Juara China Open dari Masa ke Masa: 39 Tahun Tunggal Putri Indonesia Belum Pernah Podium

oleh -71 Dilihat
LOGO PBSI

KabarBaik.co, China- Di tengah berlangsungnya China Open 2026, 21-26 Juli 2026, ada satu catatan panjang yang masih belum terpecahkan bagi bulu tangkis Indonesia. Hingga kini, sektor tunggal putri Indonesia belum pernah sekalipun meraih gelar juara China Open sejak turnamen ini kali pertama digelar pada 1986.

Sama dengan Indonesia Open, China Open dikenal sebagai salah satu panggung paling bergengsi dalam kalender bulu tangkis dunia. Turnamen yang kini berstatus BWF World Tour Super 1000 tersebut selalu menghadirkan pemain-pemain terbaik dunia, termasuk para juara Olimpiade, juara dunia, hingga pemegang peringkat teratas dunia

Namun, di balik sejarah panjang China Open, ada satu sektor yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia: tunggal putri.

Berdasarkan catatan juara sejak edisi perdana 1986, Indonesia memang memiliki banyak legenda yang berjaya di sektor lain. Tunggal putra pernah dimenangkan oleh Icuk Sugiarto, Ardy Wiranata, Alan Budikusuma, hingga Anthony Sinisuka Ginting.

Ganda putra juga berkali-kali mengibarkan Merah Putih melalui pasangan seperti Rexy Mainaky/Ricky Subagja, Markis Kido/Hendra Setiawan, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, hingga terakhir adalah Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.

Akan tetapi, cerita berbeda terjadi pada tunggal putri. Sejak China Open 1986, daftar juara tunggal putri hampir selalu dihiasi pemain-pemain elite dunia, terutama dari China. Nama-nama besar seperti Han Aiping, Li Lingwei, Zhang Ning, Xie Xingfang, Li Xuerui, hingga Wang Zhi Yi tercatat pernah menjadi kampiun.

Sementara itu, Indonesia belum pernah memiliki wakil yang mampu berdiri sebagai juara di sektor tersebut. Artinya, hingga China Open 2026 berlangsung, Indonesia telah menunggu sekitar 40 tahun sejak edisi pertama turnamen untuk mencatatkan sejarah baru di tunggal putri

Mandeknya prestasi tunggal putri Indonesia di China Open tidak lepas dari kuatnya persaingan dunia. China menjadi negara paling dominan dengan sederet generasi emas, disusul pemain-pemain top dari Korea Selatan, Jepang, India, dan Spanyol.

Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan tunggal putri dunia juga semakin ketat. Pemain seperti An Se-young dari Korea Selatan, Chen Yufei dari China, serta Akane Yamaguchi dari Jepang menjadi bagian dari era persaingan baru sektor ini. Pada China Open 2026, Chen Yufei menjadi salah satu sorotan utama setelah perubahan daftar unggulan menyusul mundurnya An Se-young karena cedera.

Nah, akankah China Open 2026 menjadi kesempatan baru bagi Indonesia untuk mencoba menghapus catatan panjang tersebut? Meski tantangan sangat berat, setiap turnamen Super 1000 selalu menghadirkan peluang kejutan.

Sejarah menunjukkan bahwa gelar China Open tidak selalu hanya menjadi milik tuan rumah. Beberapa pemain dari negara lain mampu mencuri gelar, seperti Saina Nehwal (India) pada 2014, PV Sindhu (India) pada 2016, Akane Yamaguchi (Jepang) pada 2017, serta Carolina Marin (Spanyol) pada 2018 dan 2019.

Fakta tersebut membuka harapan bahwa dominasi tradisional masih bisa dipatahkan. Bagi Indonesia, tantangan terbesar bukan hanya mengejar gelar China Open, tetapi juga membangun generasi tunggal putri yang mampu bersaing konsisten di level Super 1000.

Daftar Juara China Open dari 1986-2025

1. Tunggal Putra (Men’s Singles)

  • 1986: Icuk Sugiarto (Indonesia)
  • 1987: Zhao Jianhua (China)
  • 1988: Zhao Jianhua (China)
  • 1989: Ardy Wiranata (Indonesia)
  • 1990: Ditiadakan
  • 1991: Alan Budikusuma (Indonesia)
  • 1992: Hermawan Susanto (Indonesia)
  • 1993: Joko Suprianto (Indonesia)
  • 1994: Alan Budikusuma (Indonesia)
  • 1995: Dong Jiong (China)
  • 1996: Fung Permadi (Chinese Taipei)
  • 1997: Dong Jiong (China)
  • 1998: Ditiadakan
  • 1999: Dong Jiong (China)
  • 2000: Ditiadakan
  • 2001: Xia Xuanze (China)
  • 2002: Wong Choong Hann (Malaysia)
  • 2003: Lin Dan (China)
  • 2004: Lin Dan (China)
  • 2005: Chen Hong (China)
  • 2006: Chen Hong (China)
  • 2007: Bao Chunlai (China)
  • 2008: Lin Dan (China)
  • 2009: Lin Dan (China)
  • 2010: Chen Long (China)
  • 2011: Lin Dan (China)
  • 2012: Chen Long (China)
  • 2013: Chen Long (China)
  • 2014: Srikanth Kidambi (India)
  • 2015: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2016: Jan Ø. Jørgensen (Denmark)
  • 2017: Chen Long (China)
  • 2018: Anthony Sinisuka Ginting (Indonesia)
  • 2019: Kento Momota (Jepang)
  • 2020: Ditiadakan
  • 2021: Ditiadakan
  • 2022: Ditiadakan
  • 2023: Viktor Axelsen (Denmark)
  • 2024: Weng Hong Yang (China)
  • 2025: Shi Yu Qi (China)

