KabarBaik.co, Blitar – Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Blitar mengalami kenaikan pasca-Lebaran. Namun di balik kenaikan harga tersebut, para pedagang justru mengeluhkan penurunan daya beli masyarakat.
Salah satu pedagang di Pasar Templek, Titik Sunarti, mengatakan kenaikan harga terjadi pada hampir semua jenis daging.
“Kalau kelas satu sekarang Rp 135 ribu per kilo, sebelumnya Rp 130 ribu. Untuk kelas dua dari Rp 120 ribu naik jadi Rp 125 ribu,” ujarnya, Minggu (12/4).
Meski harga naik, penjualan tidak ikut terdongkrak. Bahkan, menurutnya kondisi pasar cenderung sepi dibanding hari-hari biasa.
“Kalau dulu setiap hari bisa potong, sekarang bisa tiga hari baru habis. Kadang masih sisa 25 sampai 30 kilo,” katanya.
Ia memastikan kualitas daging tetap terjaga karena pasokan diambil dari rumah potong hewan (RPH).
“Di sini sapi sehat, saya ambil dari RPH Dimoro, jadi kualitasnya tetap terjamin,” jelasnya.
Menurut Titik, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi pasar adalah kekhawatiran masyarakat terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Yang ditakutkan itu PMK, jadi pembeli agak sepi,” tambahnya.
Hal senada disampaikan pedagang daging sapi di Pasar Legi, Sri Wahyuni. Ia mengaku pasokan sapi saat ini lebih sulit didapat, yang berdampak pada kenaikan harga di tingkat pedagang.
“Sapi sekarang susah dicari karena PMK, jadi harga ikut naik,” ujarnya.
Sri menyebut kondisi tersebut juga memicu keluhan dari pelanggan, terutama saat harga mengalami kenaikan.
“Kalau harga naik, pelanggan sering komplain,” katanya.
Untuk menjaga pelanggan tetap bertahan, ia melakukan berbagai cara, salah satunya dengan memberikan tambahan bagian tertentu dalam pembelian.
“Biasanya saya tambahkan tulangan atau lemak supaya pelanggan tidak pindah,” jelasnya.
Ia juga memastikan daging yang dijual tetap aman karena berasal dari RPH resmi. “Ambilnya juga dari RPH Dimoro, jadi pasti sapi sehat,” pungkasnya.(*)






