KabarBaik.co, Banyuwangi – Menteri Koordinasi Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengakhiri safarinya ke Banyuwangi dengan berdialog dengan para petani di Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, Kamis (14/5).
Dalam pertemuan itu, Zulhas mengaku ingin memastikan petani mendapat pupuk dengan harga wajar dan gabahnya dibeli dengan harga standar pemerintah.
“Saya diminta Presiden untuk mengecek bagaimana harga gabah. Tadi saudara-saudara sudah mendengar sendiri, harga gabah bagus, di atas Rp 6.500. Saya juga diminta mengecek bagaimana pupuk. Alhamdulillah, pupuk lancar dan harganya mendapat diskon 20 persen,” kata Zulhas.
Zulhas menyebut kondisi para petani saat ini membaik dibanding sebelumnya dari sisi ekonomi. Oleh karenanya, nilai tukar petani bisa bertahan di angka 125,24 berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional.
“Artinya, petani kita lebih makmur,” ujarnya.
Hal tersebut diamini oleh para petani di Kecamatan Rogojampi. Para petani kini bisa menjual beras mereka dengan harga layak dan mendapat pupuk dengan harga lebih terjangkau.
Ketua Kelompok Tani Desa Watukebo, Muhammad Saidi, mengatakan, pasokan pupuk kepada para petani terbilang lancar hingga saat ini.
“Ditambah lagi harga gabah juga bagus. Dengan adanya HPP (Harga Pembelian Pemerintah) sebagai harga patokan, alhamdulillah sekarang petani kini sudah tersenyum,” ungkap Saidi.
Menurut dia, kini tak ada petani yang menjual gabahnya di bawah harga Rp 6500 per kg yang ditetapkan oleh pemerintah. Bahkan, jika hasilnya bagus, petani bisa menjual seharga Rp 7000.
Harga pupuk bersubsidi yang didiskon 20 persen juga meringankan bagi petani. Menurut Saidi, subsidi tersebut membuat harga pupuk lebih murah. Misalnya, Rp 90 ribu untuk pupuk Urea dan Rp 92 ribu untuk pupuk NPK.
“Sekarang sudah tidak ada kelangkaan. Tidak ada keluhan dari petani,” sambung dia.
Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob mengatakan, penebusan pupuk subsidi di wilayah Jawa Timur telah mencapai 50 persen. Hal tersebut menunjukkan penyaluran berjalan lancar.
“Alokasi pupuk subsidi,nasional sekitar 9,8 juta ton. Jawa Timur mendapat alokasi 2 juta ton, jadi sekitar 20 persen, paling tinggi,” kata dia.
Alokasi terbanyak yakni untuk pupuk urea dan NPK. Masing-masing sekitar 4 juta ton.






