan kesimpulan berikutnya,” tutupnya. (Yd)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Kukuh Febrianto
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.