Harga Manggis Banyuwangi Meledak Tembus Rp 80 Ribu, Petani Sebut Rekor Tertinggi

oleh -131 Dilihat
Petani saat memanen manggis.
Petani saat memanen manggis.

KabarBaik.co, Banyuwangi – Harga buah manggis di Banyuwangi melonjak tajam pada musim panen tahun ini. Untuk kualitas super, komoditas ekspor unggulan tersebut kini dibanderol Rp 80 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal tahun-tahun sebelumnya.

Pengepul manggis asal Lingkungan Manggisan, Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Rudi Hermawan membenarkan melejitnya harga buah bernama latin Garcinia mangostana tersebut.

Menurut dia, harga di tingkat petani untuk buah campuran yang belum disortir juga ikut terdongkrak hingga Rp 65 ribu sampai Rp 70 ribu per kilogram, tergantung kualitas buah.

“Kalau yang res (campuran belum sortir) dari petani Rp 63 ribu – Rp 65 ribu. Kalau yang super dua hari lalu Rp 83 ribu,” kata Rudi.

Rudi merupakan tengkulak yang memasok salah satu perusahaan eksportir manggis tujuan China. Ia tahu kenaikan harga ini sekitar ramadan dari perusahaan yang dipasoknya.

“Saya sekitar ramadan dikasih harga sama perusahaan Rp 80 ribu perkilonya untuk yang kualitas super. Tapi sebelumnya sekitar tiga bulan lalu itu harganya sudah naik, di Jember saya dengar sampai Rp 130 ribu per kilonya,” kata Rudi, Rabu (15/4).

Terkait pemicu kenaikan, kata Rudi, penyebab utamanya karena saat ini hanya Banyuwangi yang masih panen, sementara sentra lain seperti Bali, Lombok, Tasikmalaya, Sumatera, hingga Jember sudah tidak memasuki musim panen.

“Sekarang yang panen tinggal Banyuwangi. Disini panennya kan bulan April-Mei. Daerah lain seperti Bali, Lombok, Jember sudah selesai, sementara Sumatera dan Tasik tidak panen. Makanya harga super bisa tinggi sekali,” ujarnya.

Kenaikan harga kali ini disebut sebagai yang tertinggi sepanjang pengalaman panen manggis di Banyuwangi. Padahal pada panenan tahun lalu buah berjuluk Queen of Fruit ini seolah tidak ada harganya ketika hampir seluruh sentra manggis nasional panen bersamaan.

Ditambah saat itu momennya bersamaan dengan panen raya di Tailan yang juga negara penghasil manggis. Importir dari China lebih memilih manggis Tailan ketimbang Indonesia karena alasan jarak dan kualitas.

Sehingga panen tahun lalu harga manggis di Banyuwangi tersungkur. Dari petani hanya dihargai Rp 3 ribu perkilogramnya. Makanya pada tahun sebelumnya petani tidak memanen manggisnya karena merasa rugi dan berat diongkos pekerja semisal dipanen.

“Saat itu harga di tingkat petani bahkan sempat anjlok hingga Rp 3 ribu per kilogram. Makanya buahnya dibiarkan saja tidak dipanen,” ujarnya.

Rudi menyebut sudah hampir lima tahun di Banyuwangi tidak ada panen raya. Sehingga hasilnya terbatas. Saat ini, panen manggis di daerah sentra Banyuwangi disebut tinggal menyisakan waktu sekitar sebulan.

Meski mulai memasuki akhir musim, harga diperkirakan masih bertahan tinggi selama pasokan dari daerah lain belum kembali masuk pasar.

Ditambahkan Masruroh, petani manggis asal Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Tahun ini ia seolah ketiban berkah dengan naiknya harga manggis ini.

Saat ini untuk kategori res (campuran) manggisnya dihargai Rp 62 ribu perkilonya. Padahal tahun lalu hanya Rp 2.500 kilogramnya.

“Tahun lalu dua keranjang bobot sekitar 80 kilo dibeli Rp 700 ribu. Sekarang ini dua keranjang bobot sama saya dapat Rp 6 juta. Alhamdulillah naiknya luar biasa, ini baru pertamakali harganya kayak ini. Semoga bisa bertahan,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Ikhwan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.