Lontong Kerucut Surabaya, Jejak Tradisi yang Kian Tergerus Zaman

oleh -70 Dilihat
Lontong kerucut
Lontong kerucut bukan sekadar makanan pengganjal perut. Ia adalah bagian dari tradisi dari kebiasaan dapur yang diwariskan turun-temurun.

KabarBaik.co, Surabaya – Di tengah riuhnya tren sarapan modern yang serba cepat dan praktis, ada satu kuliner sederhana yang diam-diam mulai tersisih. Lontong kerucut—dengan balutan daun pisang yang dilipat rapi menyerupai tumpeng mini—kini tak lagi mudah ditemukan seperti dulu.

Padahal, bagi sebagian masyarakat, terutama generasi lama, lontong kerucut bukan sekadar makanan pengganjal perut. Ia adalah bagian dari tradisi, dari kebiasaan dapur yang diwariskan turun-temurun.

Di sudut dapur sederhana miliknya, Ami Sanjaya masih setia menjaga cara lama itu. Tangannya cekatan melipat daun pisang, membentuk kerucut kecil sebelum diisi beras dan dikukus berjam-jam hingga matang sempurna.

“Sekarang sudah jarang yang bikin. Padahal ini khas, beda sama lontong biasa,” ujarnya pelan sembari merapikan susunan lontong yang baru matang, Sabtu (11/4).

Berbeda dengan lontong silinder yang lebih umum dijumpai, lontong kerucut memiliki bentuk unik dan ukuran yang lebih mungil. Teknik pembuatannya pun tidak sederhana. Dibutuhkan ketelatenan untuk melipat daun pisang agar rapat dan tidak bocor saat proses pengukusan.

Di situlah letak nilai yang mulai dilupakan. Proses yang memakan waktu dan membutuhkan keterampilan membuat banyak orang beralih ke cara instan, bahkan mengganti daun pisang dengan plastik demi kepraktisan.

Padahal, justru dari daun pisang itulah cita rasa khas lontong kerucut lahir. Aroma alami yang muncul selama proses pengukusan memberi sentuhan rasa yang sulit ditiru.

“Wanginya beda kalau pakai daun pisang. Ada aroma segar yang khas, bikin makan jadi lebih nikmat,” kata Ami.

Tak hanya soal rasa, lontong kerucut juga dikenal ramah di kantong. Dengan harga berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000, makanan ini menjadi pilihan sarapan sederhana bagi pekerja maupun mahasiswa. Praktis, mengenyangkan, dan mudah dipadukan dengan berbagai lauk.
Namun, di balik kelebihan itu, eksistensinya perlahan terancam. Minimnya regenerasi pembuat serta perubahan gaya hidup masyarakat membuat lontong kerucut semakin jarang diproduksi.

Di pasar-pasar tradisional, jumlah penjualnya kian berkurang. Generasi muda cenderung enggan mempelajari teknik pembuatannya yang dianggap rumit dan kurang menguntungkan secara ekonomi.

Padahal, lebih dari sekadar makanan, lontong kerucut menyimpan nilai budaya dan kearifan lokal. Penggunaan daun pisang sebagai pembungkus bukan hanya soal tradisi, tetapi juga mencerminkan praktik ramah lingkungan yang kini justru kembali digaungkan.

Bagi para penikmatnya, ada cara sederhana untuk memastikan kualitas lontong kerucut. Pilih bungkus daun yang tampak layu kecokelatan—tanda telah dikukus sempurna—namun tidak berlendir. Sajikan dengan bumbu kacang kental atau cabai rawit untuk sensasi rasa yang lebih kuat.

Jika tidak langsung disantap, lontong ini masih bisa bertahan hingga sore hari selama disimpan di tempat teduh, jauh dari paparan sinar matahari langsung.

Kini, di tengah gempuran makanan modern, lontong kerucut berdiri sebagai pengingat. Bahwa di balik kesederhanaannya, tersimpan warisan rasa, teknik, dan nilai yang tak ternilai. Dan seperti banyak tradisi lainnya, ia akan tetap hidup—selama masih ada tangan-tangan yang bersedia melipat daun pisang, dan menjaga cerita di dalamnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.