KabarBaik.co, Jombang – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menilai Nahdlatul Ulama (NU) ke depan perlu memperkuat adab, karakter, persaudaraan, dan profesionalisme.
Menurut Gus Kikin, jabatan di lingkungan NU merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Jabatan juga tidak seharusnya menjadi tujuan atau sesuatu yang dikejar secara berlebihan.
“Jabatan itu amanah, tidak boleh terlalu ambisi terhadap jabatan,” kata Gus Kikin, Jumat (28/8).
Cicit pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari itu juga mengingatkan pentingnya NU tetap berpijak pada Qanun Asasi sebagai pedoman organisasi. Di sisi lain, nilai-nilai kemanusiaan harus menjadi bagian penting dalam kehidupan organisasi.
Gus Kikin menilai NU tidak seharusnya terjebak dalam politik praktis. Namun, NU tetap memiliki peran dalam kehidupan kebangsaan sebagai kekuatan masyarakat sipil yang menjaga persatuan dan memperjuangkan kemanusiaan.
“NU tidak bisa lepas dari politik. Tapi agendanya politik kebangsaan dan kemanusiaan,” ujarnya.
Menurutnya, agenda tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan politik praktis.
“Hal itu harus melampaui segala kepentingan praktis,” imbuh Gus Kikin.
Selain itu, Gus Kikin menekankan pentingnya NU menjadi ruang bersama bagi seluruh Nahdliyin. Penguatan organisasi, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan melalui pembenahan kelembagaan dan peningkatan kapasitas intelektual.
“Penguatan organisasi tidak hanya berkaitan dengan kelembagaan dan intelektualitas. Tapi juga karakter dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan,” jelasnya.
Gus Kikin juga mengingatkan agar warga NU memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.
“NU harus mempunyai hati, kita harus memperkuat dan mengasah hati kita,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu menilai generasi muda NU perlu membekali diri dengan kemampuan intelektual sekaligus adab. Hal tersebut dinilai penting untuk menghadapi tantangan zaman dan perkembangan global yang semakin kompleks.
“Kita harus mempunyai intelegensia. Tetapi intelektual itu harus dibungkus dengan adab,” pungkas Gus Kikin.








