DI SEBUAH hamparan sawah menghijau, seorang pria sepuh berjalan tenang di antara barisan padi melambai. Caping menaungi wajahnya yang telah diukir oleh waktu dan pengalaman. Tangannya yang dulu memegang tongkat komando kini penuh tanah basah. Itulah Jenderal Polisi (Purn.) Sutarman, Kapolri ke-21 dan mantan ajudan Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Ya, Sutarman telah cukup lama memilih uzlah, penarikan diri yang penuh kesadaran. Bukan ke gedung megah atau jabatan diplomatik, melainkan kembali ke ritme alam sebagai petani sederhana, mewarisi ayahnya, menggarap sawah.
Lahir 5 Oktober 1957, di Dusun Dayu, Desa Tawang, Kecamatan Weru, Sukoharjo, Jawa Tengah. Sebagai anak sulung dari pasutri Paidi Pawiro Miharjo-Samiyem, Sutarman tumbuh dalam keluarga petani sangat sederhana. Sejak kecil sudah mengenal seni bercocok-tanam. Membantu di sawah, menggembala, berjualan bambu, bahkan pernah menjadi kuli bangunan.
Namun takdir mengantarkannya ke peraduan lain. Jadi polisi. Gaji pertama sebagai polisi muda Rp 90.000 per bulan. Itupun harus dibagi untuk biaya sekolah adik-adiknya.
Kariernya kemudian melesat dari bawah. Staf lalu lintas, Kapolsek, hingga Kapolda berbagai wilayah, Kabareskrim, dan puncaknya sebagai Kapolri pada 2013–2015.
Pengalamannya sebagai ajudan Gus Dur meninggalkan pelajaran mendalam. Tentang keberanian, pluralisme, dan kepemimpinan yang humanis. Dalam sebuah kesempatan Sutarman bercerita, kala itu Gus Dur bahkan sempat “meramalkan” masa depannya hingga sampai di puncak Korps Bhayangkara.
Setelah pensiun, sebetulnya banyak tawaran datang. Mulai politisi hingga menjadi duta besar (Dubes). Maklum, kapasitas dan pengalamannya telah teruji. Sutarman menggeleng.
“Saya ingin menikmati sisa hidup dengan sederhana,” katanya. Dia pulang ke desa. Benar-benar ingin “menepi”. Tidak mau ke tengah lagi. Termasuk berkomentar ke publik sekalipun.
Mengenakan kaos lusuh dan celana pendek, lalu memulai lagi dari nol. Bertani. Foto Sutarman di sawah pernah viral, kontras tajam dengan seragam bintang empat.
Bagi Sutarman, tampaknya uzlah adalah lingkaran kehidupan yang utuh. Seperti benih padi yang ditanam, tumbuh menjulang, dipanen, lalu jatuh kembali ke tanah untuk menyuburkan generasi baru.
Bertani padi adalah seni perjalanan 2–3 bulan, namun penuh hikmah filosofis. Dimulai dari masa tanam (tandur), ketika bibit padi yang sudah disemai selama 20–25 hari dipindahkan ke sawah yang telah dibajak dan diratakan. Sutarman pun kerap ikut turun ke lumpur, membungkuk, menancapkan bibit satu per satu dengan jarak yang pas, sebuah gerakan ritmis yang mengajarkan kesabaran dan ketelitian.
Di era modern ketika banyak ibu-ibu muda lebih memilih pekerjaan kantoran atau urban, seni mencari tenaga tandur belakangan menjadi tantangan tersendiri.
Sutarman kini biasa berbincang dengan para petani lain. Berdialog tentang seluk-beluk persawahan. Termasuk seni bertandur itu. Hakikatnya tandur adalah doa konkret. Tubuh dan tangan yang membungkuk ke tanah sebagai bentuk penghormatan pada alam.
“Ini bukan hanya soal hasil, tapi soal menjaga warisan dan kesehatan jiwa,” ungkap Sutarman dalam sebuah kesempatan lalu.
