Kadin Jatim Dorong Riset Berbasis Kebutuhan Industri, Jembatani Kesenjangan Inovasi dan Dunia Usaha

oleh -136 Dilihat
Ketua kadin jatim
Sinergisitas antara dunia riset dan industri perlu diperkuat agar hasil penelitian dapat diimplementasikan secara luas.

KabarBaik.co, Surabaya – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menyoroti masih rendahnya tingkat adopsi hasil riset oleh sektor industri. Selama ini, banyak penelitian dinilai berhenti pada tataran publikasi dan belum memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi.

Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi tantangan serius di tengah upaya mendorong transformasi ekonomi berbasis inovasi. Menurutnya, sinergisitas antara dunia riset dan industri perlu diperkuat agar hasil penelitian dapat diimplementasikan secara luas.

Hal itu disampaikannya dalam paparan bertajuk “Dari Riset ke Dampak: Sinergi Inovasi dan Industri untuk Transformasi Jawa Timur” pada Dialog Strategis Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Week Universitas Airlangga di Surabaya, Selasa (14/4).

Secara makro, Adik menyebut Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional. Pada 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur tercatat sekitar Rp 3.403 triliun dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,33 persen. Provinsi ini juga menjadi salah satu kontributor utama terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Dari struktur ekonomi, sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 31 persen, sementara konsumsi rumah tangga mendominasi hingga 60 persen. Di sisi lain, sektor transportasi dan logistik tumbuh di atas 9 persen, menegaskan peran Jawa Timur sebagai pusat distribusi nasional, khususnya untuk kawasan Indonesia Timur.

“Jawa Timur memiliki fondasi ekonomi yang kuat sebagai hub manufaktur dan logistik. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kelas ekonomi melalui inovasi yang mampu menciptakan efisiensi,” ujar Adik.

Ia menjelaskan, peningkatan efisiensi sebesar satu persen saja berpotensi memberikan dampak ekonomi hingga puluhan triliun rupiah. Namun, potensi tersebut belum optimal akibat masih lebarnya kesenjangan antara hasil riset dan kebutuhan industri.

Menurutnya, meski kapasitas riset terus berkembang, keterlibatan industri dalam proses penelitian masih terbatas. Akibatnya, banyak hasil riset tidak terserap dan sulit diimplementasikan menjadi produk atau solusi bernilai ekonomi.

Selain itu, belum kuatnya mekanisme hilirisasi turut menjadi hambatan. Kondisi ini membuat Indonesia, termasuk Jawa Timur, relatif kuat dalam menghasilkan output riset, namun masih lemah dalam menciptakan dampak ekonomi nyata.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kadin Jatim mendorong perubahan paradigma riset dari pendekatan supply-driven menjadi demand-driven research. Pendekatan ini menempatkan kebutuhan industri sebagai dasar utama dalam penentuan arah penelitian.

“Ke depan, riset harus berbasis pada kebutuhan nyata industri. Pelaku usaha perlu dilibatkan sejak awal agar hasilnya relevan dan dapat langsung diadopsi,” kata Adik.

Dalam skema ini, Kadin mengambil peran sebagai agregator kebutuhan industri sekaligus penghubung antara dunia akademik dan sektor usaha. Kadin juga berfungsi sebagai fasilitator dalam mendorong implementasi hasil riset di lapangan.

Sejalan dengan itu, disusun tujuh prioritas agenda riset strategis. Di antaranya mencakup inovasi produk untuk meningkatkan nilai tambah industri, inovasi proses produksi guna mendorong efisiensi, serta inovasi pemasaran berbasis digital dan penetrasi pasar global.

Selain itu, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), penerapan prinsip keberlanjutan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), penguatan tata kelola dan regulasi, serta pengembangan sumber daya manusia yang selaras dengan kebutuhan industri juga menjadi fokus utama.

Untuk memastikan implementasi berjalan efektif, Kadin bersama pemangku kepentingan menyiapkan sejumlah langkah konkret. Di antaranya pembentukan Industrial Problem Bank sebagai basis data kebutuhan industri, serta Joint Research Task Force yang melibatkan perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga, serta lembaga riset nasional.

Langkah lainnya adalah pengembangan proyek percontohan hilirisasi riset, termasuk komersialisasi hasil penelitian, program inkubasi, hingga adopsi langsung oleh industri. Skema ini juga didukung pendanaan hibah riset terapan dari pemerintah.

“Melalui pendekatan ini, kami berharap tercipta ekosistem inovasi yang terintegrasi, di mana riset tidak hanya berhenti sebagai publikasi, tetapi mampu menghadirkan solusi konkret bagi industri dan mendorong daya saing ekonomi Jawa Timur,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.