2. Tunggal Putri (Women’s Singles)

  • 1986: Han Aiping (China)
  • 1987: Li Lingwei (China)
  • 1988: Li Lingwei (China)
  • 1989: Tang Jiuhong (China)
  • 1990: Ditiadakan
  • 1991: Huang Hua (China)
  • 1992: Yao Yan (China)
  • 1993: Han Jingna (China)
  • 1994: Bang Soo-hyun (Korea Selatan)
  • 1995: Ye Zhaoying (China)
  • 1996: Zhang Ning (China)
  • 1997: Gong Zhichao (China)
  • 1998: Ditiadakan
  • 1999: Zhou Mi (China)
  • 2000: Ditiadakan
  • 2001: Zhou Mi (China)
  • 2002: Gong Ruina (China)
  • 2003: Zhou Mi (China)
  • 2004: Xie Xingfang (China)
  • 2005: Zhang Ning (China)
  • 2006: Zhang Ning (China)
  • 2007: Wong Mew Choo (Malaysia)
  • 2008: Jiang Yanjiao (China)
  • 2009: Jiang Yanjiao (China)
  • 2010: Jiang Yanjiao (China)
  • 2011: Wang Yihan (China)
  • 2012: Li Xuerui (China)
  • 2013: Li Xuerui (China)
  • 2014: Saina Nehwal (India)
  • 2015: Li Xuerui (China)
  • 2016: P. V. Sindhu (India)
  • 2017: Akane Yamaguchi (Jepang)
  • 2018: Carolina Marin (Spanyol)
  • 2019: Carolina Marin (Spanyol)
  • 2020: Ditiadakan
  • 2021: Ditiadakan
  • 2022: Ditiadakan
  • 2023: An Se-young (Korea Selatan)
  • 2024: Wang Zhi Yi (China)
  • 2025: Wang Zhi Yi (China)

3. Ganda Putra (Men’s Doubles)

  • 1986: Li Yongbo/Tian Bingyi (China)
  • 1987: Li Yongbo/Tian Bingyi (China)
  • 1988: Li Yongbo/Tian Bingyi (China)
  • 1989: Jalani Sidek/Razif Sidek (Malaysia)
  • 1990: Ditiadakan
  • 1991: Li Yongbo/Tian Bingyi (China)
  • 1992: Rexy Mainaky/Ricky Subagja (Indonesia)
  • 1993: Rudy Gunawan/Bambang Suprianto (Indonesia)
  • 1994: Huang Zhanzhong/Jiang Xin (China)
  • 1995: Huang Zhanzhong/Jiang Xin (China)
  • 1996: Sigit Budiarto/Candra Wijaya (Indonesia)
  • 1997: Ge Cheng/Tao Xiaoqiang (China)
  • 1998: Ditiadakan
  • 1999: Ha Tae-kwon/Kim Dong-moon (Korea Selatan)
  • 2000: Ditiadakan
  • 2001: Zhang Jun/Zhang Wei (China)
  • 2002: Tesana Panvisvas/Pramote Teerawiwatana (Thailand)
  • 2003: Lars Paaske/Jonas Rasmussen (Denmark)
  • 2004: Sigit Budiarto/Candra Wijaya (Indonesia)
  • 2005: Sigit Budiarto/Candra Wijaya (Indonesia)
  • 2006: Markis Kido/Hendra Setiawan (Indonesia)
  • 2007: Markis Kido/Hendra Setiawan (Indonesia)
  • 2008: Jung Jae-sung/Lee Yong-dae (Korea Selatan)
  • 2009: Jung Jae-sung/Lee Yong-dae (Korea Selatan)
  • 2010: Jung Jae-sung/Lee Yong-dae (Korea Selatan)
  • 2011: Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark)
  • 2012: Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark)
  • 2013: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korea Selatan)
  • 2014: Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong (Korea Selatan)
  • 2015: Kim Gi-jung/Kim Sa-rang (Korea Selatan)
  • 2016: Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Indonesia)
  • 2017: Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Indonesia)
  • 2018: Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen (Denmark)
  • 2019: Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Indonesia)
  • 2020: Ditiadakan
  • 2021: Ditiadakan
  • 2022: Ditiadakan
  • 2023: Liang Weikeng/Wang Chang (China)
  • 2024: Goh Sze Fei/Nur Izzuddin (Malaysia)
  • 2025: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri (Indonesia)

