Konser Picnic Berujung Panik, Aksi Horor Teroris Tewaskan 133 Orang

Editor: Hardy
oleh -398 Dilihat
Crocus City Hall, Moskow, Rusia, sebelum serangan maut teroris pada Jumat (22/3) malam, (Capture Trioadvisor)

KabarBaik.co- Para pengunjung sudah duduk. Rapih di deretan kursi merah. Naik-turun berundak. Seperti di sebuah gedung bioskop itu. Tapi, bukan. Jumat (22/3) mereka sedang berada di dalam gedung pertunjukan ’’Crocus City Hall’’ Moskow. Bersiap melepas penat. Berhibur. Menikmati konser salah satu grup musik legend Rusia: Picnic.

Picnic grup musik lama. Berdiri di Leningrad sejak 1978. Titik awal popularitas Picnic disebut sejak masuknya Edmund Shklyarsky. Album pertama direkam 1982. Berpuluh tahun tetap eksis hingga kini. Di antara kekuatannya, orisinalitas yang tidak biasa. Dengan instrumen keyboard simfoni dan elemen folk yang eksotis. Dulu, pernah ke rock, tapi kembali orisinal awal

Nah, sebagai grup band ’’berkelas’’, wajar kalau konser Picnic di Crocus City Hall. Salah satu lokasi pertunjukan yang disebut aman dan nyaman di Moskow. Ruangan cukup luas. Kapasitasnya hingga 6.000 orang. Lokasi strategis. Mudah dijangkau trasportasi publik. Sebelumnya, tempat ini juga pernah menjadi lokasi konser Eric Clapton dan beberapa penyanyi top lain. Termasuk gelaran Miss Universe 2013.

Crocus City Hall resmi dibuka  25 Oktober 2009. Milik pengusaha terkenal Aras Agalarov. Kabarnya, gedung dibangun untuk menghormati temannya, Muslim Magomayev, penyanyi dan musisi hebat.

Layaknya standar pengamanan, untuk masuk ke gedung pertunjukan itu para pengunjung mesti melalui metal detektor. Pun demikian juga dialami Natalya, salah seorang pengunjung, yang berniat menonton  Picnic malam itu. Dia baru saja melepas mantel. Lalu, antre di pintu masuk gedung. Mau melewati metal detektor.

Baca juga:  Rusia Gelar Pilpres, dan Jalinan Hubungan Baik dengan Indonesia

Tiba-tiba, terdengar serentetan tembakan. Dor…dor…dorrr! Berulang kali. “Tembakan datang dari belakang kami,” kata Natalya, seperti dikutip CNN dari Reuters, Sabtu (23/3).

Suara itu keras. Seperti ledakan petasan. ’’Saya mendengarnya tepat di belakang saya, tidak jauh dari sana,” sambung Natalya. Mendengar itu, Natalya pun lari. Tidak jadi masuk gedung. Memilih cepat menyelematkan nyawanya. “Semua orang berteriak, semua orang berlarian,” ucapnya.

Natalya menuju ke Stasiun Metro. Membelah dingin udara malam Moskow yang saat ini mencapai 5 derajat Celcius. Tanpa mantel yang telanjur dilepas sebelum masuk gedung tadi. “Saya ketakutan, itu mimpi buruk,” ujarnya.

Natalya hanya satu dari ribuan orang yang ketakutan malam itu. Maunya berhibur dengan menikmati grup musik Picnic, malah berujung kepanikan. Dampak serangan teroris ke gedung Crocus City Hall tersebut. Dalam rekaman video yang banyak beredar di medsos, serangan dengan menggunakan senjata otomatis itu benar-benar horor. Mengobrak-abrik ruang pertunjukan.

Setelahnya, kepulan asap dan api muncul dari gedung tersebut. Berkobar-kobar. Terlihat banyak orang berlarian sambil berteriak. Histeris nan mencekam.

Serangan itu tercatat paling mematikan di Rusia dalam 20 tahun terakhir, sejak pengepungan Sekolah Beslan pada 2004 silam. Hingga saat ini, dilaporkan sebanyak 133 orang tewas. Tidak sedikit yang luka tembak.

