Gubernur Khofifah Dorong Penguatan Ekosistem Reog yang Diakui UNESCO Sebagai Warisan Budaya Takbenda

oleh -95 Dilihat
WhatsApp Image 2026 04 14 at 6.37.40 PM scaled
Gubernur Khofifah Terima Seniman Tim Reyog Kyai Lodra (Istimewa)

KabarBaik.co, Surabaya– Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kesenian Reog sebagai warisan budaya dunia yang berkelanjutan, pasca ditetapkannya Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.

Hal tersebut disampaikan Khofifah saat menerima seniman Tim Reog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi Surabaya, minggu lalu. Kunjungan Tim Reog Kyai Lodra tersebut merupakan bagian dari persiapan mengikuti Festival Reog Nasional Ponorogo (FRNP) 2026 yang akan digelar pada Juni mendatang.

Gubernur Khofifah menekankan bahwa Reog tidak hanya dipandang sebagai atraksi seni pertunjukan, tetapi juga sebagai representasi nilai, filosofi, dan identitas bangsa.

“Reog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi yang sangat kuat, tentang keberanian, kebenaran, dan bagaimana keberagaman suku serta agama dapat dirajut dalam harmoni budaya,” ujar Khofifah.

Lebih lanjut Gubernur Khofifah menekankan, kekuatan utama Reog justru terletak pada nilai-nilai yang dikandungnya, yang mampu membentuk karakter sekaligus menjadi pijakan dalam membangun peradaban bangsa.

“Yang lebih penting dari festival adalah filosofinya. Reog membawa nafas keberanian untuk memperjuangkan kebenaran. Di dalamnya ada substansi strategis untuk membangun karakter dan kebijakan bangsa,” imbuhnya.

Khofifah menegaskan, penguatan nilai filosofis tersebut menjadi semakin relevan setelah Reog Ponorogo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding pada akhir 2024.

Menurutnya, pengakuan internasional tersebut harus diikuti dengan langkah konkret dalam memperkuat ekosistem seni Reog, termasuk aspek pelestarian, regenerasi, hingga keberlanjutan pertunjukan.

“Proses menuju pengakuan UNESCO ini sangat panjang dan tidak sederhana. Salah satu hal penting yang menjadi perhatian adalah aspek animal welfare, di mana kita harus memastikan bahwa dalam pertunjukan Reog tidak lagi menggunakan material dari satwa dilindungi,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini ekosistem Reog terus berkembang seiring dengan meningkatnya pengakuan global terhadap Ponorogo sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO. Hal ini menjadi momentum penting untuk memperkuat eksistensi reog sebagai identitas budaya yang mendunia.

Meski demikian, Khofifah mengingatkan bahwa keberlanjutan menjadi kunci utama. Oleh karena itu, perlu upaya konsisten dalam mendorong regenerasi pelaku seni serta penyelenggaraan event budaya secara rutin.

“Harus sering ada pentas dan event, supaya mereka terus berlatih dan regerasinya berjalan maksimal. Awalnya mungkin ada yang ikut karena insentif, tapi ketika tumbuh rasa bangga, maka akan muncul dedikasi untuk melestarikan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Evy Afianasari menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan langkah kolaboratif dalam mendukung pengembangan reog, termasuk melibatkan institusi pendidikan dan komunitas seni.

“Kami menggandeng Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW), SMK 12 Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, serta berbagai sanggar seni reog untuk memperkuat ekosistem, mulai dari pelatihan hingga pengembangan kreativitas,” jelasnya.

Selain itu, Disbudpar Jatim juga menjalin kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dalam upaya pelestarian satwa, khususnya burung merak Jawa.

“Kami sedang menjajaki kerja sama untuk pengembangbiakan burung merak Jawa sebagai bagian dari solusi keberlanjutan, mengingat keterbatasan material yang selama ini digunakan dalam pertunjukan reog,” tambahnya.

Perwakilan Tim Reog Kyai Lodra, Joko Winarko, menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap pelestarian seni tradisi.

“Pertemuan ini menjadi momentum bagi kami untuk mempresentasikan hasil karantina latihan selama dua bulan. Keikutsertaan kami di FRNP bukan sekadar kompetisi, tetapi bentuk kebanggaan sekaligus komitmen generasi muda dalam melestarikan reog,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, suasana berlangsung hangat melalui pemotongan tumpeng dan ramah tamah. Gubernur Khofifah juga memberikan dukungan dana pembinaan sebesar Rp 25 juta untuk mendukung persiapan tim menuju Festival Reog Nasional Ponorogo 2026.

Melalui langkah ini, Pemprov Jatim menegaskan komitmennya dalam menjaga reog tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai identitas bangsa yang hidup, berkembang, dan berkelanjutan di kancah global. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Sugiantoro
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.