4. Ganda Putri (Women’s Doubles)

  • 1986: Ivana Lie/Verawaty Wiharjo (Indonesia)
  • 1987: Guan Weizhen/Lin Ying (China)
  • 1988: Guan Weizhen/Lin Ying (China)
  • 1989: Guan Weizhen/Lin Ying (China)
  • 1990: Ditiadakan
  • 1991: Chung Myung-hee/Hwang Hye-young (Korea Selatan)
  • 1992: Lin Yanfen/Yao Fen (China)
  • 1993: Chen Ying/Wu Yuhong (China)
  • 1994: Ge Fei/Gu Jun (China)
  • 1995: Ge Fei/Gu Jun (China)
  • 1996: Qin Yiyuan/Tang Yongshu (China)
  • 1997: Ge Fei/Gu Jun (China)
  • 1998: Ditiadakan
  • 1999: Ge Fei/Gu Jun (China)
  • 2000: Ditiadakan
  • 2001: Wei Yili/Zhang Jiewen (China)
  • 2002: Gao Ling/Huang Sui (China)
  • 2003: Gao Ling/Huang Sui (China)
  • 2004: Yang Wei/Zhang Jiewen (China)
  • 2005: Yang Wei/Zhang Jiewen (China)
  • 2006: Yang Wei/Zhang Jiewen (China)
  • 2007: Gao Ling/Zhao Tingting (China)
  • 2008: Zhang Yawen/Zhao Tingting (China)
  • 2009: Tian Qing/Zhang Yawen (China)
  • 2010: Cheng Shu/Zhao Yunlei (China)
  • 2011: Wang Xiaoli/Yu Yang (China)
  • 2012: Wang Xiaoli/Yu Yang (China)
  • 2013: Wang Xiaoli/Yu Yang (China)
  • 2014: Wang Xiaoli/Yu Yang (China)
  • 2015: Tang Yuanting/Yu Yang (China)
  • 2016: Chang Ye-na/Lee So-hee (Korea Selatan)
  • 2017: Chen Qingchen/Jia Yifan (China)
  • 2018: Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang)
  • 2019: Chen Qingchen/Jia Yifan (China)
  • 2020: Ditiadakan
  • 2021: Ditiadakan
  • 2022: Ditiadakan
  • 2023: Chen Qingchen/Jia Yifan (China)
  • 2024: Li Yijing/Luo Xumin (China
  • 2025: Liu Shengshu/Tan Ning (China)

5. Ganda Campuran (Mixed Doubles)

  • 1986: Park Joo-bong/Chung Myung-hee (Korea Selatan)
  • 1987: Zhou Jincan/Lin Ying (China)
  • 1988: Park Joo-bong/Chung Myung-hee (Korea Selatan)
  • 1989: Kim Hak-kyun/Hwang Hye-young (Korea Selatan)
  • 1990: Ditiadakan
  • 1991: Liu Jianjun/Wang Xiaoyuan (China)
  • 1992: Aryono Miranat/Eliza Nathanael (Indonesia)
  • 1993: Chen Xingdong/Sun Man (China)
  • 1994: Thomas Lund/Marlene Thomsen (Denmark)
  • 1995: Chen Xingdong/Peng Xinyong (China)
  • 1996: Chen Xingdong/Peng Xinyong (China)
  • 1997: Kim Dong-moon/Ra Kyung-min (Korea Selatan)
  • 1998: Ditiadakan
  • 1999: Liu Yong/Ge Fei (China)
  • 2000: Ditiadakan
  • 2001: Liu Yong/Ge Fei (China)
  • 2002: Zhang Jun/Gao Ling (China)
  • 2003: Zhang Jun/Gao Ling (China)
  • 2004: Jens Eriksen/Mette Schjoldager (Denmark)
  • 2005: Nathan Robertson/Gail Emms (Inggris)
  • 2006: Xie Zhongbo/Zhang Yawen (China)
  • 2007: Nova Widianto/Liliyana Natsir (Indonesia)
  • 2008: Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung (Korea Selatan)
  • 2009: Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung (Korea Selatan)
  • 2010: Tao Jiaming/Tian Qing (China)
  • 2011: Zhang Nan/Zhao Yunlei (China)
  • 2012: Xu Chen/Ma Jin (China)
  • 2013: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia)
  • 2014: Zhang Nan/Zhao Yunlei (China)
  • 2015: Zhang Nan/Zhao Yunlei (China)
  • 2016: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia)
  • 2017: Zheng Siwei/Huang Yaqiong (China)
  • 2018: Zheng Siwei/Huang Yaqiong (China)
  • 2019: Zheng Siwei/Huang Yaqiong (China)
  • 2020: Ditiadakan
  • 2021: Ditiadakan
  • 2022: Ditiadakan
  • 2023: Seo Seung-jae/Chae Yoo-jung (Korea Selatan)
  • 2024: Feng Yanzhe/Huang Dongping (China)
  • 2025: Feng Yanzhe/Huang Dongping (China)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.