KabarBaik.co, Jember – Harga produk berbahan plastik di kawasan Pasar Tanjung, Jember, mengalami kenaikan signifikan. Melonjaknya harga ini dipicu oleh terganggunya rantai pasok minyak mentah dunia akibat konflik militer di Timur Tengah yang menghambat jalur distribusi logistik global.
Kondisi ini terpantau di Toko Mitra Plastik, salah satu distributor besar di Pasar Tanjung. Pengelola toko, David Susanto, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi merata pada hampir semua jenis produk berbahan polimer.
“Semua jenis plastik naik, mulai dari gelas sekali pakai, kantong plastik, botol, hingga wadah mika. Hampir semuanya mengalami penyesuaian harga,” ungkap David saat ditemui di tokonya, Minggu (12/4).
Menurut David, produk yang paling terdampak dan dikeluhkan konsumen adalah kantong plastik belanja. Bahkan, salah satu merek tertentu mengalami lonjakan harga hingga lebih dari 50 persen dari harga normal.
“Misalnya merek tertentu, sebelumnya dijual di kisaran Rp 20.000, sekarang sudah tembus Rp 30.000 lebih per packnya,” imbuhnya.
Ia menjelaskan bahwa tren kenaikan ini sebenarnya sudah mulai merangkak sejak awal Maret lalu. Namun, dampak terhadap daya beli masyarakat baru benar-benar terasa secara drastis tepat setelah masa libur Lebaran berakhir.
David menyebut situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya isu penutupan akses di Selat Hormuz, menjadi faktor utama di balik kelangkaan ini. Sebagai jalur krusial distribusi minyak dunia, hambatan di kawasan tersebut langsung mengerek biaya produksi barang-barang turunannya.
“Karena Selat Hormuz terganggu, pasokan minyak berkurang. Padahal bahan baku utama plastik, styrofoam, dan produk polimer lainnya adalah minyak bumi. Begitu pasokan minyak langka dan harganya naik, otomatis harga plastik di Indonesia ikut melonjak,” tutupnya.(*)





