Ledre, Camilan Khas Bojonegoro yang Berasal dari Komunitas Tionghoa

oleh -97 Dilihat
Ledre, camilan khas Bojonegoro

KabarBaik.co, Bojonegoro – Ledre selama ini dikenal sebagai makanan khas Bojonegoro dan bahkan kerap dijadikan simbol daerah berjuluk Kota Ledre. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa asal-usul camilan manis beraroma pisang ini berkaitan erat dengan komunitas Tionghoa yang pernah bermukim di wilayah tersebut.

Jajanan ledre mulai populer pada dekade 1930-an sebagai produk industri rumahan di Kecamatan Padangan Bojonegoro. Menurut budayawan Bojonegoro A. Wahyu Rizkiawan, jajanan ini pertama kali dibuat di kawasan Pecinan Padangan yang berada di tepi Bengawan Solo.

Ledre diyakini lahir di rumah Ny. Seger sekitar tahun 1929–1930. Ny. Seger merupakan keturunan kedua dari penemu awal Ledre. Kawasan tersebut dulunya mayoritas dihuni pedagang Tionghoa yang menetap di jalur perdagangan sungai.

“Jejak masyarakat Tionghoa di Bojonegoro masih terlihat dalam kuliner dan arsitektur bangunan. Ledre menjadi salah satu bukti keberadaan mereka sejak abad ke-19,” ujar Rizkiawan, Selasa (17/2).

Perajin sedang membuat ledre

Bentuk Gulungan dengan Aroma Pisang Khas

Ledre berbentuk gulungan tipis menyerupai surat kerajaan berukuran kecil. Ledre memiliki tekstur yang halus dengan rasa manis dan aroma pisang raja yang kuat. Secara bentuk, Ledre mirip jajanan emping gulung (gapit), namun teksturnya lebih lembut.

Bahan utama Ledre adalah pisang raja. Meski beberapa jenis pisang lain seperti saba atau pisang hijau bisa digunakan, para pengrajin tetap memilih pisang raja karena aromanya lebih kuat dan dianggap memberi cita rasa mewah.

Pada masa awal pembuatannya, Ledre dibuat dengan bahan sederhana. Adonan mencampurkan gaplek (singkong kering) dan tepung beras dengan pisang sebagai komponen utama.

“Dahulu penggunaan gaplek terjadi karena keterbatasan bahan baku pada masa itu,” Tambah Rizki.

Seiring waktu dan bahan semakin mudah diperoleh, gaplek tidak lagi digunakan. Ledre kemudian berkembang dengan berbagai inovasi rasa seperti cokelat, durian, hingga varian modern lainnya.

” Nama “Ledre” sendiri diyakini berasal dari proses pembuatannya, yakni adonan dituangkan di wajan lalu diratakan dengan gerakan dielet-elet dan diedre-edre,” Jelas Rizki.

Saat ini, produksi Ledre tidak hanya dilakukan warga Padangan. Banyak pengrajin rumahan dari wilayah Tambakrejo dan Purwosari membuat Ledre mentah di rumah, lalu menyetorkannya ke toko-toko besar di Padangan untuk dikemas dan diberi berbagai merek serta varian rasa.

Dari jajanan sederhana hasil racikan dapur rumahan, Ledre kini berkembang menjadi oleh-oleh khas sekaligus ikon kuliner Bojonegoro yang tetap bertahan hingga lintas generasi. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.