Dilema Pedagang di Masjid Al-Akbar Surabaya saat Idul Adha, Pilih Toron atau Biaya Sekolah Anak?

oleh -108 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 27 at 6.33.39 AM
Para Pedagang Kaki Lima yang berjualan di Masjid Al-Akbar Surabaya (Irma Hari Trisiawardani)

KabarBaik.co, Surabaya – Kawasan sekitar Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) selalu menjadi magnet bagi para pedagang kaki lima (PKL) untuk mengais rezeki. Uniknya, perputaran ekonomi di rumah ibadah megah ini tidak hanya digerakkan oleh warga lokal.

Sekitar 15 persen dari total pedagang yang mangkal di sana justru merupakan perantau dari luar Kota Pahlawan, mulai dari Krian (Sidoarjo), Lamongan, hingga Pulau Madura.

Saat Idul Adha, atmosfer di kalangan para pedagang mulai berubah. Bagi masyarakat Madura, Idul Adha bukan sekadar ritual ibadah, melainkan momentum sakral untuk melakoni tradisi ‘Toron’ atau pulang ke kampung halaman setelah merantau untuk mengais rejeki di Surabaya. Namun, tidak semua perantau bisa menikmati indahnya mudik lebaran kurban tahun ini.

Langkah kaki Endang, 45, salah seorang pedagang di sekitar area masjid, tampak tetap tegap meski guratan lelah tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Perempuan paruh baya ini mengaku terpaksa mengubur rindu untuk toron ke tanah kelahirannya tahun ini.

Faktor ekonomi menjadi ganjalan utama. Momentum Idul Adha kali ini rupanya berbenturan keras dengan tahun ajaran baru sekolah.

“Tahun ini tidak bisa toron. Ndak ada biayanya karena barengan dengan anak yang mau masuk SMP. Jadi uang tabungan yang ada dialihkan dulu untuk bayar biaya masuk sekolah anak,” tutur Endang pasrah saat ditemui di sela-sela aktivitas dagangnya di sekitar MAS, Rabu (27/5).

Bagi Endang, pendidikan sang buah hati jauh lebih mendesak untuk didahului ketimbang ongkos mudik yang tidak sedikit.

Pemandangan kontras justru terlihat pada lapak dagangan milik Lukman, 50. Pria asli Lamongan yang sehari-hari mengais rezeki dengan berjualan soto ayam ini tampak semringah. Berbeda dengan Endang, Lukman memastikan diri akan bertolak kembali ke kampung halamannya esok hari.

Kepulangannya ke Lamongan bukan tanpa alasan. Selain melepas rindu dengan keluarga besar, Lukman sudah dinanti oleh warga kampungnya untuk mengemban amanah penting pada hari raya nanti.

“Baru besok, Mbak, saya pulang kampung. Sekalian di rumah nanti saya jadi panitia pemotongan hewan kurban di kampung,” ujar Lukman dengan logat khasnya yang kental.

Kawasan Masjid Al Akbar Surabaya kini menjadi saksi bisu bagaimana para pejuang nafkah ini merespons datangnya hari raya. Ada yang harus meredam rindu demi masa depan anak, dan ada pula yang bersiap pulang untuk melepas rindu di tanah kelahiran. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.