KabarBaik.co – Ribuan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan memenuhi pelataran Perguruan Muhammadiyah di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito, Jombang. Mereka memeriahkan acara bertajuk Gelar Budaya: Wayang Masuk Sekolah.
Kegiatan ini diikuti siswa dari KB, RA Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA), SD Muhammadiyah 1 Mentoro, hingga SMP Muhammadiyah 3. Kegiatan tersebut sebagai upaya memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal sejak dini.
Bupati Jombang, Warsubi, yang hadir langsung di lokasi, mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menilai seni pertunjukan wayang bukan sekadar hiburan, tetapi sarat dengan nilai moral dan karakter.
“Wayang bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan. Anak-anak kita harus bangga dengan budaya sendiri,” tegas Warsubi. Menurutnya, modernisasi dan teknologi tidak seharusnya memutus generasi muda dari akar budaya bangsa.
Puncak acara dimeriahkan pertunjukan wayang kulit dengan lakon “Gatotkaca Lahir”, yang dibawakan oleh dalang cilik Ki Amora Lingga Abinaya. Lakon ini dipilih karena mengandung pesan karakter kuat dan keberanian yang relevan bagi generasi muda.
Salah satu momen menarik terjadi saat Ki Amora menyerahkan Gunungan kepada Bupati Warsubi, sebagai simbol estafet pelestarian budaya dari generasi ke generasi.
Tak hanya pertunjukan wayang, para siswa juga terlibat dalam tim karawitan dan membawakan Tari Remo Boletan, menandakan bahwa seni tradisional masih relevan di kalangan anak muda.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jombang, M Ali Said, menegaskan pihaknya mendukung penuh pelestarian budaya lokal yang edukatif. “Wayang memang sempat menurun minatnya. Tapi kami tidak alergi terhadap budaya lokal, selama mengandung nilai moral dan pendidikan,” ujarnya. Senin (29/9).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Perguruan Muhammadiyah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, Majelis Dikdasmen, serta Lembaga Seni Budaya (LSBU) Muhammadiyah.
SD Muhammadiyah 1 Mentoro menjadi satu-satunya sekolah dasar Muhammadiyah di Jombang yang menggelar pertunjukan budaya sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter.
Dengan iringan gending Jawa dan bayangan wayang di layar, acara ini menggaungkan pesan penting: mengenal dan mencintai budaya sendiri adalah pondasi utama sebelum membuka diri terhadap budaya luar. (*)