Dinas Keamanan Federal (FSB) mengungkapkan,  ada 11 orang telah ditangkap. Termasuk empat orang yang diduga melakukan penyerangan. Mereka telah ditahan di wilayah Bryansk, sekitar 340 km barat daya Moskow. Mereka ditangkap ketika sedang melarikan diri menuju perbatasan Ukraina.

Baca juga:  Menang Tebal, Putin Berpeluang Jadi Presiden Seumur Hidup

Teroris itu menggunakan kamuflase dan rompi tempur berisi lusinan magasin cadangan. Mereka tiba Crocus City Hall, sekitar pukul 19.40 waktu setempat. Sejumlah saksi menyebut, tersangka datang mengendarai Minivan. Lalu, keluar dari pintu belakang kendaraan. Menuju ke gedung dengan menenteng senjata.

Tidak lama berselang, dor…dor…dor….! Mereka menembaki pintu masuk utama. Kaca-kaca pecah berantakan. Terbelah. Pelaku terus berjalan. Memberdondong siapa pun di hadapannya. Sejumlah korban pun tersungkur, tergeletak tak berdaya di lantai. Beberapa orang berhasil lolos dari serangan maut itu. Bunyi tembakan terus tendengar menyalak-nyalak. Menyasar ke mana-mana.

Para pelaku lantas menuju ke ruang aula konser. Dengan terus memberondongkan senapannya. Ratusan orang yang tengah duduk untuk menonton konser pun dibuat kaget. Kalang kabut.

“Beberapa orang mengira itu semacam efek khusus,” kata Anastasia Rodionova, salah satu saksi, kepada Reuters. ’’Lalu, saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang-orang berjatuhan dan ada tembakan,”

Rodionova menyebut beberapa orang berhasil mendobrak pintu jalan dan melarikan diri. Terdengar pengeras suara yang mengumumkan bahwa konser dibatalkan karena alasan teknis. Semua pengunjung diminta untuk meninggalkan aula.

Kemarahan Presiden Putin dan Hari Berkabung Nasional

Serangan teroris itu hanya berselang beberapa hari dari pelaksanaan pemilihan presiden (Pilpres) Rusia. Dalam Pilpres 2024 ini, Senin (18/3) KPU Pusat Rusia telah mengumumkan calon petahana Vladimir Putin kembali terpilih dengan capaian suara 87.28 persen. Putin unggul telak dibandingkan tiga calon presiden lainnya.

Baca juga:  Rusia Gelar Pilpres, dan Jalinan Hubungan Baik dengan Indonesia

Aksi terosris itupun membuat Putin berang. ’’Saya berbicara kepada Anda hari ini sebagai koneksi atas serangan berdarah, dan aksi teroris yang barbar,” ungkapnya, Sabtu (24/3) sebagaimana dilansir dari Antara.

Presiden yang berkuasa sejak 1999 sialm itu menyatakan, para korban merupakan ratusan orang tak bersalah, orang-orang yang damai. ’’Saya mendeklarasikan 24 Maret sebagai hari berkabung nasional,” katanya.

Putin pun berjanji akan memberikan hukuman keras kepada mereka semua yang terlibat dalam serangan. Dia juga beterima kasih kepada kru ambulans, pemadam kebakaran, dan pihak penyelamat yang tanpa henti menyelamatkan nyawa.

Sejauh ini, belum bisa dipastikan apa motif dari serangan berdarah di gedung konser tersebut. Yang jelas, pada serangan tersebut, ISIS mengaku sebagai pihak yang bertanggung jawab. Hal itu diungkapkan di akun Telegram mereka.

Sementara itu, pihak Ukraina yang berseteru dengan Rusia dalam beberapa tahun terakhir ini menegaskan pihaknya tidak terlibat atas serangan itu.  Mykhailo Podolya, penasihat Presiden Ukraina, melalui akun X (Twitter) menegaskan, Ukraina tidak pernah menggunakan metode seperti itu. Malah disebutnya kerap dilakukan Rusia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.