Harga Tembus Rp 40 Ribu per Kg, Bupati Bojonegoro Targetkan Produksi Tembakau Meningkat

oleh -121 Dilihat
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono saat berkunjung ke ladang tembakau. (Foto: Ist)
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono saat berkunjung ke ladang tembakau. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Bojonegoro – Harga tinggi mulai dirasakan petani tembakau di Kabupaten Bojonegoro. Memasuki musim panen, harga tembakau rajangan kering mulai merangkak naik dan kini mencapai Rp 40 ribu per kilogram.

Salah seorang petani tembakau asal Desa Genjor, Kecamatan Sugihwaras, Sahdan, mengatakan harga tersebut sudah diterimanya pada petikan keempat. Menurutnya, harga tembakau jenis Virginia K326/CK mengalami kenaikan secara bertahap sejak awal masa panen.

“Ini sudah petikan keempat, harga Rp40 ribu per kilogram kering,” kata Sahdan, Rabu (12/8).

Dia menjelaskan, pada petikan pertama tembakaunya dihargai sekitar Rp 30 ribu per kilogram. Sementara petikan kedua dan ketiga berada di kisaran Rp 35 ribu hingga Rp 36 ribu per kilogram.

Sahdan mengaku mulai menanam tembakau pada awal Juni. Hasil panennya kemudian dijual kepada tengkulak di sekitar wilayah tempat tinggalnya.

Meski harga mulai membaik, petani masih menghadapi sejumlah kendala dalam budidaya. Salah satunya adalah ketersediaan air yang terbatas, sehingga pertumbuhan tanaman tembakau tidak maksimal.

“Mulai tanam itu awal Juni. Kami jual ke tengkulak sekitar. Hanya, saat prosesnya kemarin kendala di pertumbuhan tidak maksimal, sulit dan kekurangan air,” keluhnya.

Kondisi serupa juga dirasakan petani di wilayah lain. Ilham, petani tembakau asal Desa Kacangan, Kecamatan Tambakrejo, mengaku belum memasuki masa panen. Dia baru mulai menanam pada akhir Juni hingga sekitar awal Juli dan memperkirakan panen baru berlangsung bulan depan.

“Kendalanya itu air susah, terus banyak ulat yang makan tembakau,” ujarnya.

Di tengah tantangan yang dihadapi petani, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro turut memberikan dukungan melalui bantuan sarana produksi pertanian. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro menyalurkan bantuan pupuk NPK sebanyak 526.925 kilogram atau sekitar 526,9 ton kepada petani tembakau.

Bantuan tersebut diperuntukkan bagi lahan tembakau yang mencapai sekitar 3.011 hektare pada musim tanam kemarau 2026. Penyaluran pupuk mulai dilakukan pada awal Agustus kepada 55 gabungan kelompok tani (gapoktan).

Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman DKPP Bojonegoro, Yuseriza A. Leksana, berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para petani.

“Kami berharap bantuan ini dimanfaatkan secara optimal,” katanya.

Pria yang akrab disapa Riza tersebut menjelaskan, bantuan hampir 527 ton pupuk NPK diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus menghasilkan tembakau dengan kualitas yang lebih baik.

“Kami juga aktif melakukan pendampingan kepada kelompok tani. Agar bantuan dimanfaatkan secara tepat dan berdampak nyata,” jelasnya.

Salah satu penerima bantuan adalah Gapoktan Sumber Rezeki di Desa Sumberagung, Kecamatan Kepohbaru. Gapoktan tersebut mengelola lahan tembakau seluas 125 hektare dan mendapatkan bantuan pupuk NPK sebanyak 21,8 ton.

Mewakili Gapoktan Sumber Rezeki, Suprapto menyebut bantuan pupuk tersebut sangat membantu petani. Sebab, biaya produksi pertanian setiap tahun terus mengalami peningkatan.

“Bantuan ini mampu mengurangi beban biaya produksi yang setiap tahun terus meningkat,” harapnya.

Bojonegoro selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau utama di Jawa Timur. Kabupaten ini tercatat menjadi penyumbang produksi tembakau terbesar kedua di Jawa Timur dengan produksi mencapai sekitar 14.163 ton.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono berharap produksi tembakau pada 2026 kembali mengalami peningkatan. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, salah satunya melalui pemberian bantuan benih tembakau kepada petani.

“Bantuan tersebut diharapkan mampu mendukung peningkatan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan komoditas tembakau menjadi salah satu andalan pertanian Bojonegoro,” kata Setyo Wahono.

Dengan harga yang mulai menanjak hingga Rp 40 ribu per kilogram, petani berharap tren positif tersebut dapat bertahan hingga seluruh hasil panen terserap pasar. Di sisi lain, dukungan pupuk, benih, serta pendampingan diharapkan mampu membantu petani menghadapi persoalan klasik seperti keterbatasan air dan serangan hama.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.