KabarBaik.co, Surabaya – Kadin Institute resmi menjalin kerja sama pemagangan internasional dengan Handwerkskammer Dortmund (HWK Dortmund) dan Industrie- und Handelskammer Trier (IHK Trier). Nota Kesepahaman (MoU) yang diteken di Surabaya ini menjadi langkah konkret membuka akses pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis sistem ganda (Ausbildung) bagi generasi muda Indonesia di Jerman.
Managing Director of Vocational Education and Training Center HWK Dortmund, Tobias Schmidt, menyebut penandatanganan tersebut sebagai tonggak penting dalam pengembangan talenta lintas negara.
“Nota Kesepahaman ini mencerminkan komitmen bersama untuk membangun jalur yang kuat dan inovatif bagi talenta muda Indonesia dan Jerman. Ini momen yang patut dirayakan,” ujarnya, Jumat (27/2).
Namun Tobias mengingatkan, keberhasilan kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Menurutnya, dampak nyata hanya akan terwujud melalui komitmen berkelanjutan, kolaborasi aktif, dan tindak lanjut yang konsisten.
Ia mengungkapkan, Jerman saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja profesional di sektor skilled crafts, seperti plumbing, sanitasi, konstruksi, elektrisi, dan berbagai keahlian teknis lainnya.
Tantangan terbesar dalam program pemagangan internasional, kata dia, adalah penguasaan bahasa Jerman.
“Kemampuan bahasa minimal B1, idealnya B2, menjadi prasyarat penting. Selain itu, motivasi dan kesiapan untuk berintegrasi juga sangat menentukan,” jelas Tobias.
Senada, Managing Director IHK Trier, Ulrich Schneider, menyampaikan bahwa wilayah Trier juga mengalami kekurangan tenaga kerja serius, khususnya di sektor pariwisata dan hospitalitas. Sebagai salah satu destinasi wisata utama di Jerman, kota tersebut sangat bergantung pada sektor layanan. “Hotel, restoran, dan industri pariwisata kami kesulitan mencari tenaga profesional. Karena itu, kami ingin membangun proyek yang berstandar jelas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ulrich menegaskan, fokus kerja sama bukan semata pada jumlah peserta, melainkan pada kualitas dan kesiapan mereka menghadapi dunia kerja di Jerman.
Jalur utama program ini adalah sistem pelatihan kerja ganda (dual vocational training system), di mana peserta harus memiliki kemampuan bahasa minimal B1—dan dalam praktiknya dipersiapkan hingga B2—serta mengantongi kontrak pelatihan dari perusahaan sebelum mengajukan visa.
Dari sisi fasilitasi, perwakilan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Niklas Cramer, memastikan perlindungan hukum bagi peserta Indonesia selama mengikuti program di Jerman.
“Peserta akan menerima kontrak yang sama dengan pekerja Jerman, dengan hak dan kewajiban setara. Kontrak tersebut diperiksa agar sesuai hukum, dan tersedia mekanisme resmi jika terjadi perselisihan,” terangnya.
Ia juga menjelaskan, setelah menyelesaikan masa pelatihan selama 2 hingga 3,5 tahun, peserta tidak diwajibkan langsung kembali ke Indonesia. Mereka memiliki waktu sekitar 12 bulan untuk mencari pekerjaan baru di Jerman sebelum masa berlaku visa berakhir.
Selama masa pelatihan, peserta menerima tunjangan sekitar 1.000 euro per bulan pada tahun pertama, yang meningkat setiap tahun. Skema pendidikan dijalankan melalui sistem dual, yakni dua hari di sekolah vokasi dan tiga hari praktik di perusahaan.
Pimpinan Proyek Pusat Migrasi dan Pembangunan GIZ, Makhdonal Anwar, menilai kerja sama ini sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata kelola migrasi tenaga kerja.
“Kita tidak hanya menandatangani perjanjian, tetapi membangun fondasi mobilitas tenaga kerja yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan dari Indonesia ke Jerman,” ujarnya.
Dukungan juga disampaikan Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto. Ia menyebut kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Kadin Jatim yang selama ini menempatkan vokasi berbasis sistem ganda sebagai prioritas utama program kerja.
“Sekitar 80 persen program kami berfokus pada vokasi. Kerja sama langsung dengan mitra di Jerman ini menjadi langkah strategis,” katanya.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur, Sigit Priyanto, menilai program Ausbildung relevan dengan tuntutan global yang mengedepankan kompetensi terstandar internasional. “Persaingan dunia kerja membutuhkan SDM dengan kompetensi nyata dan diakui secara global. Program ini menjadi salah satu jawabannya,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, menegaskan kerja sama ini menjadi peluang strategis di tengah tantangan pengangguran nasional.
“Ini sinyal positif karena menghadirkan kesempatan kerja nyata bagi putra-putri Indonesia. Link and match antara pendidikan dan kebutuhan industri harus benar-benar terwujud,” tegasnya.
Ia menambahkan, saat ini Kadin Institute telah menyiapkan 17 program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri Jerman dan didukung skema sertifikasi ganda, sebagai bekal bagi peserta sebelum berangkat mengikuti program pemagangan.






