KabarBaik.co, Jombang— Konflik di Timur Tengah berdampak luas, termasuk ke sektor industri di Indonesia. Salah satu efek yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan baku berbasis minyak bumi.
Terganggunya distribusi minyak global membuat harga minyak dunia melonjak. Kondisi ini kemudian merembet ke industri turunan seperti petrokimia, yang sangat bergantung pada bahan baku minyak.
Dalam industri petrokimia, nafta menjadi komponen penting untuk memproduksi berbagai senyawa seperti etilena, propilena, dan butadiena. Senyawa-senyawa ini merupakan bahan dasar pembuatan produk sehari-hari, mulai dari plastik, karet, hingga pelarut industri.
Kenaikan harga nafta pun berdampak langsung pada biaya produksi plastik. Akibatnya, harga plastik di pasaran dalam negeri ikut naik cukup signifikan.
Akmal, 23, pedagang sembako di Kecamatan Peterongan, Jombang, mengaku harga plastik kemasan melonjak drastis dalam waktu singkat. Ia menyebut kenaikan mencapai sekitar 100 persen.
“Harga plastik bungkus naik rata-rata Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Untuk kantong kresek, dari sebelumnya Rp 29.000 sekarang jadi Rp 50.000 per pak,” ujarnya, Rabu (8/4).
Menurut Akmal, kenaikan ini turut memengaruhi pola belanja konsumen. Meski plastik tetap dibutuhkan, pembelian kini cenderung lebih sedikit.
“Pembeli masih butuh, tapi belinya tidak sebanyak dulu,” katanya.
Hal serupa dirasakan Anas, pedagang es sinom keliling. Ia mengaku biaya operasionalnya meningkat karena harga plastik sebagai wadah utama dagangannya ikut naik.
“Kalau jualan saya ini jelas sangat butuh plastik. Biasanya saya stok 50 sampai 100 plastik ukuran sedang,” ujarnya.
Anas mulai menyadari kenaikan harga saat hendak membeli stok baru. Ia terkejut karena harga yang biasanya murah tiba-tiba melonjak.
“Pas mau beli lagi, ternyata harganya sudah naik drastis. Mau tidak mau tetap harus beli,” katanya.
Dengan keuntungan yang tidak terlalu besar, kenaikan harga plastik membuat margin usahanya semakin menipis.
“Dulu plastik itu kemasan paling murah. Sekarang mahal, jadi keuntungan makin kecil,” ucap Anas.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana gejolak global dapat berdampak langsung pada pelaku usaha kecil di daerah. (*)






