KabarBaik.co – Suasana berbeda terasa di Griya Cita Kasih, Desa Sumbermulyo, Jogoroto, Jombang. Tawa riang terdengar membelah udara di tempat yang biasanya sunyi, jauh dari keramaian. Para penghuni panti Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tampak larut dalam kegembiraan.
Mereka sedang mengikuti kegiatan bertajuk ‘Jejak Peduli ODGJ’ yang digelar oleh komunitas sosial Roushon Fikr Peduli. Acara ini bertujuan membagikan kebahagiaan serta meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan psikososial ODGJ.
Kegiatan dibuka dengan senam bersama di pelataran panti. Seorang instruktur memandu gerakan dengan penuh semangat. Meski tak semua peserta mengikuti gerakan secara sinkron, suasana justru menjadi semakin meriah.
“Namanya juga ODGJ, mereka justru menciptakan koreografi sendiri. Tapi justru di situlah letak kebahagiaannya,” ujar Ketua Roushon Fikr Peduli Imma Rahmawati Ulfa, Sabtu (13/9)
Menurut Imma, gerakan yang tak seirama dan tawa yang lepas kontrol justru menjadi simbol kebebasan dan ekspresi tulus para pasien. Ia menekankan bahwa ODGJ juga manusia yang mampu merasakan kebahagiaan, meski kerap distigma oleh masyarakat.
Setelah senam, acara dilanjutkan dengan lomba makan kerupuk dan permainan tradisional sunggih tempeh, yang membuat suasana makin hidup. Beberapa pasien tampak melompat-lompat kegirangan, sementara yang lain tertawa tanpa henti bahkan sebelum lomba dimulai.
“Mereka bukan hanya butuh obat dan terapi, tapi juga interaksi sosial, hiburan, dan kasih sayang. Ini yang sering kali terabaikan,” lanjut Imma.
Griya Cita Kasih sendiri menjadi rumah bagi ratusan ODGJ dari berbagai latar belakang. Kegiatan seperti ini menjadi momen langka dan sangat berarti bagi mereka yang kesehariannya diwarnai keheningan dan keterasingan.
Imma menegaskan bahwa aksi seperti ini bukan yang pertama dan tidak akan menjadi yang terakhir.
“Bukan soal seberapa besar yang kita beri, tapi seberapa dalam kita hadir untuk mereka. Karena hadir dan peduli adalah bentuk cinta yang tak ternilai,” tandasnya.
Stigma terhadap ODGJ masih menjadi tantangan besar. Banyak yang menganggap mereka sebagai ancaman atau beban. Lewat kegiatan ini, Roushon Fikr Peduli ingin membuka mata publik bahwa ODGJ tetaplah bagian dari masyarakat yang harus dihormati dan diberi ruang untuk pulih.
Salah satu relawan, Abdul Qodir, mengaku mendapatkan pengalaman yang menggugah hati. Pria yang baru pertama kali terlibat langsung ini awalnya merasa canggung.
“Awalnya saya sempat ragu, takut salah bicara atau salah bersikap. Tapi ternyata mereka sangat hangat dan responsif, jauh dari bayangan saya sebelumnya,” ujarnya.
Ia bahkan menceritakan momen saat seorang pasien mendekatinya dan mengajaknya berbincang dengan senyum tulus.
“Itu momen yang sulit saya lupakan. Saya merasa mereka sebenarnya hanya ingin didengarkan, ditemani, dan tidak dikucilkan,” tambahnya haru.
Abdul berharap kegiatan serupa bisa terus dilakukan agar masyarakat semakin sadar bahwa ODGJ adalah manusia yang tengah berjuang untuk kembali pulih, bukan untuk dijauhi.
“Melihat mereka tertawa lepas, itu hadiah terbaik bagi kami para relawan,” tutupnya.
Roushon Fikr Peduli mengajak lebih banyak pihak, terutama anak muda dan komunitas sosial, untuk ikut serta dalam kegiatan serupa. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih inklusif dan tidak lagi meminggirkan mereka yang membutuhkan uluran tangan. (*)