Selama masa perawatan padi, akal sehat diajak terus bekerja. Penyiangan gulma, pemupukan organik dari kotoran sapi, hingga bpengaturan air irigasi, semua harus tepat waktu. Hama seperti wereng, penggerek batang, atau tikus muncul tanpa diundang. Petani menghadapinya dengan bijak, kadang menggunakan pestisida alami atau pengendalian terpadu, sambil merenung bahwa setiap makhluk memiliki peran dalam ekosistem.
Pun saat bulir padi mulai menguning dan tampak burung-burung beterbangan—pipit, bondol, bahkan burung pemakan biji—petani tak langsung marah. Toh, burung juga butuh hidup dan menghidupi anak-anaknta. Kadang dipasang umpan atau jaring sederhana, membuat boneka orang-orangan untuk menakuti dengan disertai bunyi-bunyian dari kaleng. Tapi, petani lebih sering menerima sebagai bagian dari cinta pada makhluk
Hujan yang ditunggu-tunggu kadang tak kunjung turun, membuat sawah kering dan tanaman layu. Atau sebaliknya, banjir mendadak. Di saat-saat seperti itu, petani diajak berdoa dan berserah, mengajarkan bahwa manusia hanya pengelola, bukan pemilik mutlak. Ada pengatur musim, yang tak seorang pun mampun mengaturnya.
Puncaknya masa panen. Padi yang sudah menguning keemasan, aroma harum jerami memenuhi udara. Prosesi wiwitan—memetik padi pertama sebagai syukur—masih dijaga banyak petani. Lalu, hasil panen dibawa ke penggilingan, sebagaian disimpan, setelah terlebih dulu menjemurnya di halaman rumah.
Tapi, harga gabah kadang baik, kadang anjlok. Bergantung pasar. Kadang untung, kadang pas-pasan. Tapi itulah seni berpikir petani. Tak ada keluhan berlebih, hanya syukur atas apa yang diberikan Nya.
Dari siklus 2–3 bulan tersebut, akal sehat terus diasah. Mencintai alam yang memberi tanpa pamrih, menghargai makhluk hidup lain yang hidup berdampingan, dan yang terutama, cinta pada Sang Pencipta yang mengatur musim, hujan, dan rezeki. Rasa itu pula yang kini dialami Sutarman.
Secara metaforis, bertani yang kini dijalani Sutarman seperti meditasi berjalan di tengah lumpur kehidupan. Dulu mengawal keamanan negara dengan ribuan personel, kini mengawal sepetak sawah dengan cangkul, sabit, dan doa.
Dua putranya melanjutkan tradisi sebagai perwira Polri, sementara Sutarman sendiri, bersama istri Elly Surtiati Sukandi, menjalani hari dengan ritme alam. Bangun sebelum subuh, ke sawah, berbagi cerita dengan warga dan petani desa. Bagi Sutarman, ayahnya adalah teladan langsung. Tanah tak pernah ingkar janji jika dirawat dengan hati.
Kisah Jenderal (Purn) Sutarman mengajarkan filsafat pelepasan yang dalam. Di tengah masyarakat yang haus status dan kekuasaan, ia membuktikan bahwa kebesaran sejati terletak pada ketertundukan dan kerendahan hati.
Kekuasaan itu seperti air irigasi, memberi kehidupan, tapi harus mengalir kembali agar tak membusuk. Uzlah itu bukan akhir karier, melainkan puncak kebijaksanaan. Setelah mengawal republik, kini mengawal nilai-nilai dasar. Kerja keras, kesabaran, syukur, dan cinta kasih pada alam semesta.
Di sawah yang hijau, di bawah langit Jawa yang tenang, mantan Kapolri itu bertemu kedamaian yang tak bisa dibeli pangkat. Setiap tandur adalah harapan baru, setiap perawatan adalah doa, setiap panen adalah pelajaran bahwa hidup adalah siklus penuh rahmat. Seperti mengingatkan kembali bahwa di dunia yang makin cepat dan artifisial ini, beranilah pulang ke akar. Ke tanah, ke alam, ke Sang Pencipta. Karena di sana, di antara lumpur dan bulir padi, tersimpan kebahagiaan paling murni. (*)







