KabarBaik.co, Batu – Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, resmi melaunching batik tulis bermotif khas Elang Jawa, Sabtu (28/2) malam. Produk unggulan desa tersebut diberi nama Batik Kamulyan dan menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pelestarian lingkungan.
Peluncuran batik dilakukan langsung oleh Ketua Dekranasda Kota Batu, Siti Faujiyah Nurochman, didampingi Ibu Wakil Wali Kota Batu, Rida Heli Suyanto, jajaran OPD, Camat Bumiaji, Kepala Desa Bulukerto, akademisi dari UMM, dan BNN Kota Batu.
Batik Kamulyan dikerjakan oleh tujuh ibu pembatik yang berkarya di galeri batik milik desa. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, memperkenalkan para pembatik kepada tamu undangan sebagai sosok di balik lahirnya karya tersebut.
“Hari ini kita meresmikan produk unggulan desa kita, Batik Tulis Desa Bulukerto. Saya persilakan para ibu pembatik untuk maju agar para tamu undangan dapat mengenal langsung sosok-sosok terampil di balik karya ini,” ujarnya.
Suhermawan menjelaskan, pemilihan motif Elang Jawa memiliki filosofi mendalam. Sejak 2023, Pemerintah Desa Bulukerto berkomitmen bekerja sama dengan BKSDA untuk melindungi populasi Elang Jawa yang kini tersisa tiga ekor di wilayah tersebut.
“Elang Jawa merupakan satu-satunya spesies endemik yang masih bertahan di Kota Batu. Ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab kita untuk menjaganya,” jelasnya.
Langkah tersebut selaras dengan visi program Batu SAE yang menitikberatkan pada aspek ekologi. Pemberdayaan ekonomi melalui batik diharapkan berjalan seiring dengan pelestarian alam. Nama Kamulyan sendiri terinspirasi dari Sumber Umbul Gemulo. Kata “Gemulo” berasal dari kata “Mulyo” yang berarti sejahtera, mulia, atau bermartabat.
“Melalui batik ini, kami berdoa agar masyarakat Desa Bulukerto senantiasa mendapatkan kemuliaan dan kesejahteraan dalam kehidupannya. Semoga langkah kecil ini menjadi titik tolak kemajuan yang besar bagi desa,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Batu, Siti Faujiyah Nurochman, menyampaikan apresiasinya atas lahirnya Batik Kamulyan. Ia mengaku sebenarnya ingin mengenakan batik Bulukerto saat acara tersebut, namun karena persiapan yang mendadak, batiknya belum selesai. “Insya Allah setelah ini saya akan bangga mengenakannya,” ujarnya.
Ia menegaskan komitmennya dalam mendukung produk UMKM lokal. Bahkan busana yang dikenakannya saat itu merupakan hasil karya pengrajin batik dan desainer muda asli Kota Batu. “Kita harus mengangkat budaya dan potensi lokal agar lebih dikenal luas,” tegasnya.
Siti Faujiyah berharap peluncuran Batik Kamulyan tidak berhenti pada seremoni semata. Ia mendorong agar batik tersebut mampu naik kelas dan dikenal hingga tingkat nasional melalui Dekranasda.
Selain itu, para pengrajin diminta terus berinovasi dan tidak cepat puas.
Menurutnya, batik tidak hanya untuk busana, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif lainnya.
Ia juga mendukung penuh penggunaan motif Elang Jawa sebagai identitas khas Bulukerto, mengingat burung tersebut merupakan ikon endemik di Gunung Pucung.
Bahkan, ia meminta seluruh perangkat desa dan lembaga adat menjadi contoh dengan mengenakan Batik Bulukerto dalam berbagai kegiatan sebagai bentuk promosi nyata. “Jika perangkat desa memakainya, itu akan menjadi sarana promosi yang efektif. Teruslah semangat dan ciptakan inovasi baru agar batik kita bisa go international,” pungkasnya. (*)








