KabarBaik.co, Malang – Angka kematian akibat kanker serviks di Kabupaten Malang masih tergolong tinggi. Dinas Kesehatan Kabupaten Malang mencatat, sekitar 50 persen penderita yang terkonfirmasi kasus berakhir meninggal dunia.
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Titis Ari Respatilastih, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut menjadi perhatian serius, terutama karena mayoritas pasien datang berobat saat penyakit sudah berada pada stadium lanjut.
“Sebanyak 50 persen yang terkonfirmasi kasus itu meninggal, bahkan setelah mendapatkan pengobatan. Karena banyak yang datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah stadium lanjut, jadi sudah terlambat,” ujarnya, Senin (20/4).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, tercatat sekitar 400 kasus kanker serviks yang dialami perempuan usia 30 hingga 69 tahun. Tingginya angka kematian ini dipicu keterlambatan diagnosis, di mana sebagian besar pasien baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah parah.
Titis menegaskan, deteksi dini menjadi kunci utama untuk menekan angka kematian. Dengan pemeriksaan rutin, peluang kesembuhan pasien akan jauh lebih besar karena penanganan bisa dilakukan lebih cepat. “Kalau rutin melakukan skrining atau deteksi dini, ketika ditemukan lebih awal, penanganannya akan jauh lebih mudah,” jelasnya.
Namun, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan masih sangat rendah. Dari sekitar 700 ribu perempuan yang menjadi sasaran skrining, baru sekitar 40 ribu orang atau sekitar 5 persen yang telah menjalani deteksi dini.
Rendahnya capaian tersebut mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Malang untuk terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Upaya ini dilakukan agar perempuan semakin peduli terhadap kesehatan reproduksi serta memahami pentingnya pemeriksaan sejak dini guna mencegah risiko kematian akibat kanker serviks. (*)






