KabarBaik.co, China- Final ganda putra China Open 2026 berubah menjadi pertarungan mental dan kecepatan tingkat tinggi. Sempat kehilangan gim pertama, pasangan Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menunjukkan karakter tangguh dengan merebut gim kedua dari unggulan pertama Korea Selatan Kim Won Ho/Seo Seung Jae lewat drama panjang 19-21. Laga pun harus ditentukan melalui rubber game.
Pertandingan final ini sejak awal mempertemukan dua pasangan dengan rekam jejak berbeda. Kim Won Ho/Seo Seung Jae datang sebagai unggulan pertama sekaligus salah satu pasangan paling dominan di dunia saat ini.
Sementara Fajar/Fikri, unggulan kedua, membawa status sebagai juara bertahan China Open 2025 sekaligus pasangan yang sudah membuktikan mampu mengalahkan duo Korea tersebut di turnamen yang sama setahun sebelumnya.
Kim/Seo langsung menunjukkan mengapa mereka menjadi pasangan nomor satu. Mereka menguasai gim pertama dengan permainan cepat, rapat, dan minim kesalahan. Fajar/Fikri kesulitan keluar dari tekanan dan harus menyerah 16-21.
Namun, gim kedua menghadirkan cerita berbeda.
Fajar/Fikri mulai menemukan ritme permainan mereka. Pertarungan berlangsung sangat ketat sejak awal dengan kedua pasangan silih berganti memimpin. Kecepatan reli, duel depan net, serta adu drive membuat pertandingan berjalan dalam tempo tinggi.
Skor terus berkejaran hingga 16-16. Fajar/Fikri sempat membuka peluang ketika unggul 18-16, tetapi Kim/Seo tidak membiarkan jarak melebar. Pasangan Korea itu kembali mengejar dan membuat skor kembali rapat.
Dalam situasi kritis, pengalaman Fajar sebagai pemain senior kembali terlihat. Fajar/Fikri berhasil mencapai angka 20 lebih dulu, sementara Kim/Seo tertinggal 19. Satu poin terakhir menjadi momen paling menegangkan ketika pengembalian Fajar/Fikri diperdebatkan.
Fajar/Fikri mengajukan challenge karena pengembalian shuttlecock darianya dianggap out. Beruntung, tayangan ulang memastikan bola masih masuk. Poin tersebut memastikan Fajar/Fikri merebut gim kedua 21-19 dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Kemenangan di gim kedua menjadi suntikan moral besar bagi pasangan Indonesia. Mereka tidak hanya membalikkan momentum pertandingan, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka masih mampu menghadapi tekanan dari pasangan terbaik dunia.
Final ini juga menjadi ulangan menarik dari persaingan kedua pasangan. Pada China Open 2025, Fajar/Fikri pernah mengalahkan Kim/Seo di perempat final. Namun, sejak saat itu pasangan Korea berkembang pesat dan datang ke final 2026 sebagai unggulan utama.
Bagi Kim/Seo, laga ini menjadi kesempatan membalas kekalahan sekaligus membuktikan dominasi mereka. Sedangkan bagi Fajar/Fikri, kemenangan di gim kedua membuka peluang mempertahankan gelar China Open dan mempertegas bahwa mereka bukan sekadar pasangan kejutan.
Dengan skor imbang 1-1, gelar ganda putra China Open 2026 kini harus ditentukan melalui gim ketiga.
Satu hal sudah pasti: final ini bukan hanya duel perebutan trofi, tetapi juga pertarungan antara konsistensi pasangan nomor satu dunia Korea Selatan melawan mental juara dan pengalaman pasangan Indonesia yang menolak menyerah. (*)








