KabarBaik.co, Batu – Pemanfaatan Sumber Genengan di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, untuk suplai air bersih bagi ribuan warga mulai menemukan titik terang. DPRD Kota Batu, Perumdam Among Tirto, kelompok tani, serta warga setempat sepakat mencari solusi bersama agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi tanpa mengorbankan sektor pertanian.
Kesepakatan itu mengemuka saat Komisi B DPRD Kota Batu bersama jajaran Perumdam dan petani melakukan peninjauan langsung ke lokasi sumber air pada Sabtu (16/5). Dalam kunjungan tersebut, seluruh pihak melihat langsung titik sumber yang direncanakan untuk mendukung distribusi air bersih ke wilayah Pendem, Mojorejo, dan Beji.
Ketua Komisi B DPRD Kota Batu, Asmadi mengatakan, pihaknya sempat menerima kekhawatiran dari petani terkait potensi berkurangnya pasokan air irigasi. Namun setelah melihat kondisi lapangan secara langsung, ia menilai debit air yang akan dimanfaatkan relatif kecil dan tidak berasal dari sumber induk utama.
“Setelah kami cek bersama, debit yang diambil sekitar 4,7 liter per detik dan bukan dari sumber utama. Petani juga sudah melihat langsung titiknya,” ujar Asmadi. Menurutnya, DPRD mendukung langkah pemanfaatan sumber air tersebut lantaran menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Diperkirakan sekitar 2.000 warga di wilayah Beji, Mojorejo, dan Pendem masih mengalami kekurangan pasokan air bersih.
Meski demikian, Asmadi menegaskan agar pemenuhan kebutuhan air masyarakat tidak sampai mengurangi hak petani atas air irigasi. DPRD juga meminta pemerintah daerah lebih memperhatikan kebutuhan infrastruktur pertanian di wilayah terdampak.
“Kebutuhan air bersih warga memang penting, tapi jangan sampai pertanian dirugikan. Pemerintah juga harus hadir membantu kebutuhan petani,” tegasnya.
Direktur Perumdam Among Tirto, Achmad Yusuf atau Gendon, menjelaskan bahwa kunjungan lapangan dilakukan untuk memberikan pemahaman secara terbuka kepada petani mengenai rencana teknis pemanfaatan sumber air tersebut. “Kami ingin semua pihak memahami titik sumber yang dimanfaatkan dan bagaimana teknis pengelolaannya nanti,” kata Gendon.
Ia menyebut Perumdam tidak berjalan sendiri dalam program ini. Koordinasi dengan Dinas PUPR dan Dinas Pertanian akan dilakukan, terutama terkait perbaikan pintu dam, pembenahan jaringan irigasi, hingga rencana pembangunan embung penunjang.
Selain itu, Perumdam juga menyiapkan alternatif pengganti debit air yang diambil dari sumber utama. Salah satunya melalui pemanfaatan limpasan air sungai di kawasan depan MAN Kota Batu yang terlebih dahulu akan diuji kualitasnya melalui laboratorium.
“Kalau hasil uji laboratorium dinyatakan aman untuk pertanian, maka air limpasan itu akan dialirkan menggunakan pipa sebagai pengganti debit air yang kami ambil,” jelasnya.
Gendon menilai tahap paling penting saat ini adalah pelaksanaan uji coba teknis di lapangan. Dengan trial tersebut, seluruh pihak dapat mengetahui secara langsung apakah pengambilan debit air benar-benar berdampak terhadap pertanian atau tidak. “Kalau hanya diskusi tanpa uji coba, persoalan ini tidak akan selesai. Karena itu trial harus segera dilakukan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Bagian Teknik Perumdam Among Tirto, Ikhwan Hadi. Menurutnya, pertemuan lapangan tersebut menjadi langkah awal yang baik untuk membangun kesepahaman antara Perumdam dan kelompok tani.
Ia memastikan jumlah air yang akan dimanfaatkan hanya berkisar 4 hingga 5 liter per detik sehingga diyakini tidak akan mengganggu kebutuhan irigasi sawah warga. “Harapannya kebutuhan air masyarakat bisa terpenuhi tanpa mengurangi suplai untuk pertanian. Nanti lewat trial, petani bisa melihat sendiri dampaknya,” kata Ikhwan.
Sementara itu, salah satu petani asal Glonggong, Temas, Kusnan, mengaku menyambut baik upaya dialog terbuka yang dilakukan bersama DPRD dan Perumdam. Menurutnya, terdapat beberapa alternatif solusi agar kebutuhan pertanian dan air bersih masyarakat bisa berjalan seimbang.
“Misalnya dengan tambahan pasokan dari aliran depan MAN Kota Batu atau pembangunan tandon kecil. Yang penting ada solusi bersama,” ungkap Kusnan.
Ia menegaskan para petani pada dasarnya tidak menolak kebutuhan air bersih bagi masyarakat. Namun komunikasi dan keterbukaan dinilai menjadi hal penting agar tidak muncul kesalahpahaman di lapangan. “Kami paham warga juga membutuhkan air bersih. Yang penting semuanya dibicarakan bersama supaya tidak terjadi gesekan,” tandasnya.
Saat ini proses sosialisasi pemanfaatan Sumber Genengan disebut telah memasuki tahap kedua. Selanjutnya akan dilakukan normalisasi dam, penyusunan kesepakatan bersama, hingga pelaksanaan uji coba aliran air sebelum program dijalankan secara penuh. (*)








