Efisiensi PPLS di Tengah 20 Tahun Lumpur Lapindo Jadi Kekhawatiran Warga

oleh -114 Dilihat
Pipa pembuangan air yang di oprasikan PPLS untuk membuang air dalam tanggul ke Sungai Porong. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)
Pipa pembuangan air yang di oprasikan PPLS untuk membuang air dalam tanggul ke Sungai Porong. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Di tengah peringatan 20 tahun semburan lumpur Lapindo, warga di sekitar tanggul kini kembali dihantui rasa cemas. Bukan hanya karena tingginya lumpur yang terus mengendap di balik tanggul, namun juga setelah Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) disebut melakukan efisiensi operasional hingga aktivitas pembuangan air ke Sungai Porong mulai jarang terlihat.

Selama ini, pembuangan air melalui jaringan pipa menuju Sungai Porong menjadi salah satu cara untuk mengendalikan debit air hujan yang masuk ke area tanggul agar tidak cepat penuh. Namun belakangan, pipa-pipa yang biasanya mengalirkan air kini tampak kering dan tidak lagi aktif seperti sebelumnya.

Salah satu warga Jabon, Suhar, 51, mengatakan dirinya biasa melihat air mengucur dari pipa pembuangan saat melintas menuju Pasar Baru Porong. Namun dalam beberapa waktu terakhir, kondisi itu sudah jarang ditemui.

“Biasanya saya melihat air dari pipa tersebut saat berangkat maupun pulang dari Pasar Baru Porong. Namun sekarang saya sudah tidak melihat lagi, jarang membuang air setahu saya,” ujarnya, Jumat (28/5).

Berkurangnya aktivitas pembuangan air itu membuat warga semakin khawatir. Mereka takut debit lumpur yang bercampur air hujan di balik tanggul akan semakin cepat penuh dan berdampak pada meningkatnya ketinggian tanggul.

Menurut Suharliah, anaknya sempat melihat kondisi lumpur di balik tanggul yang disebut hampir sejajar dengan permukaan tanggul penahan.

“Kata anak saya kapan hari melihat lumpur yang ada di balik tanggul itu hampir sejajar dengan tanggul,” katanya.

Kecemasan warga bukan tanpa alasan. Selama 20 tahun semburan lumpur Lapindo berlangsung, masyarakat yang tinggal di sekitar tanggul masih hidup berdampingan dengan ancaman lumpur dan perubahan kondisi lingkungan setiap waktu.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun, pihak PPLS disebut melakukan efisiensi dengan alasan penghematan anggaran serta mempertimbangkan aspek pelestarian lingkungan. Kebijakan tersebut kini menjadi sorotan warga yang berharap pengendalian lumpur tetap dilakukan secara maksimal demi keamanan kawasan sekitar tanggul.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.