Ketika Benang Menenun Masa Depan: Pringgasela Merawat Warisan, NTB Membangun Peradaban

oleh -73 Dilihat
IMG 20260726 WA0018
Karnaval Tenun Night Show "Srimananti: The Evolution of Heritage (Suara, Rupa, dan Aroma)" yang digelar di Tugu Mopra Pringgasela. (Foto: Arief Rahman)

KabarBaik.co, Pringgasela – Di banyak tempat, sehelai kain berhenti sebagai komoditas. Namun di Pringgasela, Lombok Timur, ia tumbuh menjadi identitas, pengetahuan, sekaligus harapan tentang masa depan. Melalui Karnaval Tenun Night Show “Srimananti: The Evolution of Heritage (Suara, Rupa, dan Aroma)” yang digelar di Tugu Mopra Pringgasela, masyarakat tidak sekadar merayakan keindahan tenun, tetapi juga menegaskan bahwa warisan budaya hanya akan tetap hidup apabila terus dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Malam itu, denting alat tenun tidak lagi terdengar sebagai bunyi kayu yang saling beradu. Ia berubah menjadi bahasa kebudayaan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Benang-benang yang dirajut para penenun menjadi simbol ketekunan sebuah masyarakat menjaga ingatan kolektif di tengah dunia yang bergerak semakin cepat.

Penyelenggaraan Alunan Budaya yang kini memasuki tahun kesepuluh menjadi penanda bahwa Pringgasela tidak sekadar mempertahankan tradisi. Desa ini berhasil menjadikan tenun sebagai ruang dialog antara warisan leluhur dan kreativitas masa kini. Tema “The Evolution of Heritage” menegaskan bahwa kebudayaan bukan benda mati yang disimpan di balik etalase, melainkan nilai yang terus tumbuh mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Ketua TP PKK NTB yang juga Ketua Dekranasda NTB Sinta Aghatia M. Iqbal di dampingi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhammad Ihwan, S.Sos M.Si, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTB memandang kebudayaan bukan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai fondasi yang membentuk karakter, memperkuat identitas, dan membuka peluang kesejahteraan masyarakat.

Dalam kerangka NTB Makmur Mendunia, kebudayaan ditempatkan sebagai kekuatan strategis yang mampu menggerakkan ekonomi kreatif, memperkaya pendidikan, memperkuat diplomasi budaya, sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata daerah. Karena itu, tenun Pringgasela tidak cukup dipahami sebagai produk kerajinan tangan. Ia adalah pengetahuan yang diwariskan, kreativitas yang terus berkembang, dan identitas yang membedakan NTB di tengah pergaulan dunia.

Bagi Pemerintah Provinsi NTB, tantangan pelestarian budaya hari ini bukan lagi memilih antara tradisi dan modernitas. Tantangannya adalah mempertemukan keduanya dalam harmoni. Tradisi harus tetap menjadi akar, sementara inovasi menjadi cabang yang membuatnya terus tumbuh dan menjangkau masa depan.

Semangat itulah yang kini diwujudkan melalui penyusunan Haluan Pemajuan Kebudayaan Daerah, penguatan museum, revitalisasi Taman Budaya, perlindungan objek pemajuan kebudayaan, serta kolaborasi dengan komunitas, pelaku seni, akademisi, dan pemerintah kabupaten/kota. Seluruh upaya tersebut diarahkan agar kebudayaan hadir sebagai bagian dari pembangunan, bukan sekadar dikenang sebagai warisan masa lalu.

Pringgasela telah menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak sejarah. Justru dari desa ini lahir pelajaran bahwa tradisi dapat menjadi sumber inovasi, ekonomi, dan kebanggaan masyarakat apabila dikelola secara kreatif dan berkelanjutan. Ketika seorang penenun menggerakkan alat tenunnya, sesungguhnya ia sedang merajut lebih dari sehelai kain. Ia sedang menyambungkan kisah para leluhur dengan mimpi anak cucunya. Ia sedang menghubungkan identitas lokal dengan panggung dunia.

Maka, ketika malam itu para peraga busana melangkah di atas panggung Srimananti, yang sesungguhnya tampil bukan hanya motif-motif tenun yang indah. Yang hadir adalah perjalanan panjang sebuah kebudayaan yang terus bertahan, beradaptasi, dan menemukan makna baru di setiap zaman.

Dari Pringgasela, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengirimkan pesan sederhana namun mendalam: kemajuan tidak pernah lahir dengan meninggalkan akar, melainkan dengan merawatnya, menumbuhkannya, lalu memperkenalkannya kepada dunia. Ketika benang terus ditenun dengan cinta dan keyakinan, yang lahir bukan sekadar sehelai kain, melainkan masa depan sebuah peradaban yang berakar kuat pada budayanya sendiri. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Arief Rahman
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.