“Sekarang air lautnya pahit, tidak asin lagi,” kata Santoso, Ketua Rukun Nelayan (RN) Bale Laok, Desa Kramat, Mengare, Kabupaten Gresik. Kalimat itu diucapkan sambil menatap laut yang sudah dikenalnya sejak kecil—laut yang dulu memberinya penghidupan, tetapi kini perlahan terasa asing.
Hari itu, ia mendampingi tim ekspedisi Susur Pesisir KabarBaik.co bersama sejumlah pegiat lingkungan dari Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton), lembaga yang sejak 1996 menaruh perhatian pada krisis ekologis di wilayah Indonesia.
Perahu kecil tim bergerak pelan menyusuri garis pantai Manyar–Mengare, di tengah angin laut yang tak lagi membawa aroma asin yang khas, melainkan campuran bau lumpur dan aktivitas industri dari kejauhan.
Susur Pesisir itu bukan sekadar perjalanan biasa. Tim KabarBaik.co sengaja turun langsung ke wilayah pesisir Gresik untuk menguji dan melihat secara dekat kondisi kualitas perairan laut di kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir terus dibayangi ekspansi industri dan reklamasi.
Sebelumnya, banyak keluhan nelayan tentang hasil tangkapan yang menurun, perubahan warna air, hingga rusaknya mangrove membuat kondisi pesisir Manyar–Mengare menjadi penting untuk ditelusuri lebih jauh.
Apalagi belakangan, aktivitas reklamasi di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) disebut masif. Di tengah geliat pembangunan tersebut, muncul pertanyaan yang terus menghantui warga pesisir. Masihkah laut menjadi ruang hidup yang aman bagi nelayan?

Santoso tumbuh bersama laut ini. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia merasa seperti melaut di tempat yang kini berubah wajah. Di satu sisi, deretan industri dan proyek reklamasi tumbuh cepat di sekitar kawasan pesisir. Di sisi lain, nelayan seperti dirinya justru semakin sering pulang dengan jaring nyaris kosong.
“Kalau tidak percaya, coba saja lihat sendiri,” katanya sambil tertawa kecil, meski nada suaranya terdengar getir.
Beberapa orang di atas perahu benar-benar mencoba mencicipi air laut itu dengan ujung jari. Tak ada yang langsung menjawab. Mereka hanya saling pandang, seolah sama-sama merasakan ada sesuatu yang berubah meski sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Bagi Santoso, perubahan itu tidak membutuhkan teori rumit untuk dipahami. Laut yang dulu ramai ikan kini terasa semakin sepi. “Saya melaut cuma dapat satu ekor,” ujarnya sambil mengangkat seekor ikan dorang berukuran sedang yang tergeletak di dasar perahu kayunya yang mulai lapuk dimakan usia dan air asin.
Ia lalu mengenang masa ketika rajungan menjadi sumber penghidupan utama warga pesisir Mengare. “Dulu sehari bisa dapat Rp 800 ribu, padahal harga rajungan waktu itu cuma Rp 40 ribu per kilo,” katanya. Kini harga rajungan memang naik hingga sekitar Rp 100 ribu per kilogram, tetapi hasil tangkapan justru merosot tajam. “Sekarang bawa pulang empat ekor saja sudah alhamdulillah,” tambahnya lirih.

Di darat, keluhan serupa disampaikan Sapuan, Ketua RT setempat. Ia menunjuk ke arah pesisir yang kini tampak berbeda, dengan hamparan mangrove yang sebagian mulai mengering dan mati. Ia tak tahu pasti kapan perubahan itu mulai terjadi, tetapi ingatannya tertuju pada masa awal pembangunan kawasan reklamasi.
“Waktu itu ada kapal besar menyemprot ke arah mangrove, tapi saya tidak tahu apa yang disemprotkan,” katanya. Setelah terdiam beberapa saat, ia mengaku warga hanya bisa melihat dari jauh. Sebagai orang kecil, mereka merasa tak benar-benar tahu apa yang sedang berlangsung di balik proyek-proyek besar yang terus mendekat ke wilayah tangkap nelayan.
Apa yang dirasakan nelayan di pesisir Gresik ini sejatinya bukan cerita yang berdiri sendiri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah nelayan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi dengan kecenderungan menurun. Terutama pada nelayan tangkap tradisional.
Tekanan ekonomi, kenaikan biaya bahan bakar, perubahan musim akibat krisis iklim, hingga menurunnya kualitas lingkungan pesisir membuat profesi nelayan semakin tidak pasti.
Secara nasional, jumlah pelaku usaha perikanan memang masih berada di kisaran lebih dari satu juta orang. Namun komposisinya perlahan berubah. Nelayan tangkap tradisional terus menyusut, sementara sebagian masyarakat pesisir mulai beralih ke pekerjaan lain atau budidaya perikanan yang dianggap lebih stabil.
Di Jawa Timur, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung nelayan terbesar di Indonesia, tekanan serupa juga mulai terasa, terutama di wilayah-wilayah yang bersinggungan langsung dengan kawasan industri dan reklamasi.
Kadar Oksigen Drop di Area Reklamasi
Pagi menjelang siang, sekitar pukul 10.30 WIB, perahu tim ekspedisi berhenti di titik pertama, Manyarejo, Manyar. Yakni, di kawasan reklamasi KEK JIIPE. Dari atas perahu terlihat hamparan daratan baru yang seolah sedang “diciptakan” dari laut. Saluran air besar berbentuk box dari besi tampak mengarah langsung ke kawasan industri. Air di sekitarnya terlihat lebih keruh, dengan sampah yang mengapung perlahan mengikuti arus.
Direktur Eksekutif Ecoton, Daru Setyorini, mulai mengambil sampel air. Botol-botol kecil dicelupkan ke beberapa titik berbeda—di dekat kawasan industri, area mangrove, hingga sekitar dermaga nelayan. Dari pengamatan kasatmata saja, perbedaan warna dan kejernihan air terlihat cukup mencolok.
Di titik lain, tim menemukan saluran pembuangan yang diduga menjadi jalur aliran dari kawasan industri menuju laut. Tak jauh dari situ, deretan mangrove berdiri kering seperti barisan pohon yang kehilangan nyawa. Di belakangnya, aktivitas urukan tanah masih terlihat berlangsung, diselingi suara mesin dan lalu-lalang kendaraan proyek dari kejauhan.

Hasil pengujian awal tim Ecoton menunjukkan adanya perbedaan kualitas air yang cukup signifikan antara area dekat industri dan wilayah yang masih relatif alami. Kadar fosfat dan amonia tercatat lebih tinggi di sekitar kawasan reklamasi dan saluran pembuangan. Menurut Daru, kondisi tersebut menjadi indikasi adanya tekanan serius terhadap kualitas perairan pesisir.
“Fosfat paling tinggi ditemukan di area reklamasi. Kami belum tahu pasti aktivitas apa yang menyebabkannya,” ujarnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) di beberapa titik dekat kawasan industri hanya sekitar 2,7 mg/liter. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan kawasan dermaga nelayan yang mencapai sekitar 6,5 mg/liter. Dalam kondisi seperti itu, banyak biota laut akan kesulitan bertahan hidup.
Tim Ecoton juga menyoroti kondisi mangrove yang mati di sejumlah titik sekitar lokasi survei. Mereka menduga ada kaitan dengan aktivitas reklamasi, meski penyebab pastinya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. “Ini memang masih temuan awal, tapi cukup menjadi alarm,” kata Daru.
Pihaknya meminta pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur melakukan pengawasan lebih mendalam terhadap aktivitas di kawasan pesisir Manyar–Mengare, termasuk dampaknya terhadap ekosistem laut dan kehidupan nelayan.

Saat perahu perlahan meninggalkan lokasi, garis pantai Manyar–Mengare kembali tampak biasa dari kejauhan. Ombak masih memecah pelan di sisi perahu. Burung-burung laut sesekali melintas rendah di atas air. Namun bagi nelayan seperti Santoso, laut itu tak lagi benar-benar sama. Bukan hanya soal warna air atau rasa asin yang mulai memudar, melainkan tentang kehidupan yang perlahan ikut hilang dari jaring mereka.(*)








